Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Lika Liku Tesis Master

In Search of Thesis Topic

Salah satu perbedaan antara kuliah di Indonesia dengan waktu saya kuliah di Jepang dulu adalah penentuan topik penelitian skripsi/tesis. Kalau di Jepang, meski kita punya topik sendiri biasanya tetap disesuaikan dengan projek besar penelitian di labnya sensei. Sedangkan di Indo kita diberi kebebasan penuh mau neliti kayak apa dan kayak gimana (tapi urus semuanya sendiri wkwkwk). Ada plus minusnya lah ya semuanya. Jujur saya struggle nyari topik karena beneran belum ada ide mau dibawa kemana arah penelitiannya.

Saya nggak suka statistik dan saya sempet cari data masalah di klinik milik keluarga suami tapi datanya kurang bagus kalau mau dijadikan data masalah tesis. Suatu hari waktu matkul Metode Penelitian dosen saya kalau beliau bosen dengan tema tesis mahasiswa yang gitu-gitu aja. Beliau nanya apa nggak ada yang mau ngangkat tema global? Saya langsung tertarik dan bertanya jenis penelitiannya seperti apa kalau mau bahas kayak global health gitu. Beliau bilang kalau sejak pandemi ini (waktu itu tahun 2021) mahasiswa diijinkan penelitian tesis dengan metode systematic review (SR). Wah menarique sekali apalagi saya merasa kekuatan saya ada di membaca. Saya juga nggak suka ribet-ribet penelitian lapangan karena saya belum punya afiliasi institusi apalagi pas jaman COVID makin susah dapet ijinnya. Selain itu,  SR bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. 

Ide awal waktu itu adalah sistem kesehatan seperti apa yang mendukung life expectancy. Tapi setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing, sepertinya faktor yang lebih berpengaruh ke life expectancy itu adalah lifestyle bukan sistem kesehatan. Akhirnya setelah menggali sana sini saya menemukan data masalahnya di bertambahnya jumlah populasi Lansia Indonesia namun layanan kesehatan khususnya terkait long-term care masih sangat kurang. Singkatnya, judul tesis saya pada akhirnya adalah " Pengembangan Layanan Long-Term Care Terintegrasi bagi Lansia: Studi Systematic Review". 

Series of Exams

Di prodi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK), mahasiswa harus melewati 4 kali ujian untuk lulus. Nggak paham kenapa banyak banget yak huhu. Yang pertama adalah ujian pra proposal yang dilaksanakan pada 4 Desember 2021. Karena masih pandemi COVID, ujian dilakukan secara daring dan sistemnya semua dosen AKK yang bisa hadir akan memberi feedback. Jadi kayak dikeroyok gitu loh. Saya ditanyain apa sanggup melakukan penelitian kualitatif karena saya sendiri belum pernah ngelakuin dan di prodi AKK itu jarang yang ambil kualitatif.  Saya iyain aja asal nggak deket-deket sama statistik wkwk. Meski saya tau saya harus belajar sendiri gimana ngelakuin penelitian kualitatif karena sadly itu nggak diajarin di matkul Metode Penelitian maupun yang lainnya (#kesalahan1 ambil metode yang nggak umum dipakai di prodi).  Ujian kedua adalah ujian / seminar proposal yang dilakukan pada 1 April 2022 secara daring. Ujian inipun kesannya tiba-tiba karena saya disuruh maju tanpa feedback revisi dari dosbing heu. Penguji kali ini ada 5 orang,  yaitu 2 dari dosbing, 2 dosen internal AKK, dan 1 dosen penguji luar. Habis ujian proposal ini puyeng harus ngerevisi kayak gimana karena masukannya banyak banget wkwk. Kayaknya modelannya tuh waktu bimbingan komennya minimal tapi  waktu ujian maksimalπŸ˜‚

Banyak hal terjadi selama 2022. Meski ini terdengarnya cuma excuse tapi jujur masalah-masalah yang ada (utamanya masalah keluarga) affected me alot. I felt somehow demotivated but still I tried to do the research bit by bit. Ikutan webinar/workshop, belajar-belajar sendiri, mikir-mikir sendiri, sampek bingung-bingung sendiri wkwk makanya it took a lot of time. Mau gak mau saya harus mengajukan perpanjangan beasiswa dan alhamdulillahnya dapat durasi maksimal yaitu 6 bulan.

Target di tahun 2023 saya harus lulus eh qadarullah ternyata saya hamil.  Buyar deh semua rencana karena saya tepar dan mabok banget selama kehamilan. Rasanya otak tuh nggak bisa dipake maksimal wkwk. Apalagi saya nggak boleh stress jadi saya ngerjain penelitian “senyaman dan semampu” saya aja. Saya sempet konsul sekali di trisemester 3 karena ngerasa otaknya lebih fit. Saya berharap sebelum lahiran seenggaknya bisa seminar hasil but yeah it just did not work.

Fast forward akhirnya sampai juga di tahun 2024 LoL. Saya udah dapat SP dari kampus (seumur-umur perjalanan akademik baru kali ini πŸ₯²). Tapi ngerjain tesis sambil ngurus new born twinnies cukup challenging ya wkwk. Saya ngerjain dikit-dikit sambil curi-curi waktu, misal waktu mereka tidur atau pas menyusui disambi buka leptop. Alhamdulillah di tanggal 30 Januari 2024 seminar hasil bisa dilaksanakan. Untuk seminar hasil dan ujian tesis akhir nanti jumlah penguji dari eksternal bertambah 1 orang, sehingga total ada 6 penguji. Dan karena pandemi sudah berakhir, ujian dilakukan hybrid karena ada beberapa penguji yang bisanya datang online saja. Dramanya bayi-bayi njerit karena mereka nggak bisa tidur kalau nggak nen bundanya (masuk umur 3 bulan pada nggak mau minum susu dari botol). Anyway, ngerjain revisian selalu rasanya kayak ngerjain semuanya dari awal. Ini sih yang bikin antara satu ujian ke ujian lalu jedanya agak lama. Finally saya bisa ujian akhir tesis di tanggal 20 Mei 2024. Alhamdulillah kali ini bayi-bayi udah lebih gede jadi lebih sabar nungguin bundanya :)

Reflection on Master's Degree Journey

Apa saya menyesal mengambil S2 di Indonesia? Menyesal banget sih enggak juga ya…waktu memutuskan untuk kuliah disini karena prioritas keluarga, saya sudah menurunkan ekspektasi. Tapi nggak nyangka aja molornya lamaa banget hahaha soalnya saya biasanya orang yang nggak suka menunda-nunda dan disiplin. Tapi seninya kuliah di Indonesia itu memang karena ada banyak faktor yang mempengaruhi, nggak hanya dari faktor internal seperti motivasi saja tapi menurut saya lebih banyak ke faktor eskternalnya mulai dari dosen, petugas admin, aturan kampus yang dinamis, dsb. Cuma rasanya kayak ironi gitu dimana pas di Jepang mahasiswa yang dikejar-kejar dosen, disini bener-bener nggak dipeduliin. I began to wonder why I paid for this..tough the answer is obvious: hanya untuk ijazah ☹️  

Apa tujuan S2 saya tercapai? Sejujurnya alasan terbesar saya mau lanjut S2 di Indonesia itu harapannya bisa membuka peluang di dunia akademisi atau setidaknya memperluas networking. Tapi ya kok apesnya pas S2 pandemi COVID melanda, interaksi dengan dosen maupun teman juga sangat terbatas. Yasudah buyarlah semua cita-cita wkwk.  Tentunya nggak semua buruk ya. Sisi positifnya saya belajar ilmu baru, trus kalau disini tuh dituntut bisa ngerjain semuanya sendiri jadi otomatis saya punya skill baru.  Kalau di Jepang kan kerjaan dibagi jadi saya ngerjain bagian saya aja dan gak perlu bisa ngerjain lainnya (makanya skill nya sangat spesifik). 

Anyway, semua sudah terlewati dan alhamdulillah sudah tuntas kewajiban studi saya. Semoga ilmunya bermanfaat dan membuka peluang-peluang yang baik di masa depan aamiinn πŸ€²πŸ»πŸ˜‡


Dokumentasi Tugas Magister (3)


Program Residensi di Puskesmas Ngagel Rejo Surabaya 

Manajemen Bencana Pandemi COVID-19 

COVID-l9 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona baru yang disebut SARS-CoV-2 yarrg pertama kali dideteksi di Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok, pada tanggal 31 Desember 2019. WHO secara resmi mendeklarasikan virus corona (COVID-I9) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Artinya, virus corona ini telah menyebar secara luas dan menginfeksi banyak negara di seluruh dunia. Per tanggal 7 September 2021, tercatat sebanyak 2.494.844 orang di dunia meninggal dunia akibat COVID-I9. Indonesia termasuk salah satu negaru yang terdampak COVID-l9, dengan korban meninggal sebanyak 137.156 orang. Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada sector kesehatan saja, namun juga memukul perekonomian negara karena mobilisasi masyarakat harus dibatasi untuk mencegah penyebaran virus. Saat ini, obat belum ditemukan dan harapan yang ada adalah dengan pemberian vaksin secara massal.

Karena dampaknya yang sangat luar biasa terhadap kehidupan masyarakat dan kondisi negara secara umum, Indonesia secara resmi menetapkan COVID-l9 sebagai bencana nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-Alam Penyebaran CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-I9) Sebagai Bencana Nasional. Dengan dikeluarkannya regulasi ini, pandemi COVID-I9 harus dihadapi dengan konsep manajemen bencana yang baik. Manajemen bencana merupakan serangkaian kegiatan yang dilasanakan dalam rangka usaha pencegahan, mitigasi kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan yang berkaitan dengan kejadian bencana. Manajemen bencana dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kerugian dan risiko yang mungkin terjadi dan mempercepat proses pemulihan pasca bencana itu terjadi.

Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan memiliki peran yang penting dalam penanganan pandemi COVID-l9, utamanya di sektor hulu seperti penguatan edukasi mengenai protokol kesehatan yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, serta aktivitas testing, tracing, dan isolasi. Puskesmas Ngagel Rejo adalah salah satu puskesmas yang terletak di tengah Kota Surabaya dimana penduduknya padat. Puskesmas ini ditunjuk pemerintah Kota Surabaya untuk membuka pelayanan 24 jam selama pandemi dan aktif dalam pengadaan program vaksin.

Untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai manajemen bencana puskesmas dalam menghadapi pandemi COVID-19, diperlukan observasi dan diskusi lebih lanjut dengan pihak puskesmas. Diharapkan mahasiswa peserta residensi dapat mendapat wawasan baru dan menyimpulkan kelebihan dari strategi dan program Puskesmas Ngagel Rejo Surabaya dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Untuk membaca laporan lengkapnya, silakan unduh disini.


Law Ethics in Public Health

Hanya mau mengutip beberapa foto menarik yang ada di slide presentasi seminar APACPH dengan pembicara Dr.Tharani dari Malaya University. Menggelitik sekaligus membuat berpikir. Paling susah memang kalau membahas etik ini, benar atau salah tergantung sudut pandang yang dipakai.












Halal Science


Di semester 2 kemarin, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kuliah tambahan yang diadakan oleh Osaka University. Sebenarnya kegiatan ini merupakan student exchange program dalam rangka ulang tahun ke 90 Osaka University, tapi karena pandemi maka acaranya diadakan serba online. Saya memilih untuk mengikuti course halal science karena menurut saya menarik banget nih, tumben sebuah universitas di Jepang membahas topik "minoritas". Selain itu saya mikirnya pingin belajar hal lain aja yang nggak berhubungan dengan perkuliahan sekarang, apalagi halal ini kan urusan super penting juga sebagai seorang Muslim. Perkuliahan dari Osaka Universitas ini terdiri dari 8 kuliah dan 1 kelas diskusi yang disampaikan oleh dua sensei Jepang plus satu dosen asal Pakistan (kayaknya hehe). Tulisan di bawah adalah rangkuman dari beberapa poin yang saya tulis sebagai bahan laporan selama perkuliahan berlangsung. Semoga bermanfaat ya!


Halal Science atau sains halal , menurut saya, adalah ilmu yang menggabungkan konsep halal dalam Islam dengan dukungan dari ilmu sains sebagai dasar atau landasan dalam mengambil keputusan. Contohnya babi dalam Islam dilarang, padahal turunan dari babi banyak sekali digunakan dalam industri pangan, obat, dan juga kosmetik. Nah bagaimana kita dapat membuktikan atau memastikan bahwa kandungan babi tersebut tidak terdapat dalam objek yang kita tes? Disini diperlukan teknologi sains yang dapat membuktikan kandungannya. Karena itu ketika kita mempelajari halal science, kita tidak hanya belajar ilmu syari dan fiqih tapi juga ilmu sains seperti biokimia, ilmu pangan, kesehatan, bahkan juga social science. 



Cakupan industri halal sangat luas, tidak hanya tentang makanan minuman, tapi juga farmasi, kosmetik, produk kesehatan, pariwisata, teknologi kesehatan, teknologi deteksi, dan sebagainya. Beberapa isu atau tantangan yang dihadapi industri halal dapat dilihat dari beberapa screenshoot materi para sensei di bawah ini.




Salah satu hal menarik yang sempat disebut adalah produksi daging tanpa melalui proses penyembelihan, jadi daging yang dihasilkan merupakan hasil kultur di lab. MasyaAllah, bahkan daging pun sekarang sudah bisa diproduksi di lab kayak kultur bakteri maupun tumbuhan! Saya cukup penasaran sebenarnya apakah umat Islam boleh memakan daging ini meski tanpa proses penyembelihan? Saya nyoba googling dan kayaknya belum ada diskusi tentang ini. Tapi menurut  Quamrul Hasan Sensei, daging lab bisa jadi halal bagi muslim asalkan produksinya tidak menggunakan bahan-bahan yang dilarang dalam Islam.



Lalu disebutkan juga mengenai plant based vaccination factory, atau vaksin yang diperbanyak dengan menggunakan tanaman. Disebutkan bahwa memproduksi vaksin menggunakan tanaman lebih murah dan dapat menyederhanakan proses (nggak perlu ribet-ribet bikin kultur atau fermentasi yang mungkin terkontaminasi produk tidak halal) dibandingkan dengan produksi vaksin tradisional. 

Kalau mau baca lebih detil lagi bisa mengunjungi web ini

Selain itu dibahas juga mengenai alat pendeteksi seperti biosensor untuk mendeteksi bahan-bahan haram di suatu produk. Di perkuliahan salah satu sensei menjelaskan berbagai macam teknologi deteksi dari yang mulai sederhana seperti deteksi kit yang sangat mudah digunakan sampai teknik PCR yang susah.Menurut saya ketersediaan teknologi terkini untuk mendukung industri halal dan juga orang-orang yang ahli di bidang ini sangat dibutuhkan di Indonesia. Indonesia perlu mulai membuka jurusan ilmu halal di perguruan tinggi untuk menciptakan generasi muda yang berilmu dan mampu di bidang industri halal misalnya dengan menjadi asesor halal atau ahli di bidang teknologi halal. Kita bisa mencontoh Malaysia yang sudah memiliki jurusan halal science di perguruan tinggi. (update: saya barusan cek di google ternyata pada tahun 2020 IAIN Salatiga katanya mau buka jurusan halal science). Karena selama kita tidak dapat berinovasi di bidang halal sendiri, maka selamanya kita akan menjadi konsumen saja, tidak akan pernah menjadi leader di bidang ini. Lucu kan kalau yang nemuin teknologi mesti negara-negara dengan minoritas Islam,padahal yang butuh kita umat Muslim sendiri. Selain isu teknologi ini, isu lain yang perlu kita pikirkan adalah menemukan alternatif bahan halal yang dapat menggantikan bahan-bahan yang mungkin haram yang masih banyak ditemukan dalam proses produksi suatu produk.  Hasan Sensei menyebutkan bahwa Jepang sedang mengembangkan bahan yang berpotensi menggantikan bahan haram seperti sisik ikan untuk gelatin dan bahan HPMC dari tumbuhan untuk kapsul obat. Saya percaya sebenernya Indonesia punya banyak sumber daya potensial, tapi masalahnya apakah ada riset-riset yang memang mendalami isu ini.






Terus ada hal yang bikin saya penasaran banget. Waktu kuliah Hasan Sensei nunjukin beberapa slide yang berisi perbandingan standar kadar alkohol yang diperbolehkan di jenis produk tertentu  di beberapa negara. Kenapa tiap negara memiliki standar yang berbeda ya ketika menentukan kandungan alkohol yang diizinkan dalam produk? Apakah tidak ada standar atau acuan apa yang digunakan untuk menentukannya atau memang tergantung interpretasinya...? 


    


Dikatakan dalam kuliah tersebut bahwa pada tahun 2050 Muslim akan menjadi 30% dari populasi dunia dan ada 62% dari populasi Muslim di Asia Tenggara dan Asia sendiri. Sungguh jumlah yang sangat besar dan dapat menjadi pasar potensial yang baik bagi industri halal Namun, dalam kuliah tersebut ditunjukkan bahwa populasi Muslim yang besar tidak sebanding dengan daya beli yang tinggi karena berdasarkan data yang diberikan 10 negara dengan pembelian tertinggi berasal dari negara-negara Timur Tengah kemudian diikuti oleh Rusia, Prancis, dan AS. 


Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2019 yang diproduksi oleh DinarStandard.1,8 miliar konsumen Muslim dunia menghabiskan sekitar US$2,2 triliun pada 2018 di berbagai sektor ekonomi halal dan diproyeksikan bernilai US$3,2 triliun pada 2024. Indonesia sendiri  menempati urutan pertama pengeluaran makanan halal terbanyak, yakni sebesar 173 miliar dolar AS pada 2018. Namun, Indonesia tidak masuk dalam lima besar negara dengan ekspor terbanyak ke anggota Organisasi Kerjasama Islam, dengan urutan teratas. lima adalah Brasil, Australia, Sudan, Bangladesh dan Turki. Data-data ini menunjukkan bahwa ada gap, antara potensi yang dimiliki umat Islam dengan kondisi real di lapangan. Hal ini juga semakin menegaskan bahwa kita masih sebatas konsumen saja, bukan produsen di insutri halal yang potensinya luar biasa besar.

Yang terakhir yang mau saya bahas adalah sebaiknya sertifikasi halal difasilitasi baik dari segi proses administrasi maupun biaya sehingga pelaku usaha baik dalam negeri maupun luar negeri dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhan pasar akan produk halal. Saya mendengar bahwa banyak bisnis memilih untuk tidak mengurus sertifikat halal mereka karena biaya tinggi. Menurut saya pribadi, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memastikan semua produk yang dikonsumsi masyarakat halal dan seharusnya pemerintah tidak memungut biaya apapun untuk proses tersebut.


 


Dokumentasi Tugas Magister (2)



1. Seminar Kebijakan dan Hukum Kesehatan (Policy Review)

Perubahan iklim adalah peningkatan gas rumah kaca yang berlebihan telah menimbulkan terjadinya perubahan iklim global yang dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup dan berdampak terhadap kesehatan manusia.

Permenkes Nomor 1018/Menkes/Per/V/2011 tentang Strategi Adaptasi Sektor Kesehatan Terhadap Dampak Perubahan Iklim ditetapkan pada tanggal 27 Mei 2011, terdiri dari 11 pasal beserta lampiran pokok kegiatan strategi adaptasi sektor kesehatan terhadap dampak perubahan iklim dan indikator keberhasilan. Dengan disusunnya strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dapat melakukan penyesuaian secara spontan atau terencana untuk memberikan reaksi terhadap perubahan iklim yang diprediksi atau yang sudah terjadi.

Permenkes Nomor 1018/Menkes/Per/V/2011 memiliki kelebihan dan kekurangan.  Dengan melakukan review kebijakan terhadap permenkes ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi sehingga ada perbaikan di masa depan.

Untuk membaca lengkap silakan download disini

2. Manajemen Perencanaan dan Evaluasi 

    Puskesmas Pucang Sewu merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang ada di kota Surabaya yang memberikan layanan preventif dan promotif. Puskesmas Pucang Sewu melayani beberapa kelurahan seperti Kertajaya, Pucang Sewu dan Baratajaya. Kebanyakan ibu hamil lebih rutin memeriksakan kehamilannya namun sering mengabaikan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Tidak semua ibu hamil bersedia datang ke poli gigi meskipun telah dirujuk oleh poli KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Penelitian tentang keadaan gingiva pada ibu hamil belum pernah dilakukan di Puskesmas Pucang Sewu.

    Suatu masalah tidak akan terselesaikan apabila tidak ditindaklanjuti dengan tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam menyelesaikan masalah, perlu diidentifikasi terlebih dahulu penyebab dari masalah agar dapat menentukan tindakan apa yang tepat. Setelah diketahui penyebab dari suaatu masalah, maka diperlukan rencana kegiatan yang akan dilakukan. Menurut Terry (1960), istilah perencanaan (planning) dikenal sebagai salah satu fungsi manajemen, disamping fungsi lain seperti pengorganisasian (organizing), penggerakkan (actuating), dan pengawasan (controlling). Bahkan, perencanaan merupakan fungsi yang pertama dan utama dalam setiap aktivitas manajemen. Di dalam perencanaan, terkandung rumusan mengenai tujuan-tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, pendayagunaan segenap sumber daya, baik manusia maupun materiil (human and material resources) serta waktu (time). Sebagai fungsi utama, maka seluruh kegiatan manajemen tidak akan terlepas dari perencanaan. Keberhasilan aktivitas organisasi ditentukan oleh bagaimana perencanaan itu disusun.

    Berdasarkan latar belakang di atas, masalah tingginya prevalensi gingivitis pada ibu hamil di Puskesmas Pucang Sewu harus mendapat perhatian lebih dari pemegang kebijakan, dengan disusunnya perencanaan yang baik untuk menyelesaikan masalah tersebut diharapkan dapat menurunkan prevalensi gingivitis pada ibu hamil di Puskesmas Pucang Sewu yang keberhasilan program ini bisa menjadi percontohan untuk Puskesmas lain di Surabaya.

Untuk membaca lengkap silakan download disini


Kenapa S2 di Indonesia?


S1 nya di Jepang kok habis itu nerusin S2 nya disini?

Kenapa nggak nerusin langsung disana aja? 

Ngapain S2 disini apa nggak sayang? 

dst...

adalah beberapa pertanyaan yang sering saya dengar dari orang-orang. Makanya kadang tuh saya males njawab pertanyaan sekarang kuliah dimana karena selalu ujung-ujungnya dikomentarin kayak gini. Yang nanya nggak salah sih, tapi saya juga punya hak untuk nggak mau njelasin kan ya😏. Jadi saya seringnya bilang "wah ceritanya panjang", beres deh wkwkwk.

Kalau mau ngomongin kondisi ideal ya, planning saya juga nggak langsung pulang habis dari Jepang. Rencana saya waktu itu adalah pingin ngelanjutin S2 di UK dan saya udah gooling macem-macem tuh untuk persiapan S2 sejak kuliah S1. Tapi, qadarullah kondisi saya nggak memungkinkan waktu itu dan keputusan terbaik yang bisa saya ambil adalah pulang dulu coba nyari kerja di Indonesia. Setelah beberapa bulan di rumah dan job hunting, culture shock itu jelas ada dan mama saya nyaranin mending saya nyari beasiswa S2 aja diluar daripada saya stres disini. πŸ˜… Kalau temen-temen baca tulisan saya sebelumnya di blog ini pasti sudah tau kalau saya sudah dapet LoA di University of Sydney tapi sayangnya saya nggak berhasil dapat beasiswa apapun sehingga dengan berat hati saya harus melepas LoA tersebut. 

Eh ternyata rejeki saya malah dapat suami hehe dan setelah itu alhamdulillah sempet kerja lagi di konsulat. Namun memang dari lubuk hati itu masih kepingin buat kuliah S2. Karena suami juga dapet kuliah spesialis di Unair, akhirnya saya putusin buat daftar LPDP tujuan ke Unair juga biar sekalian bareng gitu. Karena prinsip saya juga yang nggak mau LDRan, makanya pilihan kuliah di luar negeri udah saya coret. Saya sih nggak nyesel ya karena saya percaya rejeki itu memang sudah diatur Allah dan kalau saya sekarang S2 disini bukan berarti kesempatan buat menuntut ilmu di luar akan tertutup. Siapa yang tau masa depan kayak gimana? Selain pertimbangan keluarga saya juga pingin nambah network, biar kenalannya nggak hanya yang berkaitan dengan kejepang-kejepangan aja hehe, dan biar lebih paham medan plus masalah real disini tuh kayak gimana. Nah kok kebetulan ya pas tahun 2020 itu pandemi, jadi kalau mau kuliah di luar juga agak ribet (banyak temen yang mau kuliah di LN harus menunda dan persyaratan pun makin ribet) jadi saya yakin ya udah ini nasib dan keputusan terbaik dari Allah buat saya. 

Menurut saya, idealnya kalau S1 nya diluar jangan pulang sekalian hehe. Kayaknya emang lebih enak langsung berkarir di luar gitu (ngeliat temen-temen dan berdasarkan pengalaman pribadi). Kalau jangka panjangnya emang mau berkarir di Indonesia, S1 disini dulu terus baru S2 atau S3 di luar negeri mungkin pilihan yang lebih pas karena saat pulang nanti seenggaknya sudah punya afiliasi jadi nggak bingung kerjaan dan network disini juga sudah terbentuk. Karena saya ngerasain sendiri kekurangan waktu pulang ke Indonesia itu kurangnya kenalan dan juga nggak tau apa-apa tentang dunia real disini. Sampai sekarang pun saya juga masih berusaha beradaptasi dan membangun network sedikit demi sedikit. Bismillah slow but sure...

Life is full of unexpected things jadi go with the flow aja.  Nggak ada yang salah dan bener, yang namanya ideal itu tergantung kebutuhan dan keadaan plus semua pasti ada resikonya masing-masing. Kita punya rencana tapi balik lagi semua keputusan ada di tangan Allah.  

Dokumentasi Tugas Magister



Seperti dulu saat saya kuliah S1, saya ingin membagi sedikit hasil tulisan saya selama kuliah S1 di Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Beberapa tulisan ini merupakan tugas di beberapa matkul semester 1 kemarin. Saya berharap dengan membagi tulisan ini bisa sedikit bermanfaat bagi pembaca yang mencari referensi terkait topik yang saya tulis.

1. Rekomendasi Sistem Rujukan di Masa Pandemi Covid 19

Dalam situasi pandemi COVID-19 saat ini, penggunaan SISRUTE harus dioptimalkan dalam mengatur rujukan pasien COVID-19. Jawa Timur sendiri mengembangkan aplikasi sistem rujukan satu pintu atau One Gate Referral System untuk memudahkan layanan penempatan pasien Covid-19 di 99 RS rujukan COVID-19. Namun agar tidak terjadi tumpang tindih aplikasi yang berbeda, sebaiknya SISRUTE ini yang dipakai seperti halnya yang dilakukan pemprov lain. Peran FKTP juga harus dioptimalkan sebagai screening awal pasien COVID-19 sebelum dirujuk ke FKTL di atasnya agar tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit tersier. FKTP diharapkan dapat melakukan triage pasien ODP/OTG/PDP/Confirm COVID-19, melakukan penatalaksanaan dan tindakan sesuai kompetensi, melakukan rujukan ke FKRTL RS sesuai kriteria rujukan, serta aktif berkoordinasi dengan dinkes setempat. Selain itu, fitur komunikasi dan konsultasi jarak jauh atau telemedicine sebaiknya diutamakan dalam masa pandemi. Hal ini untuk mengurangi kontak langsung antara nakes dengan pasien namun tidak mengurangi kualitas pelayanan. Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Yankes Nomor YR. 03/03/III/III8/2020 yangsalah satu isinya menyatakan untuk mengutamakan telemedicine dalam pemberian layanan kesehatan atau mengembangkan sistem aplikasi berbasis online lainnya.

Untuk membaca lengkap silakan download disini.

2. ANALISIS GAMBARAN LEARNING ORGANIZATION DI KLINIK NURANI SUKODONO

Klinik Nurani Sukodono adalah klinik faskes rujukan tingkat pertama yang dibangun pada tahun 2010 dan melayani pasien BPJS maupun umum. Dari tahun ke tahun, tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang prima meningkat. Klinik Nurani Sukodono harus peka pada perubahan yang ada agar eksistensi klinik dapat terjaga dan terus berkembang dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik. Learning organization atau organisasi pembelajar merupakan salah satu konsep yang bagus dimana organisasi secara terus menerus melakukan proses pembelajaran agar organisasi tersebut memiliki kecepatan berpikir dan bertindak serta pengembangan pengetahuan sehingga dapat merespon beragam perubahan yang muncul.Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui gambaran umum mengenai learning organization di Klinik Nurani Sukodono. Berdasarkan 64 hasil ulasan Google, 28% responden memberikan rating 1 atau sangat buruk. Selain itu, beberapa keluhan yang ditulis di ulasan Google terus berulang dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum Klinik Nurani Sukodono belum menerapkan learning organization karena organisasi ini belum belajar dari kesalahan sebelumnya. Jika Klinik Nurani Sukodono dapat menjadi organisasi pembelajar, diharapkan klinik dapat melakukan pembelajaran berkesinambungan untuk dapat mengantisipasi perubahan yang ada serta melakukan pelayanan dengan prima sehingga keluhan pelanggan tidak terulang dari tahun ke tahun.

Untuk membaca lengkap silakan download disini.

3. ROLE PLAY TRAINING DALAM MENINGKATKAN COMMUNICATION SKILL  SEBAGAI UPAYA MENGURANGI KELUHAN PASIEN DI KLINIK NURANI SUKODONO

Behavior modeling training atau behaviorally experienced training cocok diterapkan dalam hal mengurangi keluhan pasien akibat sikap sumber daya manusia di Klinik Nurani Sukodono karena tujuan utama dari metode training ini adalah mengubah sikap kerja. Menurut Dessler (2003) ada beberapa macam bentuk behaviorally experienced training, yaitu role playing, business games, sensitivity training, diversity training, in-basket exercises, dan case studies. Role playing atau bermain peran dan sensitivity training dapat meningkatkan skill interpersonal seseorang sehingga cocok sebagai salah satu solusi dalam menangani masalah dalam penelitian kali ini. Bermain peran adalah metode training di mana peserta diminta untuk menanggapi masalah spesifik yang mungkin mereka hadapi dalam pekerjaan mereka dengan memerankan situasi dunia nyata. Bermain peran sering digunakan untuk mengajarkan keterampilan seperti mengelola tindakan disipliner, wawancara, penanganan keluhan, melakukan tinjauan penilaian kinerja, pemecahan masalah tim, komunikasi yang efektif, dan analisis gaya kepemimpinan. Aktivitas bermain peran yang berhasil terjadi jika aktivitas tersebut benar-benar mencerminkan situasi kehidupan nyata. Metode pelatihan ini ini juga telah berhasil digunakan untuk mengajari pekerja bagaimana menghadapi individu yang marah, kesal, atau di luar kendali. (Mondy dan Martocchio, 2016). Bermain peran mengandung sejumlah aspek yang menurut laporan para profesional kesehatan sangat berguna yaitu kebutuhan untuk berpikir secara langsung dalam waktu nyata seperti dalam interaksi aktual dengan pasien, kemampuan untuk menerima umpan balik pada simulasi, dan kemampuan untuk memperhatikan serta merefleksikan bagaimana orang lain melakukan pendekatan tugas simulasi yang sama dalam waktu nyata (Pilnick, 2018).



4. PERSPEKTIF KNOWLEDGE MANAGEMENT DALAM PENERAPAN TELEMEDICINE DI ORGANISASI PELAYANAN KESEHATAN
Makalah ini berisi telaah review mengenai penerapan telemedicine di organisasi pelayanan kesehatan dilihat dari sudut pandang knowledge management. Telemedicine dapat memfasilitasi (mediator) terbentuknya knowledge management seperti explicit/tacit knowledge melalui knowledge transfer/sharing, knowledge discovery, knowledge creation, knowledge exploration/exploitation, yang nantinya dapat dikembangkan menjadi organizational learning sehingga knowledge tersebut dapat bermanfaat bagi organisasi pelayanan kesehatan. Telemedicine mungkin memang tidak dapat menjadi solusi dari seluruh masalah layanan kesehatan yang ada selama pandemi saat ini, namun keberadaannya dapat menjadi salah satu solusi dalam hal knowledge management di bidang pelayanan kesehatan. Karena telemedicine dapat membantu tersalurkannya explicit maupun tacit knowledge antar profesional kesehatan sehingga dapat membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi dan dapat memberikan pengetahuan yang sesuai kepada pasien sehingga tercipta e-knowledge.


New Chapter in Life : Menjadi Mahasiswi Magister di Universitas Airlangga

Setelah urusan LPDP beres, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah hunting LoA. Tapi karena pilihanku cuma 1, meski boleh pilih 3 waktu daftar LPDP, yaudah aku fokus aja daftar jurusan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) di Universitas Airlangga alias Unair. Sejak Februari tuh udah nungguin karena biasanya pendaftaran itu dibuka dari bulan Februari-Maret tapi waktu itu nelat nggak buka-buka. Rumornya mungkin karena ada pergantian rektor. Akhirnya awal Maret ada pengumuman pembukaan pendaftaran dan aku langsung gas ngelengkapin semua berkas yang disyaratkan. Eh tapi ternyata Maret itu kan awal mula pandemi di Indonesia ya. Alhasil, semua jadwal itu berubah dengan sangat dinamis wkwkwk sampek akhirnya aku baru ujian masuk itu di awal Agustus. 


Setelah ujian pun, peserta nggak dikasih kejelasan kapan pengumuman dsb jadi posisiku waktu itu kayak nggantung menunggu kabar yang entah kapan akan datang. Di akhir Agustus alhamdulillah akhirnya pengumuman penerimaan maba semester ganjil keluar dan hasilnya aku diterima. Namun, setelah itu yang terjadi adalah rentetan drama hahaha....*lebay πŸ˜† Pengumuman waktu itu kan hari Jumat, sedangkan maba diwajibkan melunasi semua pembayaran hari Senin. Shock banget nggak sih baca pengumuman itu? Kan sebagai awardee aku butuh waktu buat ngurus-ngurus adminstrasi supaya uangnya bisa cair. Mana waktu itu udah hari Jumat dan besoknya weekend, jadi kayak nggak mungkin kan urusan admin bisa selesai. Untungnya, ada temen 1 PK yang juga diterima di Unair dan dia ngasih info grup yang isinya awardee LPDP. Bersyukur banget lurahnya (penanggung jawab LPDP di wilayah tertentu) sangat proaktif dan solutif sehingga dalam waktu 2 hari yang notabene weekend, surat-surat penting untuk pencairan dana beasiswa bisa selesai! Tapi ya 2 hari itu aku diribetin banget harus ngelengkapin berkas ini itu. Anyway pokoknya alhamdulillah pas hari Senin daftar ulang beres dan biaya pendidikan sudah dianggap lunas oleh kampus jadi aku udah resmi sebagai maba. Selanjutnya, aku dibingungkan dengan prosedur KRS soalnya tiba-tiba dapet info kalo deadline nya KRS itu hari Selasa atau Rabu gitu. Aku agak panik karena bener-bener nggak ngerti harus ngapain wkwk. Akhirnya setelah kontak sana sini nemu kontak admin jurusan AKK dan grup WA maba AKK. Dari situ, aku dibikin lebih shock lagi gara-gara adminnya bilang kalo aku itu sendirian di peminatan Manajemen Kesehatan! Seriusan aku kuliah cuma seorang diri?? Katanya harusnya itu ada 2 orang lagi di peminatan yang sama tapi mereka nggak daftar ulang karena beasiswanya nggak jadi turun. Sedangkan, suatu peminatan butuh minim 3 orang supaya bisa buka dan berjalan normal. Wah agak gila sih emang gara-gara Covid19 yang harusnya biasanya 1 jurusan AKK itu 75 orang dan tiap peminatan setidaknya ada lebih dari 10 orang, tahun ini sejurusan cuma 27 mahasiswa aja! Keputusan dari KPS aku disuruh milih peminatan lain wkwk ya ampun bisa ya kejadian kayak gini. Akhirnya aku milih peminatan Manajemen Pelayanan Kesehatan yang isinya ternyata juga cuma 4 mahasiswa termasuk aku haha. Masya Allah berasa kursus, bukan kuliah. πŸ˜…




Seminggu setelah pengumuman, diadakan pelantikan maba secara online. Berdasar keputusan rektor juga semua perkuliahan akan online sampek Januari 2021. Setelah pelantikan, perkuliahan langsung dimulai dan banyak sekali orientasi dan seminar di awal-awal,seperti pelatihan penulisan paper, "outbond virtual", dan matrikulasi yang jadwalnya numpuk sama jadwal kuliah reguler. Kuliah S2 AKK hanya dari Kamis sampai Sabtu dan matkul semester ini cuma ada 6 jadi total aku ambil 12 SKS. Tugasnya biasanya disuruh bikin makalah, presentasi materi, quiz, dan juga review paper. Karena mahasiswanya kebanyakan dari golongan profesional seperti manajer di RS, menurutku kuliahnya lebih bersifat praktis dan tugasnya jadi nggak terlalu banyak. Jujur aja, aku bisa lebih enjoy kuliah magister ini soalnya ngerasa nggak terlalu teoritis dan ilmunya menurutku bisa dimanfaatkan dimana aja, meski khususnya di bidang kesehatan seperti untuk mengelola RS,klinik,puskesmas,atau dinkes. 

Kalo ditanya kesanku gimana kuliah di Indonesia, pastinya aku ada culture shock juga tapi so far masih oke lah hehe. Budaya dosen minta ganti jadwal, informasi yang nggak komprehensif jadinya sering bikin bingung, budaya "gotong royong", dan budaya yang super fleksibel alias semua bisa diatur mungkin yang bikin aku harus adaptasi lebih. Dosen-dosen di AKK sendiri menurutku enak kok dan kerasa kekeluargaan sekali di jurusan ini alhamdulillah. Jumlah mahasiswa yang sedikit nggak jadi masalah sih soalnya pas di Jepang dulu kebetulan aku di program internasional yang jumlah mahasiswanya juga super sedikit. Kalo dari segi beban rasanya jauuuh banget sama beban waktu kuliah S1 dulu haha. Aku nggak ngomong jurusan yang sekarang itu gampang, tapi memang kalo jurusan sains itu demanding banget. Tapi kalo di Jepang dulu penulisan paper dan peneitian itu kan tanggung jawab bersama ya, maksudnya ngerjainnya pasti bareng sensei dan senior di lab, sedangkan disini target minim harus bisa publish 1 paper itu jadi tanggung jawab pribadi. Mungkin keluhan lainnya adalah mata lelah akibat screen time yang terlalu lama gara-gara online learning ini.

Aku percaya masih banyak hal yang harus dan bisa aku pelajari. Semoga studi magister kali ini lancar membawa berkah dan aku bisa bener-bener manfaatin untuk perkembangan personal maupun karir ke depannya aamiin! Dan semoga pandemi ini cepet berlalu ya biar aku ada kesempatan untuk konferensi/presentasi/studi banding ke LN hihi... 😝 

 


Persiapan Keberangkatan LPDP Angkatan 159 (Part 2)

Setelah sebelumnya saya bercerita mengenai pengalaman teknis mengikuti PK Angkatan 159,  di postingan kali ini saya ingin berbagi sedikit informasi dan ilmu yang saya dapat dari materi yang diberikan oleh pihak LPDP.

Bersama member grup Wakatobi

Hari pertama ada 4 materi yang disampaikan dan semuanya diisi oleh perwakilan dari pihak LPDP. Awalnya PIC PK LPDP Mas Rafi yang memberikan informasi general mengenai perkembangan LPDP dari awal hingga sekarang. Beberapa poin yang disampaikan beliau antara lain:
  • LPDP ini meskipun di bawah Kementrian Keuangan, tapi ternyata donasinya berasal dari 9 kementrian. 
  • Pelamar LPDP sekitar 24 ribu (tiap tahun mungkin ya, maaf nggak ada keterangnnya di catatan saya) sedangkan LPDP target kuota awardee adalah 5-6 ribu tiap tahunnya namun hingga kini kuotanya belum pernah terpenuhi. Jadi yang lolos itu memang yang memenuhi kriteria LPDP, bukan hanya sebatas pemenuhan kuota.
  • Kalau sudah lulus tes SBK-nya LPDP kemarin bisa dibilang lulus tes CPNS (bahkan dengan grade yang lebih tinggi dikit).
  • Pewawancara saat wawancara I terdri dari akademisi, praktisi, dan psikolog. Sedangkan untuk wawancara II (kebangsaan) Mas Rafi bilang rahasia hehe. Pewawancara sendiri juga merupakan hasil seleksi dari para ahli. Total ada 200 pewawancara yang diterima dari sekitar 900 pelamar. 
  • Dengan menyekolahkan 1 orang, diharapkan 1 orang ini dapat menjadi pemberi solusi bagi ribuan orang lain di Indonesia. (beban euy πŸ˜†)
Setelah itu materi dilanjut oleh Bapak Rionald selaku Dirut LPDP. Menurut Pak Rionald, awalnya LPDP hanya membuka beasiswa reguler untuk master dan doktor saja. Namun berdasarkan evaluasi, hal ini hanya menyasar orang-orang yang punya akses saja. Akhirnya dikembangkanlah beasiswa LPDP seperti sekarang ini yang memiliki banyak berbagai macam jenis seperti beasiswa santri, disabilitas, dll supaya lebih adil. Pak Rionald selanjutnya lebih banyak memberikan wejangan buat kita sih, antara lain:
  • Putra dan putri daerah sebaiknya setelah studi kembali ke daerah masing-masing.
  • Jangan sampai foreigner jadi pioneer di negeri ini.
  • Keberlangsungan LPDP tergantung dari alumni.
  • Networking sangat penting.
  • Kontribusi itu nggak perlu dari sesuatu yang besar, hal kecil tapi bermanfaat untuk orang lain itu juga sudah bagus karena hal-hal besar dimulai dari hal kecil.
  • Jangan jadikan pengetahuanmu menghalangi dirimu berbuat baik.
  • Define on what we do, not what we have.
  • Awardee berhutang pada negara dan masyarakat (tuh diulang lagi wkwkwk beraaatt).
Pembicara ketiga adalah Bapak Lukmanul Hakim yang merupakan Kepala Divisi Keuangan LPDP. Sesuai dengan posisinya, beliau lebih banyak menerangkan tentang hal teknis bagaimana uang beasiswa bisa cair. LPDP menurut saya sangat dermawan ya dalam memberi beasiswa, bahkan jika dibandingkan dengan beasiswa dari negara lain. Item yang dicover meliputi uang pendaftaran, SPP (tidak ada batas maksimal untuk nominalnya), visa, transport 1x PP, dana kedatangan/settlement allowance yang besarnya 2x uang bulanan, uang bulanan (yang surprisingly dikit buat yang DN hehe), uang buku sebesar 10 juta/tahun, asuransi kesehatan (BPJS kelas 1),  tunjangan keluarga (shock akutu untuk S2 sudah ditiadakan karena banyak fraud huhu, untuk S3 baru bisa diklaim setelah 1 tahun masa studi), dan dana lainnya seperti dana darurat, dana untuk lomba/konferensi internasional, serta insentif untuk yang bisa lulus lebih dulu. 

Sesi hari itu ditutup oleh Ibu Ratna Prabandari selaku Kepala Divisi Pelayanan Beasiswa LPDP. Isinya juga lebih ke arah teknis ya seperti dalam 18 bulan awardee harus dapat LoA (bagi yang belum) kalau nggak bisa maka akan gugur secara otomatis, defer boleh asal ada alasan yang kuat, kalau cuti karena misalkan hamil atau melahirkan boleh-boleh aja tapi kalau telat dari masa studi yang ditulis di LoA maka sisanya harus ditanggung sendiri, kalau dapat dana bantuan tesis/disertasi  maka nggak boleh ambil grant lain, bisa dapat dana bantuan seminar internasional asalkan awardee datang sebagai speaker, dan akan diberikan insentif bila papernya masuk di jurnal internasional. Bu Ratna juga memberi beberapa pesan bahwa indikator evaluasi yang diberlakukan LPDP adalah salah satunya harus aktif kegiatan di luar studi atau di luar kampus. Jadi jangan belajar aja hehe. Selain itu awardee juga harus bisa mengantisipasi culture shock dari dunia kerja kembali lagi ke dunia kuliah. Ingat, S2/S3 ini mindset nya pastinya beda sama S1. Perhatikan juga mental health masing-masing dan segera konsultasikan jika merasa ada masalah. Yang terakhir, jangan malu nanya kalau memang nggak tau!

Serius mengerjakan laporan πŸ˜›

Di hari kedua, kami kedatangan Bapak Andrea Senjaya yang merupakan CEO iGrow jadi udah bisa ditebak kalau temanya tentang kewirausahaan. Ada beberapa poin penting yang disampaikan beliau yang bisa jadi buat pelajaran kita :
  • Membuat produk itu bukan hanya untuk mendapat uang, tapi harus ada value agar bemanfaat untuk memberi solusi bagi masalah orang lain. 
  • Semakin besar masalah, peluang bisnisnya pun makin besar dan dirasakan banyak orang. Jadi tawarkan solusi yang powerful.
  • Proses membutuhkan kesabaran dan waktu.
  • Fokus pada tujuan → berpikir cerdas → coba eksekusi dengan metode berbeda
  • Company (execute) → cari untung 
  • Startup (search) → bisnis model yang repeatable dan scalable 
  • Sinergi untuk kolaborasi skill dan kompetensi 
  • Selalu ada jerih payah orang-orang di sekitar kita di balik kesuksesan kita. 
 Selanjutnya ada Bapak Adnan Pandu Praja yang merupakan mantan Komisioner KPK periode 2011-2015. Dari beliau saya baru tau kalau karyawan KPK baru itu harus dilatih dulu sama kopassus. Serem juga hehe. Dalam sesi ini banyak diskusi aja sih terkait praktek dan kasus hukum yang ada di Indonesia.

Pembicara terakhir pada hari kedua cukup spesial dan kita harus nunggu kedatangan beliau agak lama hehe. Beliau adalah Gubernur Jawa Tengah yaitu Bapak Ganjar Pranowo. Ternyata fans nya banyak juga wkwk apalagi emang bapaknya ganteng banget plus punya badan bagus πŸ˜› Hmm di catatan saya nggak banyak ya karena memang lebih ke diskusi serta sharing pengalaman isinya. Beliau menyampaikan bahwa tantangan Indonesia saat ini adalah karakter & moral, bonus demografi, SDM yang banyak, serta revolusi industri 4.0 Tantangan di atas juga merupakan resource kita sebenernya. Bangsa Indonesia nggak cukup bergerak maju, harus melompat untuk mengejar ketertinggalan. Dan kita juga harus mengikuti zaman di mana kita hidup. Pesan Pak Ganjar yang lainnya adalah prinsip Bangsa Indonesia itu jangan pernah disamakan tapi disatukan karena kita memang berbeda-beda. 


Ganjar Pranowo PK LPDP 2020
Bersama seluruh member PK-159 dan Pak Ganjar

Pada hari ketiga, pematerinya menarik-menarik nih yang dateng. Terutama di pagi hari ada Ibu Amalia Maulana yang merupakan Etnomark Consultant di bidang branding. Topiknya mengenai "Membangun Citra Dini yang Cemerlang Sejak Dini" sangat menarik perhatian saya karena personal branding ini isu terkini yang saya belum pernah belajar sebelumnya. Beliau banyak menekankan bahwa branding tidak sama dengan pencitraan dan bukan sekedar untuk popularitas. Branding itu menjelaskan value yang dimiliki. Strong brand itu didefinisikan kalau ia relevant, consistent, dan distinctive. Kalau terlalu general nantinya brand itu replaceable alias gampang diganti dengan brand lain.
Awalnya, kami diminta untuk menuliskan siapa diri  kami dalam 1 kalimat. Wah ternyata susah banget lho gimana bikin deskripsi yang bener-bener unik untuk diri kita sendiri. Ibu Amalia menawarkan untuk mengoreksi hasil tulisan kami by email karena kalau di sesi itu saja pasti nggak bakal cukup waktunya. Nah saya sempet email beliau nih habisnya PK untuk minta dikoreksi. Ternyata deskripsi diri saya masih bias katanya masih perlu diperbaiki. Hmm sampai sekarang saya masih bingung harus nulis bagaimana hahaha. Tipsnya kita harus riset diri kita lalu bandingkan dengan yang udah ada di "pasaran". Mungkin kalau ada waktu nanti saya coba pikirkan lagi hehe. Oke mari kembali ke materi beliau ya. Personal branding kita bakal "laku" kalau kita bisa menangkap kebutuhan masyarakat yang belum ditawarkan pasar. Tips dari beliau ada keywords yang bisa dipakai contohnya satu-satunya di Indonesia (skalanya dijelaskan dengan jelas). Selain itu karena sekarang zaman teknologi, kita juga harus manage our online presence alias brand kita itu searchable. Coba deh sekarang kamu ketik namamu di google, hasil apa yang bakal muncul?
Misalkan kita sudah membuat personal branding nih, selanjutnya kita harus mengedukasi pasar agar dikenal misalkan dengan membuat perusahaan, menulis buku, dll. Proses selanjutnya adalah "moment of truth" yaitu saat pertemuan apakah brand yang kita buat sesuai atau tidak dengan ekspektasi konsumen. Nantinya bakal ada yang namanya mismatch, yaitu your views vs their views. Dari sini kita bisa melakukan evaluasi brand dengan rebranding/repositioning jika memang dibutuhkan. Lalu nanti juga ada yang namanya brand audit (namun untuk bagian ini beliau tidak menjelaskan lebih lanjut karena lebih fokus ke membuat personal branding dulu).
Poin penting lain yang disampaikan beliau adalah untuk mengukur seberapa kuat brand maka ada beberapa ciri, yaitu :
  • dikenal luas di audience yang dipilih sendiri
  • dimengerti tawarannya
  • dipilih → dipilih lagi → direkomendasikan (sukarela) → dibela (guardian)

Next di hari berikutnya Ahmad Fuadi, penulis buku 5 Menara, hadir menyampaikan materi mengenai menulis kreatif. Menurutnya, menulis itu harus bisa menginformasikan, menginspirasi, dan menggerakkan. Ada beberapa tips menulis dari beliau:
  • Apa yang mau ditulis? harus kenal, peduli, familiar, dan tahu
  • Gimana nulisnya? Memakai buku lain, foto, diari, dll sebagai referensi
  • Menulis itu nggak harus selesai dalam sekejap, nyicil juga nggak masalah asal dikit tapi tiap hari.
Integrity Sport tiap pagi


Setelah itu, ada Bapak Terry Mart yang merupakan fisikawan nuklir dan partikel. Keren banget kan? hehe soalnya bidang ini kan masing jarang di Indonesia. Tapi memang konsekuensinya kata beliau bidang ini bukan prioritas pemerintah dalam hal riset jadi untuk dana penelitian agak susah. Harus pintar-pintar cari grant dari luar.  Anyway, beliau banyak membahas mengenai jurnal predator yang makin marak. Ciri-ciri jurnal predator kata beliau adalah publishing fee sangat mahal dan yang dicantumkan adalah alamat palsu. Kebanyakan jurnal predator ini dioperasikan dari India, Pakistan, dan Afrika dengan mengirimkan spam email. Pesan beliau yang lainnya adalah riset di Indonesia itu butuh penghargaan dan perlu diingat bahwa esensi dari riset bukan paper tapi produk. πŸ˜‰

Guest speaker malam harinya bikin peserta agak heboh karena yang datang adalah Bapak Edwin  Rizal Manansang yang dulunya adalah member dari Trio Libels. Siapa Trio Libels? Sejujurnya saya juga nggak tau wkwkk cuma kayak familiar aja sama muka bapaknya. Ternyata bapaknya ini penyanyi toh cuma sekarang sudah menjabat sebagai Asisten Deputi di Kemenko Perekonomian. Di angkatan saya banyak yang tau soalnya banyak yang umurnya udah 30-50 an tahun ya hehehe. Pas disebutin membernya Trio Libels ternyata ada Roni Sianturi kesukaan mama saya. Di sesi ini, beliau nggak mau ngasih materi berat-berat soalnya beliau datang buat refreshing gitu. Jadi beliau lebih ke sharing pengalaman, bagaimana menyeimbangkan karir di pemerintahan dan juga di dunia entertainment, terus kerjaan sekarang kayak gimana. Akhirannya, si bapak ditodong nyanyi sama kami. 😁

Oke..kayaknya hanya ini yang bisa saya share ya karena di hari keempat kita rafting di Sukabumi dan di hari terakhir cuma ada Bapak Hamli dari BNPT yang isi sesinya kebanyakan menghimbau akan bahayanya terorisme. Semoga materinya berguna sedikit ya bagi yang membutuhkan!

Suasana saat rafting
Sesi tukar kado

Persiapan Keberangkatan LPDP Angkatan 159

Persiapan Keberangkatan PK LPDP 2020

Setelah pengumuman kelolosan bulan Desember 2019, pada bulan Januari 2020 saya akhirnya menerima email invitation untuk dimasukkan ke dalam grup PK-159. Pasti banyak yang penasaran kan, sebenernya Persiapan Keberangkatan alias PK LPDP itu ngapain aja sih? 

Menunggu Jadwal PK

Meski telah ditetapkan lolos seleksi wawancara, pelamar LPDP belum resmi dinyatakan sebagai awardee karena pelamar akan diminta untuk mengikuti semacam training yang disebut PK. PK ini juga sebagai seleksi akhir ya. Jadi yang nggak bisa ikut kegiatan ini maka otomatis dianggap gugur sebagai calon awardee LPDP. Surat undangan PK hanya akan dikirimkan sekali ke calon awardee, sedangkan kepastian untuk PK ini juga sangat mepet. Jadi semacam gambling kalau boleh dibilang. Kami cuma tahu kisaran tanggal PK tapi kepastian turunnya surat baru keluar di hari Jumat sore sebelum Seninnya PK (berdasar beberapa PK sebelumnya). Jadi yang merasa di bulan itu atau di tanggal itu berhalangan hadir, bisa mengajukan pindah PK sesuai aturan yang telah ditetapkan LPDP. Tapi ingat bahwa izin untuk pindah PK adalah murni hak LPDP untuk menyetujui atau tidak. Di kasus angkatan saya, PK nya "mundur" seminggu dari perkiraan awal 24 Februari, menjadi tanggal 2 Maret 2020 karena kegiatan PK sempet off seminggu yang alasannya kami nggak tau. Alhasil, temen-temen yang sudah booking tiket pesawat/kereta/hotel dll harus reschedule ulang dengan resiko ada tambahan biaya. Intinya harap-harap cemas gitu deh nunggu pengumuman tanggalnya.  Alhamdulillah karena angkatan saya mau ada sospro di hari Sabtu akhirnya surat undangan bisa turun di Hari Rabu.

Persiapan Keberangkatan PK LPDP 2020

Tugas PK

Sebelum PK berlangsung, calon awardee bakal kedapatan tugas-tugas yang harus dikerjakan bersama satu angkatan. Saya baru tau lho sejujurnya kalau kebanyakan tugas-tugas itu nggak wajib, jadi kebijakan masing-masing angkatan aja mau gimana. Jadi satu angkatan ini dianggap sebagai suatu organisasi gitu yang santuy nggaknya, seru nggaknya, ribet nggaknya kegiatan PK plus masa depan angkatan ditentukan oleh masing-masing anggotanya. Awalnya, kami diminta untuk memilih 5 Perwakilan Angkatan (PA) sebagai jembatan komunikasi antara calon awardee dengan tim LPDP terkait kegiatan PK ini. Misalkan setelah PK ini mau dipilih ketua baru juga silakan saja. Dalam kasus angkatan kami, PA yang sudah dipilih juga menjadi ketua angkatan kami seterusnya (sejauh ini gitu ya, nggak tau nanti kalau ada wacana mau dibikin kepemimpinan 5 tahunan atau sejenisnya). Setelah PA dipilih, divisi-divisi dibentuk untuk menyukseskan acara PK plus menindaklanjuti tugas-tugas yang sudah diberikan oleh LPDP. Saya masuk di divisi administrasi & keuangan sesuai minat yang saya pilih sebelumnya. Di dalam divisi ini dikerucutkan lagi dan saya masuk di tim admin yang tugasnya paling sering disuruh bikin Berita Acara (BA) untuk setiap tugas yang telah diselesaikan oleh angkatan. Tugas-tugas yang kami kerjakan antara lain membuat nama angkatan, tema angkatan, maskot angkatan, nama kelompok, dan lagu angkatan, serta mempersiapkan acara PK. Selain yang saya sebutkan barusan, ada 5 tugas wajib yang harus diselesaikan tiap angkatan yaitu menghafal pancasila, mars LPDP & ikrar LPDP, mengadakan social project, membuat buku angkatan, membuat video angkatan, dan membuat laporan harian saat PK nanti. Untuk menyukseskan semua ini, selain komunikasi lewat online biar lebih afdol dilakukan kopi darat tiap region. Kopdar ini juga masuk salah satu tugas "sunnah" PK ya. Kebetulan salah satu member kopdar Surabaya dulunya awardee magister dan sekarang akan melanjutkan program doktor (harus ikut PK lagi guyss ternyata). Kata masnya ini angkatan dulu-dulu tugasnya lebih banyak jadi bersyukurlah yang ikut PK sekarang wkwk.

Social Project (Sospro)

Kehebohan kami bertambah karena kakak PA ingin melakukan social project (sospro) H-2 sebelum PK agar sebagian anggota bisa kumpul sejak di hari Sabtu untuk meminimalkan kemungkinan peserta datang telat di Hari Senin. Jadi kami harus mengerjakan 2 "proyek" besar sekaligus yaitu PK dan sospro. Saya sendiri masuk tim sospro ini mewakili region Jatim dan membantu di bagian edukasi kesehatan dan kompos serta baksos tanaman. Karena saya tidak bisa terlibat secara fisik maka saat itu saya berusaha aktif membantu mencarikan bibit tanaman yang bisa dilakukan dari jauh. Mulai dari browsing, tanya-tanya by WA maupun telpon, sampai akhirnya ketemu yang cocok. Sempet stress juga karena hampir saja sudah mau deal eh tiba-tiba kayak di PHP gitu padahal tinggal 2 hari lagi. Tapi alhamdulillah berkat bantuan teman-teman yang lain waktu hari H bibitnya bisa tersedia. Menurut saya kegiatan sospro angkatan kami yang dirancang dalam kurun waktu 2 minggu ini super gila dan ambisius ya hahaha tapi surprisingly dapat terlaksana juga berkat leadership, networking, dan kerja sama dari temen-temen angkatan utamanya kakak-kakak PA dan ketua divisi sospro. Tema angkatan kami kan tentang pariwisata dan dipilih lokasi proyeknya di Setu Babakan Jakarta yang merupakan kampung budaya betawi. Nah komponen acaranya itu aja ada clean up day, pemasangan signage, pemasangan komposter, edukasi kesehatan dan pembuatan kompos plus ecobrick, seminar UMKM, pembuatan mural, pemasangan lampu tenaga surya, serta penanaman bibit tanaman. Awalnya bahkan mau donasi kano/boot karena ada wisata danaunya juga plus renovasi toilet tapi karena uang sponsorship yang didapat terbatas akhirnya rencana ini dipending dulu. Insya Allah akan ada uang sponsorhip yang menyusul sehingga kemungkinan beberapa program bisa dilanjutkan.

Persiapan Keberangkatan PK LPDP 2020

Pengalaman Sebelum PK

Saya berangkat hari Sabtu pagi jam 5 dengan pesawat dan sempet nitip barang-barang ke Febi sebelum berangkat menuju Setu Babakan. Alhamdulillah acara sospronya bisa berjalan dengan cukup lancar hingga pukul 5 sore. Saya malemnya nginep di kosannya Febi sampai hari Minggu. Minggu siang sempet hang out sama Febi wkwk dan sorenya pergi ke Hotel Mercure Ancol buat gladi bersih opening ceremony PK. Malamnya saya nginep di Hotel Mercure patungan sama Mbak Nita dan Mbak Tessa yang baru kenal pas PK ini. Dengan nginep di venue yang sama dengan venue PK, Senin paginya saya nggak perlu buru-buru bangun pagi dan pergi membelah lalu lintas Jakarta yang nggak bisa diprediksi.

Mekanisme PK

PK itu meski kesannya acara yang dibuat oleh LPDP, sebenernya adalah acara dari calon awardee sendiri untuk calon awardee juga. Jadi kami sebagai calon awardee boleh mengajukan guest speaker siapa yang ingin dihadirkan (tapi tetep atas persetujuan pihak LPDP dan ketersediaan waktu pembicara itu sendiri), mendesain opening plus closing ceremony, dan mengkonsep isi acara di sesi By You For You (BYFY) serta integrity sport. Oh iya kami sempet heboh sebelumnya karena ada isu PK akan berlangsung selama 2 minggu. Untungnya sampai angkatan kami masih 5 hari seperti sebelumnya ya. Setiap hari acara dimulai jam 5 pagi untuk integrity sport hingga jam 7 pagi. Lalu dari jam 8 pagi hingga jam 10 malem akan dibagi menjadi 5 sesi yang terdiri dari materi dari guest speaker dan BYFY. Pada prakteknya, jam materi disesuaikan dengan kehadiran para guest speaker (maklum kebanyakan orang penting) dan harus molor hingga lebih dari jam 10 malam. Biasanya harus lanjut hingga tengah malam lebih untuk mengerjakan laporan harian. Alhasil biasanya cuma bisa tidur 3 sampai 3,5 jam per hari. So penting banget jaga kesehatan biar nggak sakit. Kalau saya kemarin didopping pake vitamin. Tapi ada juga tim medis dari LPDP maupun dari tim angkatan sendiri jadi nggak perlu khawatir kalau ada keluhan. Dari segi makanan oke banget, bahkan cenderung berlebihan hehe karena selain makan utama 3x sehari ada tambahan 2x coffee break. Venue Hotel Mercure Ancol juga bagus dan nyaman banget ya alhamdulillah.


Maskot angkatan - Khatu dan Listi (plus versi traveller)


Kegiatan PK

Dalam satu angkatan yang terdiri dari 197 peserta, kami dibagi secara acak ke beberapa grup dan saya masuk di grup Wakatobi yang terdiri dari 33 calon awardee. Untuk roommate nya pun juga sudah ditentukan. Saya sekamar dengan Kak Irma yang merupakan salah satu kakak PA. Saat opening ceremony, yang awalnya harusnya pagi akhirnya diundur ke sore hari karena Dirut LPDP baru bisa hadir. Untuk pembukaan sendiri dibentuk beberapa tim mlai dari tim padus, tim tari, tim pembawa panji, tim penerima tamu, dll. Kami memakai baju tradisional dari daerah masing-masing dan diminta untuk menghafalkan gerakan tarian. Di hari keempat, biasanya ada acara outing yang isinya baru dikasih tau ke peserta di hari Rabu malam. Angkatan kami kedapatan rafting di Sukabumi dan kami diminta berangkat dari hotel jam 1 pagi. Sayangnya, pas pagi itu hujan lumayan deres dan saya agak ngeri juga sih masa rafting di tengah hujan gini ya. Akhirnya rafting diundur hingga jam 10 pagi dan rutenya pun dipilih yang nggak terlalu panjang plus lebih aman dibanding rute biasanya. Tapi tetep aja ya pas ke sungai liat arusnya waaah deres bangett. Dulu waktu rafting di Banjarnegara aja nggak sederes ini huhu. Sempet ada anggota kelompok yang perahu karetnya kebalik tapi alhamdulillah gapapa sih. Hari terakhir sebelum penutupan kami saling tukar kado sama nyicipin ccemilan khas daerah yang udah dibawa peserta lain. Saya agak heboh bawa kardus gede isinya kerupuk udang wkwk untungnya aja habis.  Sore pas penutupannya belum bener-bener selesai, saya udah ijin duluan sama Mbak Nita soalnya takut nggak keburu check in pesawat jam 8 malam yang ternyata delay hahaha.

Komposisi Angkatan

Berdasarkan data, PK-159 ini paling banyak jumlah calon doktornya (kebanyakan program BUDI), diikuti dengan PNS (kebanyakan dari kementrian keuangan sendiri ya seperti dari Dirjen Pajak), baru diikuti program reguler magister, para santri, dan ada 2 peserta disabilitas. Bisa bertemu orang dari seluruh Indonesia dengan latar belakang yang berbeda sungguh suatu pengalaman yang berharga. Indonesia memang punya banyak sumber daya manusia yang bertalenta tinggal gimana kita bisa mengaturnya. Majulah..Semangatlah..Jaya 😁 Kalau mau kepo tentang angkatan kami Gardhika Kathulistiwa (asal kata Garuda-Adhikara Khatulistiwa) bisa main ke akun instagram kami ya!

Note : per hari ini PK setelah PK-160 ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan akibat corona. Ada wacana untuk membuat PK online tapi konsepnya masih digodok oleh tim LPDP. Stay safe and healthy everyone!