Showing posts with label Life in Japan. Show all posts
Showing posts with label Life in Japan. Show all posts

Pengalaman Menerbitkan Buku Melalui Nulisbuku

Menerbitkan buku adalah salah satu  impian terpendam saya sejak saya berkuliah. Awalnya kan karena nulis blog ini banyak respon yang dateng kayak nanya-nanya gitu. Meskipun kelihatannya sepele, ternyata saya seneng banget tiap kali nerima respon atau pertanyaan dari pembaca. Apalagi kalo tau ternyata apa yang kita tulis itu bermanfaat buat orang lain. Sejak saat itu lah terpikir buat nerbitin buku.
Awal pulang ke Indonesia, saya utarakan keinginan ini sama mama. Kakek saya kan emang sebelumnya pernah nerbitin buku secara mandiri melalui salah satu percetakan di Surabaya. Nah ternyata biayanya nggak murah, bisa sampe puluhan juta. Tergantung berapa eksemplar juga sih tapi kalo nyetak gitu kan nggak bisa dikit. Shock lah saya dengernya hahaha duit dari mana itu. Akhirnya saya urungkan deh niat untuk nulis dan nerbitin bukunya. Terus suatu hari waktu saya lagi baca koran metropolis Jawa Pos, ada artikel yang nulis tentang penerbit indie alias penerbit mandiri. Penerbit indie ini nggak membatasi mau nyetak berapa karena mereka menganut sistem print on demand. Kalo ada yang pesen baru dicetak. Jadi, meskipun cuma 1 biji pun mereka mau dan kita sebagai penulis nggak perlu modal uang yang besar. Disitu tertulis beberapa nama penerbit indie-nya lalu saya sempet screen shot pake hape saya.
Karena kesibukan (emang iya sibuk? wkwk) dan juga keraguan saya mau nerbitin buku apa enggak, info di hape itu belum saya cek sama sekali. Hingga tiba waktunya saya di titik tersetres semenjak kepulangan saya dari Jepang, akhirnya saya memutuskan untuk serius nulis dan nerbitin lewat penerbit indie. Saat itu kontrak kerja say udah selesai, beasiswa ke Australia belum ada yang tembus, terus ditambah keraguan hati saya yang nggak mau kerja di perusahaan yang berbau lab-lab gitu. Hmm jadi keputusan ini semacam break dari ikhtiar saya yang kemarin-kemarin sekaligus pembuktian untuk diri saya sendiri bahwa saya harus berani melakukan yang memang mau saya lakukan, bukan karena orang lain menginginkan saya menjadi apa. Walah kok jadi serius ya wkwkwk. Pokoknya ini salah satu cara buat melepas stress dan juga memulai apa yang pingin bener-bener saya ingin lakuin. Saya orangnya emang selalu ngikutin kata hati, kalo ragu ya ditinggalin dan yang diyakini harus dilakukan dengan sepenuh hati *gayabanget*
Langkah pertama yang saya lakukan adalah browsing nama-nama penerbit indie yang ada di Indonesia. Ternyata lumayan banyak lhoo dan semakin banyak pilihan semakin bingung haha. Makanya akhirnya saya cuma mempertimbangkan yang muncul di koran metropolis dulu, dengan asumsi kalo udah masuk koran berarti lumayan terkenal dan kredibel hehe. Pilihannya yaitu LeutikaPro, Nulisbuku, dan Stiletto atau Indie Book Corner (maaf agak lupa hahaa udah lama, catetan di agenda yang udah digudangkan :p ). Tiap penerbit punya aturan dan tawaran yang berbeda-beda, misalkan paket dan servis yang tersedia mencakup modal awal penulis, servis editing/formatting/lay outing, desain cover, pengurusan ISBN, lalu besarnya royalti, dan lain-lain. Jangan lupa juga dibaca aturan hak dan kewajiban masing-masing pihak.  Pada akhirnya, saya memutuskan untuk memilih menggunakan Nulisbuku karena minim modal, royalti penulis lumayan tinggi, dan royalti bisa ditarik tiap 3 bulan.

Karena saya nggak mau ngeluarin uang banyak (hehehe) saya mengerjakan proses editing, formatting, dan lay out sendiri. Saya hanya mendownload template yang udah disediain Nulisbuku lalu mulai ngedit-ngedit sendiri disitu. Dan ternyata proses ini lumayan makan waktu juga haha apalagi waktu proofread kok kayaknya masih adaa aja yang salah. Untuk cover saya minta kakak sepupu yang bisa desain untuk dibuatkan. Bukan nyari gratisannya ya soalnya saya tetep bayar hehe cuma saya piker kalau sama saudara sendiri komunikasinya lebih enak. Kan nggak ngasal juga ya bikin desain, desainer juga harus tau kliennya maunya yang kayak gimana. Alhamdulillah saya suka banget sama cover bukunya dan banyak tanggepan positif juga nantinya dari pembaca kalo covernya cute :D
Jadi, kalo naskah yang siap dicetak udah siap, yang perlu saya lakuin cuma tinggal bikin akun di website Nulisbuku lalu upload naskah saya beserta form online detil deskripsi bukunya. Saat ngisi deskripsi itu akan muncul harga produksi buku kita dan setelah itu kita bisa input harga buku yang ingin kita jual. Perhitungannya otomatis kok jadi kita bakal langsung tau dengan harga jual buku segini berapa royalti yang kita dapet nantinya. Kalau semua pertanyaan sudah kita isi, kita bakal disuruh untuk beli buku cetakan yang perdana sebagai proofread. Istilahnya ya penulis sendiri yang bakal jadi pembeli pertama bukunya. Saat itu saya upload naskah bulan November 2017 dan buku saya jadi bulan December 2017. Sayangnya, punggung covernya salah karena ngikutin desain awal yang saya upload. Padahal waktu itu saya udah ngirim desain terbaru yang bener eh tapi ternyata nggak diupdate. Mau nggak mau akhirnya nunggu lagi buat revisi. Akhirnya bulan  Januari 2018 buku perdana saya terbit melalui Nulisbuku! Alhamdulillaahh rasanya bangga banget dan terharu :'
Tentunya menerbitkan buku lewat penerbit indie ada plus dan minusnya, begitu juga pilihan penerbit indie yang mana. Di bawah ini saya tuliskan plus dan minus menerbitkan Nulisbuku, yang semuanya berdasarkan pengalaman pribadi ya.

Plusnya :

  • Proses penerbitan mudah asal nggak ada masalah dan lengkap buku bisa langsung diterbitkan. 
  • Cukup responsif jika bertanya mengenai penerbitan.
  • Minim modal.
Minusnya :

  • Keuntungan dikit sekali karena harga produksi sudah mahal sehingga harga buku pun mahal, meski royalty ke penulis 60%. (Saya nggak mau pasang harga tinggi).
  • kalau ada keluhan nggak direspon.
  • ambil royalty susah bangett bikin emosi (tp akhirnya bisa diambil).
  • proses cetak dan kirim butuh waktu hampir 3 minggu hingga sampai ke pembeli.
Kalo ada dari pembaca yang punya pengalaman menerbitlan buku lewat penerbit indie lain bisa di share juga ya! 

Mau Tau Beasiswa Kuliah di Jepang?

Beasiswa Kuliah di Jepang? Yuk Baca Buku Ini!


Alhamdulillah, my first book, titled ICHIGO-Studying in Japan : My Sweet & Sour Stories, has been published!



Saya tergerak untuk mengumpulkan tulisan saya dalam bentuk buku karena banyaknya pertanyaan mengenai beasiswa kuliah di Jepang, berapa biaya kuliah di Jepang, pengalaman kerja di Jepang, dan berbagai macam pertanyaan lainnya yang datang ke email, media sosial, maupun blog saya. Karena informasi memang suatu yang hal yang mahal, saya menuliskan pengalaman pribadi saya selama studi S1 di Jepang beserta tips-tips yang mungkin bermanfaat di dalam buku ini.

Melalui buku ini, saya berharap dapat meluruskan pandangan yang beredar secara luas di anak-anak jaman sekarang bahwa studi di luar negeri bukanlah jalan pintas buat bersenang-senang di luar  secara gratis. Saya kaget sekali ketika datang ke pameran pendidikan internasional setahun belakangan ini animo masyarakat sangat besar. Pameran selalu ramai dengan antrian panjang dimana-mana, beda sekali dengan yang saya alami 10 tahun lalu.  Saya lihat juga banyak sekali ulasan tentang betapa enaknya bisa kuliah dan tinggal di luar. Apakah benar kenyatannya memang seperti itu? Bisa jalan-jalan atau travelling itu hanya bagian kecil dari perjalanan studi itu sendiri.

Cerita saya di buku ini mungkin nggak sebanding dengan perjuangan teman-teman lain yang saya kenal selama di Jepang kemarin. Ada yang bertahun-tahun nggak pulang kampung karena uang pas-pasan, ada yang tidur sehari cuma 3 jam saja karena harus kerja sekaligus kuliah, dan lain sebagainya. Namun, bisa memiliki pengalaman studi di luar negeri memang suatu hal yang sangat berharga karena banyak ilmu dan life skill yang bisa kita pelajari.

Bagi siapa saja yang tahu ada teman atau keluarga yang membutuhkan informasi mengenai studi di Jepang, untuk S1 khususnya,  tolong direkomendasikan untuk membeli buku ini ya hehe J .
Semoga bermanfaat!
Untuk membeli buku ini, silakan klik link di bawah ini ya!
Stok buku yang ready @shopee (keyword "ichigo") atau cek instagram saya karena kadang saya update jumlah stok bukunya.
PS: Bagi yang kesulitan memesan buku bisa PM saya (ipranatasari@gmail.com) ya nanti saya bantu J

Beasiswa Kuliah di Jepang?


This book is called “Ichigo”, basically means strawberry in Japanese. The book itself talks about how the writer struggled (soursweetness; defining the strawberry) throughout the past 5 years she spent her time studying in Japan.

This book would be a great help for those who are interested to continue to study in Japan. How so?

1.      Gives the how-to(s) to live, study in Japan, with limited amount of wealth (even moneyless or FREE lol).

2.      Visualize the circumstances about Japan as a foreign student, Muslim, temporary resident, freelancer-worker, etc.

3.      Pictures that hardships that could be faced when studying there (and also the good things).
It 's a great deal for you, your family/friend/acquaintance who plans to continue your study in Japan, but still do not know what to do since do not have any knowledge of it. Because after reading this book, all of your questions and doubts about studying in Japan will vanish since this book thoroughly solves the (probability) problems.
Cheers! (credit to my sister)


#repostline2015




Dulu selalu penasaran sama daun gingko gara-gara chapter di detektif conan yang judulnya Cinta Pertama Profesor Agasa. Warna asli daunnya hijau tapi kalau di musim gugur berubah jadi kuning. Kata komiknya warna daunnya jadi bersinar keemasan kalau kena sinar matahari. Selalu keinget prof.Agasa kalau liat ini :)






#fifthautumn, photos taken around Nagoya University Campus


Mama Goes to Japan

Alhamdulillah berkat rejeki dari Allah akhirnya mama bisa dateng ke Jepang njenguk aku sebelum aku pulang. Giri giri made ne :p Tujuan utamanya buat dateng ke wisudaku di akhir September sekalian bantu-bantu packing haha maaf ya ma XD
Mama dateng tanggal 19 September pagi di Osaka. Sayangnya selama seminggu itu lagi ada banyak taifun di Jepang jadi nggak terlalu enak buat jalan-jalan. Tapi ya karena udah terlanjur sampe sana sayang banget kan kalau nggak jalan-jalan. Rencana awalnya aku pingin ngajak mama ke Osaka Castle, Dotonburi, sama USJ. Tapi gara-gara hujan deres, capek, dan bawaan banyak akhirnya kita cuma sempet ke Dotonburi sama USJ aja (USJ juga cuma foto-foto di depan kok wkwk). Oh iya buat pertama kalinya aku nyoba pakai airbnb buat cari inepan di deket Osaka Station. Alhamdulillah rejeki banget dapet yang murah cuma 3ribu yen tapi boleh untuk berdua. Dan kebetulan yang punya itu orang Indonesia yang nikah sama orang Australia tapi tinggal di Osaka. Bisa dicek disini ya kalau mau pesen kamarnya.

muka kita muncul di layar di salah satu sudut di Dotonburi

pemandangan dari kamar

kamar tempat kami menginap
Besoknya kita mampir ke Kyoto naik kereta tapi sayangnya kita nggak bisa jalan-jalan soalnya waktu itu puncaknya taifun :' sempet kejebak di dalam kereta selama 1 jam soalnya semua kereta berhenti nggak boleh jalan. Naik bis buat keliling juga nggak mungkin soalnya hujan angin parah. Alhasil cuma bisa liat Kyoto Station sama Fushimi Inari haha.

selalu kagum sama desain Kyoto Sation yang mewah

doa yang digantung 
Sebelum ke Tokyo, kita nginap dulu di Nagoya buat naruh koper-koper. Kita jalan-jalan ke Nagoya Castle, Osu Kannon, Sakae, sama Nagoya Science Museum.

pemandangan Kota Nagoya dari atas Nagoya Castle

Honmaru di dalam Nagoya Castle yang baru dibuka 
Waktu di Tokyo kita beruntung banget bisa masuk ikutan tur gratis ke dalem Imperial Palace. Setauku dulu orang umum nggak bisa masuk tapi ternyata kemarin bisa. Tapi jujur aja dalemnya imperial palace itu biasa banget, sangat simple. Turnya cuma 1 jam aja dan masih keliatan bangunan yang mau dibangun buat kebutuhan turis. Sehari ada dua sesi mulai dari jam 09.30 sama jam 13.00an kalau nggak salah, satu sesi kuotanya 180 orang dan kita harus ambil nomer dulu sebelum masuk. Selain ke imperial palace kita pergi ke Asakusa, Tokyo Sky Tree, Disneyland, sama Shinjuku National Garden. Di Disneyland cuma foto-foto di depannya aja wkwkwk nggak punya budget buat masuk :p lumayanlah asal tau aja kayak gimana soalnya udh ngelewatin Disney berkali-kali tapi belum pernah mampir. KIta juga nyobain tempat makan halal namanya Sekai Cafe. Cafe ini punya 2 cabang satu di Asakusa satunya lagi di Oshiage deket Sky Tree. Makanannya enak tapi porsinya kurang besar hehe. Enak buat istirahat, ada tempat sholat, sama koneksi wifi.





beberapa foto di dalam Imperial Palace


suasana di sekitar Tokyo Station

lunch di Sekai Cafe Asakusa, atas: Gapao Rice;bawah: Chicken Teriyaki set






foto-foto di kompleks disneyland, bukan foto dalamnya lho ya :D agak nggak paham kok ada fotonya harpot disitu 

Shinjuku (Takashimaya)  Times Square yang terlihat dari Shinjuku National Garden

Sedikit pemandangan kota Tokyo, Shinjuku district

Lunch di Sekai Cafe Oshiage, atas:Tako Rice;bawah:lupa namanya wkwk gomenn


keren banget ya desain visualnyaa

Tokyo Station di malam hari 

Karena Yokohama nggak begitu jauh dari Tokyo jadi sayang kalau nggak mampir sana sekalian. Hari itu mendung banget jadi pemandangan harbournya kurang mantap hehe.

Cup noodle museum, cuma mampir ke tokonya :p 

Nggak sengaja liat lelang ikan di resto sushi di World Porters. Di mall ini ada tempat sholatnya

queen's square yokohama

nemu tempat selfie lagi hehe. di depan cermin ini kalau kta tepuk tangan bakal muncul tanduk di atas kepala kita

Begitulah cerita singkat saya waktu nemenin mama di Jepang. See you again! Mata ne Nihon ^^

Idul Adha 2015-2016


Postingan ini aslinya postingan tahun lalu. Kenapa tiba-tiba aku posting ulang? Soalnya aku baru sadar kalau Idul Adha 2015 itu bukan Idul Adha terakhir di Jepang. Idul Adha 2016 ternyata aku masih diberi Allah kesempatan buat ngelewatinnya di Nagoya hehe. Aku pikir sholatnya bakal di tempat yang sama kayak biasanya, di Port Messe itu tapi ternyata kali ini sholatnya di Nippongaishi Hall. Letaknya bukan di Nagoya, jadi kita harus naik JR gitu. Aku familiar sih sama nama hall ini soalnya pernah dipake buat tempat konsernya KRY haha. Habisnya sholat yang biasanya harus balik ke kampus kali ini nggak perlu soalnya aku udah lulus :D Jadi habis sholat kemarin mampir ke ward office dulu buat ngurus administrasi kepulangan habis itu makan di rumah Kak Novi, alhamdulillah...

*********************************************************************************

google

Hari ini hari raya Idul Adha kelimaku di Jepang dan mungkin jadi Idul Adha terakhir kalinya disini. Sejak dateng di Jepang tahun 2011 belum sekalipun pernah ngerasain Idul Adha lagi di Indonesia. Makanya kayaknya kangen sama bau sapi kambing :p
Idul Adha pertama aku ada di Fukuoka dan awal-awal banget baru dateng disana. Bisa dibilang belum kenal muslim sapa-sapa kecuali yang dateng barengan sama aku. Waktu itu hujan deres banget (mungkin taifun ya) dan kita harus jalan dari asrama sampe stasiun JR di "deket" sekolah yang makan waktu sejam lebih. Sok banget pake rok sama sepatu cantik, nyesel deh haha. Tapi alhamdulillah nyampe juga di Masjid Fukuoka yang bagus.

Masjid Fukuoka (google)

Dan hari ini alhamdulillah masih diberi kesempatan bisa sholat Idul Adha di Nagoya, tepatnya di Port Messe. Sebenernya pernah nggak sholat Idul Adha sekali kalo nggak salah tiga tahun lalu karena ada kelas. Hampir tiap kali Idul Adha hujan terus di Nagoya, hari ini pun begitu meski hanya hujan rintik. Sengaja hari ini meliburkan diri dari lab karena masih bau-bau liburan silver week kemarin meski nggak ngapain-ngapain. Habis sholat ya pulang huhu menyedihkan. Nggak ada rame-rame potong hewan juga. Nggak ada yang ngajak jalan dan makan kayak dulu karena banyak senpai yang udah pulang. Sebenernya ada sih yang ngajakin tadi tapi maunya gratis kayak dulu :p

Port Messe Nagoya (google)

Anyway Eid Mubarak everyone! Semoga tahun depan dikasi kesempatan bisa ngeliat prosesi sembelihan lagi aamiin.

Nagoya, 24 September 2015

Rewards

Sebenernya ini agak late post sih. Cuma lupa belum posting foto-foto waktu golden week plus foto short escape habis sidang hehe.

Waktu golden week pinginnya kan liat tulip di nabana no sato yang terkenal sama winter illuminationnya. Sayang banget ternyata nyampe sana tulipnya udah layu semua hiks gagal deh liat padang tulip. Tapi gapapa masih bisa liat iluminasinya yang kali ini temanya Heidi.







Terus sempat homestay dadakan juga di host family nya mbak alfi *ceritanya nebeng hehe* Kita diajakin ke Meiji Mura sama daerah Inuyama Castle buat naik perahu kecil di Kiso River.






Berhubung sidang udah kelar wajib dong ngasih rewards buat diri sendiri :D Kebetulan bulan Juli sama Agustus itu musimnya festival kembang api di seluruh Jepang. Nonton kembang api yang beneran baru sekali di Nagoya 3 tahun yang lalu habis itu nggak pernah lagi soalnya males terlalu banyak orang terus waktu itu kejebak nggak bisa pulang sampe tengah malem gara-gara antrian kereta yang super panjang wkwk. Tapi berhubung tahun ini terakhir dibelain deh nonton kembang api di Toyota. Untungnya baguuus dan nggak sampe  kejebak soalnya aku sama temen-temen udah cabut 30 menit sebelum kembang apinya beres (meski tetep antri).






Terus sebagai last trip sama temen-temen seangkatan sebelum semuanya mencar ke berbagai benua kita pergi ke Universal Stadio Japan (USJ)! Akhirnyaa bisa nengokin Harry Potter :3 Aku pribadi nggak suka sama mainan semacam jet coaster dkk gitu jadi target utama emang cuma ke harpotnya aja. Waktu itu menurutku nggak terlalu rame ya tapi tetep untuk atraksi yang terkenal nunggunya bisa sampe dua atau tiga jam. Kita udah beli tiket lewat travel di kampus (mahal banget harganya 7,400 yen) jadi waktu sampe sana tinggal antri masuk. Menurut website kan bukanya jam 8.30 tapi nggak tau kenapa hari itu jam 8 udah buka. Langsung deh ada dua orang dari rombongan kita yang lari ke tempatnya harpot buat ambil tiket yang nunjuin kapan kita bisa masuk ke area itu. Ternyata kalau masih pagi semua orang bisa masuk ke daerah harpot tanpa harus ambil tiket itu (tapi kurang tau sampe jam berapa jam bebas itu). Aku sempet nyobain atraksi Spiderman, Backdraft, Terminator, Harry Potter and the Forbidden Journey, sama Jaws. Paling lama ngabisin waktunya di harpot situ. Nyobain butter beer (manis banget tapi bersoda) sampe foto-foto pake jubah sama syalnya Griffyndor (minjem buat foto doang soalnya nggak sanggup beli harganya selangit, kalau di rupiahin bisa nyampe 2 juta harganya). Waktu di dalemnya toko tongkat sihir punya Ollivander itu berkesan banget soalnya kita diajak ngeliat langsung gimana milih tongkat sihir, mirip banget kayak yang ada di film. Btw hari itu panas banget disana berasa dijemur, untung nggak pingsan wkwk. Kalau pergi ke theme park di Jepang waktu musim panas jangan lupa minum yang cukup, bawa handuk, kipas, dan baju ganti. Kalau perlu bawa obat-obatan juga ya karena ada teman yang sempat nggak enak badan.
















Next destination! Nggak jauh dari Nagoya ternyata ada lahan peternakan gitu namanya Aichi Bokujo. Kita bisa nyobain merah susu sapi, naik kuda, bikin acara BBQ, dan banyak lagi (tapi semuanya bayar ya hehe. Tujuan utamaku kesana sebenernya cuma mau liat  himawari (bunga matahari) hehe. Oh iya sempet nyobain es krim asli buatan peternakan disana ternyata enak bangeet.





Trip terkahir di bulan Agustus ini itu bener-bener nggak terduga. Tiba-tiba diajak sama senpai disini jalan-jalan ke Hakone sama keluarganya sama beberapa orang Indonesia yang lain naik mobil. Alhamdulillaah rejeki emang nggak kemana :D Hakone itu salah satu daerah dimana kita bisa liat Gunung Fuji. Disana juga ada Lake Ashi yang lumayan gede yang bisa kita sebrangi pake kapal. Kita juga bisa nikmatin Hakone dari ropeway juga tapi waktu itu nggak keburu dan sayangnya lagi hujan gerimis plus kabur. Gagal lagi deh liat Gunung Fuji. Kayaknya aku belum berjodoh sama dia :'
Oh iya sebelum ke Hakone mampir di Hokuto, perfektur Yamanashi buat liat bunga matahari *lagi* hehe







See you in the next post!