Showing posts with label twins. Show all posts
Showing posts with label twins. Show all posts

Cerita Menyusui dan Menyapih Twinnies

Cerita Menyusui

Salah satu hal yang bikin saya kepikiran pas hamil adalah gimana ya menyusuin si kembar nanti. Kalau saya baca buku pengasuhan anak kembar dan dari liat video/reels di medsos kebanyakan diminumin botol, entah itu ASIP atau sufor. Di pikiran saya nanti mungkin bisa menyusui langsung (direct breastfeeding atau disingkat DBF) bergantian aja, jadi satu disusuin langsung satunya pake botol, dan itu bergiliran biar kedapetan dua-duanya.

Daripada bingung sendiri, saya booking konsultasi dengan konselor laktasi di RSIA Kendangsari ditemani suami. Saya ditunjukkan beberapa posisi menyusui bayi kembar dan beberapa tips terkait menyusui. Lalu sekalian praktek menyusui menggunakan boneka hehe. 

Sumber: Good Doctor

Alhamdulillah twinnies lahir dengan BB yang normal (biasanya kalau kembar cenderung lahir dengan BBLR) yaitu sebesar 2,6 kg dan 2,5 kg. Sebenarnya mereka kuning tapi dokter tidak memasukkan ke inkubator karena belum parah-parah banget. Saya disarankan untuk menyusui mereka sering-sering aja karena kuningnya nanti akan hilang sendiri dengan asupan ASI yang cukup. Terus sama dokter juga diberi semacam obat puyer (kata suami itu enzim) untuk mengurangi kuningnya. Sebenernya kondisi kuning adek lebih parah dengan kadar gula di tubuhnya agak rendah. Tapi dokter nggak mau memasukkan adek ke inkubator karena nanti akan terpisah dengan kakak, beliau kayak nggak sreg gitu kalau twinnies dipisah hehe. Jadi setelah 3 hari, saya dan twinnies sudah boleh pulang dengan PR menghilangkan si kuning. 

Saya langsung mencoba menyusui beberapa jam setelah twinnies dilahirkan. Awalnya aneh gitu ya rasanya menyusui dan saya juga bingung tuh sebenernya ada ASI yang keluar nggak sih soalnya kok kayak nggak berasa wkwk. Tiap 2 jam newborn minta disusui, meski di kasus saya awal-awal kayaknya kakak yang lebih sering menyusui padahal adek lebih butuh. Buat saya yang ada dua bayi itu jadi kayak nggak ada jedanya karena selesai nyusuin satu, berlanjut nyusuin satunya. Kenapa nggak jadi pake botol? Karena kalau di-pumping tuh dapetnya dikit banget dan rasanya nggak ada waktu buat pumping, masih belum nemu ritmenya gitu. Kayaknya selama 2 minggu itu ASI yang keluar nggak banyak. Well, semua butuh proses ya nggak bisa instan karena pada akhirnya memang ASI saya deras alhamdulillah. Masalahnya, di awal-awal itu kita ngejar misi untuk menghilangkan kuning dan kadar gula adek yang rendah. Jadi suami memutuskan untuk ngasi sufor supaya bisa mengejar misi itu. Selain itu, saya bisa tidur bentar di pagi hari karena twinnies disusui lewat botol. Tapi pemberian sufor ini juga minim sekali, mungkin hanya sekitar 20% sufor dan sisanya tetep ASI. 

Saya lumayan concern dengan keadaan hasil pumpingan yang sedikit. Saya berusaha memperbanyak produksi dengan mencoba hal-hal berikut:

  • Rutin minum dan makan cemilan ASI booster, makan kacang-kacangan/ sayuran hijau, dan memperbanyak makan protein hewani (double prohe). 
  • Menyewa alat pumping beda merk yang dianggap lebih "canggih", tapi ternyata nggak ada bedanya.
  • Melakukan power pumping di waktu dini hari, yang ternyata keluarnya tetep dikit dan saya capek sehingga lebih milih buat tidur mumpung bisa. 

Saya juga konsul ke konselor laktasi terkait hal ini, katanya wajar nggak bisa pumping karena pasokannya sudah habis dengan DBF bayi kembar, jadi fokus DBF aja gapapa. Saya lihat memang twinnies nggak ada masalah dengan DBF dan kenyang. Akhirnya saya menyerah dengan per-pumping-an ini dan fokus DBF terus. Saya perhatikan juga si kakak lebih milih untuk menyusui di sisi sebelah kiri, sedangkan si adek bebas. Saya akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan PD kiri untuk kakak dan PD kanan untuk adek. Menurut saya dengan cara ini mereka lebih adil dapet ASInya, nggak ada yang dapet "sisa". Alhamdulillah selama 2 tahun mengasihi, ASI saya bisa mencukupi kebutuhan twinnies. Kuncinya kelola stres serta rutin minum ASI booster dan makan protein hewani yang banyak.  

Karena fokus DBF dan mereka pun menolak dot saat umur 3 bulan, jadinya perlu dipikirkan strategi menyusui yang lebih efektif. Awalnya twinnies lebih sering beda waktu minta susunya, jadi bisa bergiliran. Kadang kalau barengan rewelnya, salah satu diminta sabar "antri" dulu, diselimur ya istilahnya wkwk. Kayaknya pas minggu ke-3 twinnies mulai lebih sering minta barengan jadi mau nggak mau saya harus nyoba menyusui tandem. Posisi menyusui tandem yang disarankan untuk newborn adalah double football hold, karena posisi ini memungkinkan si ibu melihat posisi hidung dan mulut bayi bersamaan. Menyusui pas mereka kecil rasanya nggak tiap hari. Tapi makin gede mereka makin ngerti, terbit lah kecemburuan dengan saudara alias sibing rivalry. Tak terkecuali dalam hal menyusui ini. Kalau satunya lagi nyusu ya yang lain juga pingin. Sekitar umur 20 bulan ke atas, twinnies minta nyusu tandem dan berkali-kali dalam sehari. Sungguh sangat melelahkan dan berat ๐Ÿ˜”Pas mereka sudah gede gini posisi menyusui tandemnya berubah menjadi tangled position atau bahkan free style disertai dengan tangan mereka yang bertengkar wkwk.

Catatan:

  • Butuh support system untuk menyusui langsung, terutama saat saya menyusui harus ada yang pegang saudaranya. Terus pekerjaan tugas rumah tangga juga harus didelegasikan karena ya nggak ada waktu buat ngerjain itu. Kalau ada waktu luang, saya memilih mengerjakan tesis (saat twinnies lahir sampai sekitar umur 7 bulan) atau mengerjakan pekerjaan freelance saya. 
  • Bener-bener ngerasa exhausted dan kurang tidur. Karena itu harus kuat dengan rajin minum vitamin serta makan yang bergizi & minum air yang banyak karena pasti laper terus.  
  • Literally seharian kerjaannya kayak cuma nyusuin doang. Harus komit menyusui langsung dengan kondisi apapun, mau besoknya ada ujian, sambil zoom meeting kerja ya pernah, lagi sakit ya tetep nyusu, lagi perjalanan di mobil bahkan di pesawat pun saya pernah menyusui tandem. Sebuah kebanggaan tersendiri karena berasa punya skill baru ๐Ÿ˜ƒ 

Cerita Menyapih

Dengan segala kehebohan menyusui, saya jujur sangat kepikiran gimana proses menyapih dua anak sekaligus? Karena mereka individu yang beda, pasti reaksinya  nanti juga berbeda. Kalau misal yang satu sudah bisa disapih, yang satu belum bisa ya sama saja bohong karena pasti iri kalau lihat saudaranya menyusui. Intinya, keduanya harus bisa disapih di waktu yang sama. 

Niatnya ingin sekali bisa sukses weaning with love. Saya ikut beberapa kelas terkait itu dan baca-baca pengalaman para ibu terkait menyapih. Tapi ya belum nemu yang menyapih anak kembar ya wkwk. Sekitar 3 bulan sebelum umur 2 tahun,  saya beli buku yang bercerita tentang menyapih dan sudah sounding kalau umur 2 tahun nanti mereka sudah nggak minum ASI lagi. Waktu dibacain buku, kan ada pertanyaan tuh "Apakah kamu siap?" Mereka lucu banget dengan pedenya jawab "Siaappp" ๐Ÿ˜Tapi kenyataannya, untuk mengurangi frekuensi menyusui di pagi hari saja saya kesusahan. Twinnies, terutama si adek, malah makin posesif & clingy dan makin sering frekuensi menyusunya ๐Ÿ˜ฉ Si kakak masih mending malem udah berkurang jauh frekuensinya, paling bangun sekali atau dua kali saja.  

Saat bulan November, twinnies sudah genap berusia 2 tahun. Sayangnya, mereka sakit flu agak lama di bulan itu, jadi saya tunda dulu proses sapihnya. Masuk bulan Desember, saya bertekad untuk menjalankan proses menyapih ini.  Lihat perkembangan menyapih pake metode weaning with love kok kayaknya nggak bakal kelar-kelar nih wkwk. Akhirnya saya putuskan pakai cara ortu jaman dulu yaitu dikasi warna atau rasa pahit di sekitar PD, huhu maafkan ya nakk. Surprisingly, hari pertama mereka langsung bisa nggak menyusui pas mau bobok, tapi ya disertai drama menangis yang lama. Kakak responnya lebih ke marah kenapa kok nggak dibolehin menyusui, trus dia "mentil" selimutnya sampai bisa tidur. Sedangkan adek merasa kasian dengan saya (karena saya bilang kalau PD saya sakit). Adek meluk saya dan dia bilang sendiri kalau mau tidur katanya pegang rambut saya saja. Beberapa hari setelahnya twinnies masih minta menyusui ke saya, tapi setelah saya jelaskan lagi kalau PD saya sakit dan mereka sudah besar, mereka sepertinya mulai bisa menerima. Lama-lama ya sudah nggak pernah minta dan berkurang juga drama sebelum tidur. Alhamdulillah Allah mudahkan proses menyapih ini meski tidak ideal seperti yang saya inginkan. Tapi yang penting tujuan mereka bisa disapih dalam waktu yang bersamaan bisa terwujud. 

Penutup

Gimana dengan saya? Perasaan nano-nano yaa, sedih iya plong iya senang iya karena jujur beberapa bulan terakhir menyusui rasanya sangat berat (literally berat karena mereka tambah berat dan mintanya barengan terus). Kalau ngomongin fisik, PD pastinya sakit karena kenceng banget dan sempet ngerasa nggak enak badan juga. Tapi alhamdulillah setelah kompres dingin rutin sakitnya makin berkurang dan nggak sampai bikin demam.

Semoga sharing saya sedikit mengenai menyusui bayi kembar ini bermanfaat ya buat para pembaca, terutama calon ibu kembar ๐Ÿ˜‡ 

Semangat buat semua ibu yang sedang mengASIhi ๐Ÿ’– 



Long-Awaited Trip to Lombok


Cerita Pengantar

Saat saya menikah di tahun 2018, saya sudah punya keinginan untuk bulan madu ke Lombok. Kebetulan saat itu suami masih internship, jadi setelah menikah belum bisa langsung bulan madu. Tapi kami sudah punya nama travel yang rencananya akan kami gunakan dan kami sudah DP ke travel tersebut. Qadarullah di akhir Juli 2018 terjadi gempa cukup besar di Lombok sehingga kami memutuskan untuk membatalkan bulan madu kesana karena melihat berita kondisi disana cukup parah. Ortu juga melarang pergi ke daerah Indonesia Timur dulu. Yaa sudahlah kita ikhlaskan DP ke Lombok itu dan keinginan pergi ke Lombok hikss...๐Ÿ˜ฉ

Selama 7 tahun pernikahan, adaaa aja yang bikin nggak jadi ke Lombok. Mulai dari suami yang langsung PPDS (mana ada waktu liburan), COVID-19 melanda, suami ACL, kami promil, saya hamil, dan akhirnya melahirkan bayi kembar hoho. Akhirnya tiba saatnya suami wisuda. Saat itu suami sudah bilang "ayo ndang direncanain ke Lomboknya gimana". Tapii beliau lalu sibuk dengan job huntingnya dan merasa keberatan kalau harus pergi karena takut tiba-tiba dipanggil interview. Saya mbatin lah ini jadinya kapan kalau ditunda-tunda terus huftt. Daan benar dugaan saya karena setelah suami keterima kerja minggu depannya langsung disuruh kerja ๐Ÿ˜’Awalnya suami bilang "gapapa yaa ntar kalau sudah kerja kan bisa ambil cuti." lhaa emang situ kapan bisa tiba-tiba cuti? untungnyaa alhamdulillah suami berubah pikiran sendiri dan tidak disangka-sangka Senin pagi bilang "yaudah Kamis sampai Minggu ini ya kita ke Lomboknya." Ya Allaahh gimana nggak buru-buru nyiapin semuanya wkwk. Untungnya saya dulu udah sempat riset travel mana yang kira-kira potensial sehingga bisa segera kontak mereka terus booking flight. 

Jadwal Perjalanan

Saya excited karena ini penerbangan pertama saya setelah 5 tahun loh...bayangin selama itu saya nggak kemana-mana. Paling jauh kayaknya cuma ke Solo atau Jogja haha. Untuk trip kali ini saya adjust itinerary nya biar nggak padet dan upgrade hotel resort supaya bocils nyaman. Itinerary nya sebagai berikut:

 Day 1

  • Penjemputan bandara
  • ⁠Bukit Seger view Sirkuit 
  • Pantai Kuta Mandalika
  • Lunch di Resto tepi Pantai Kuta Mandalika
  • Check-in Holiday Resort Hotel
  • Dinner ayam taliwang

Day 2

  • Breakfast di hotel
  • ⁠Penjemputan di hotel jam 11/12.00 siang
  • Lunch seafood pinggir pantai
  • Bukit merese
  • Pantai tanjung aan 
  • Desa tenun/sade (tentatif)
  • Dinner sate rembiga

Day 3

  • Breakfast di hotel 
  • Free time di hotel 
  • Penjemputan di hotel jam 15.00 sore
  • pusat oleh-oleh
  • ⁠Senggigi sunset point
  • ⁠Dinner di resto

Day 4

  • Breakfast di hotel 
  • Check out hotel
  • Pengantaran ke bandara

Catatan Perjalanan

  • Saya pergi dengan membawa ART sehingga beban pengasuhan bisa dibagi hehe meski dengan membawa dua anak usia 18 bulan.
  • Saat berangkat bukan waktunya liburan orang Indonesia, jadi lebih sering ketemu bule saat di hotel maupun tempat wisata. 
  • Karena merupakan pengalaman pertama bawa anak-anak pakai pesawat, saya sudah sounding ke bocils tentang naik pesawat. Saya tunjukin video pendek tentang gimana kira-kira naik pesawat itu. Alhamdulillah meski harus bangun jam 3 untuk siap-siap mereka happy dan excited nggak rewel sama sekali. New skill unlocked juga buat saya karena bisa menyusui tandem saat pesawat take off wkwk. 
  • Tempat makan dan menu sudah dipesankan oleh pihak travel dan seringnya menu makanan pedes semua. Alhamdulillah bawa makanan kering buat bocils karena kadang kalau kita order tambahan belum tentu cocok juga.
  • Karena mau bawa stroller rempong, pihak travel menyarankan untuk nyewa stroller yang basisnya ada di kota Mataram. Pihak travel merekomendasikan tempat persewaan keperluan anak-anak, saya hubungi mereka, dan stroller dikirim ke kantor travel. Stroller akhirnya kami pakai waktu eksplor hotel saja karena tempat wisatanya nggak memungkinkan dijelajahi pake stroller. 
  • Wisata di Lombok masih "raw" alias minim fasilitas seperti toilet, tempat makan/minum, dan mushola. Perjalanan kemarin 2x naik bukit yang ternyata belum ada tempat jalan yang nyaman gitu, masih bener-bener alami. Lumayan capek ya harus gendong bocils dan harus ekstra hati-hati. Pantai yang kami kunjungi bukan yang nyaman bisa dinikmati anak kecil main duduk lama2 gitu. Tapi karena mungkin masih minum fasilitas jadi masih kerasa "asli" ya dan pemandangan memang bagus. 
  • Agak kaget sepanjang jalan menuju hotel di daerah Senggigi sepi banyak resto dan hotel tutup terbengkalai.
  • Kali ini nggak ke gili karena cuaca berangin harus nyebrang naik ferry bawa bocils sepertinya kurang aman. 
  • Hotelnya recommended karena nyaman, banyak fasilitas, bahkan kami dapat sesi foto dengan fotografer gratis. 

Galeri Foto


Sunset di Senggigi point

Sirkuit Mandalika

Pantai Kuta Mandalika
Suasana saat menunggu sunset, bisa sambil berkuda

                                        

Beberapa foto suasana di resort


View dari Bukit Merese

Bukit Merese

Senja di Pantai Tanjung Aan


Penutup

Sebenernya masih banyak yang bisa di eksplor di Lombok ya seperti snorkeling di gili, Sembalun dan Gunung Renjaninya, maupun pink beach. tapi karena trip ini mengikuti kondisi bocils jadi ya belum bisa terlalu adventurous dan destinasinya nggak bisa yang terlalu jauh antara satu dengan yang lain karena bakal lama di jalan. 'Till we meet again ya Lombok! 


Mengasuh Anak Kembar : Sebuah Refleksi



Jujur, bingung harus nulis mulai dari mana hehe. Nggak terasa twinnies udah 18 bulan dan saya baru ada waktu buat lanjut nulis lagi ๐Ÿ˜‚ Telat banget sii tapi gapapa ya buat catatan pribadi juga dan semoga curcol saya ini ada manfaatnya buat para pembaca.

Persiapan

Saat hamil saya berusaha cari informasi terkait pengasuhan bayi kembar dari beberapa sumber. Ternyata sumber dari dalam negeri itu nggak banyak. Saya dapet banyak info  dari sumber luar, mungkin karena angka kejadian bayi kembar tuh lebih banyak di luar ya. Saya iseng coba nyari data jumlah bayi kembar di Indonesia,  infonya memang minim sekali. Hanya nemu di webnya Hello Sehat yang menyatakan terdapat 14 kelahiran bayi kembar pada setiap 1.000 kelahiran di Indonesia. Sedangkan di Amerika Serikat kelahiran bayi kembar lebih banyak dua kali lipat, yaitu sebesar 31 pada setiap 1.000 kelahiran di tahun 2022 (sumber CDC). Mengutip dari berita CNN tahun 2021, kelahiran anak kembar tengah mengalami peningkatan tertinggi sepanjang masa yaitu  hampir satu dari 40 anak dilahirkan kembar. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Human Reproduction menemukan lebih dari 1,6 juta anak kembar dilahirkan setiap tahun dalam satu dekade ke belakang. Ada beberapa faktor yang membuat fenomena ini terjadi, salah satunya perkembangan teknologi seperti IVF (tunjuk diri sendiri wkwk). 

Poin penting yang saya tangkap dari beberapa sumber adalah penekanan pada pentingnya membuat jadwal si kembar itu sama. Tujuannya agar pengasuh nggak perlu melakukan melakukan sesuatu berulang kali. Jadi misal ngasih susu, yaudah dalam satu waktu itu kedua bayi disusui secara bersamaan entah itu tandem (jika direct breastfeeding/DBF), satu nyusu langsung satu pake botol, atau keduanya pake botol. Dengan jadwal yang sama, diharapkan  dapat memudahkan pengasuh dalam mengatur waktunya. Misal kalau si kembar bisa tidur dalam waktu bersamaan, pengasuh bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas lain seperti makan/mandi/istirahat. Bayangkan kalau waktu tidurnya berbeda, satu bangun satu tidur gitu terus, maka pengasuh tidak punya waktu untuk melakukan hal lainnya.

Realita

Bisa dibilang 24 jam dalam sehari sebagian besar saya habiskan untuk menyusui. Dulu mikirnya satu bayi bisa disusui langsung (DBF) sedangkan satunya bisa pakai botol bergantian, jadi jadwal yang sama bisa diterapin. Realitanya, ASI saya kalau dipumping nggak bisa keluar banyak. Namun nggak ada masalah ketika DBF (bayinya kenyang-kenyang aja). Karena si adek keluar RS dengan status gula darah rendah, suami saya khawatir asupan ASI nya kurang karena itu di awal kami memutuskan buat ngasih sufor sebagai tambahan dan juga membantu agar saya bisa istirahat di pagi hari. Pemberian sufor ini juga terbatas kok, bisa dibilang awal-awal tuh 75% ASI 25% sufor. Tapi waktu masuk bulan ketiga atau keempat gitu mereka tiba-tiba nolak minum pake dot jadi hampir 100% DBF (sufor kalau mereka njerit barengan, itupun dikit banget sebagai pengalih sementara aja). Jujur berat sekali karena rasanya nggak berhenti, muter-muter terus nyusuin karena harus bergantian, kadang juga nyusuin tandem (new skill unlocked!). Hayati lelah ๐Ÿ˜ฃ 

Penerapan jadwal yang sama akhirnya gagal total wkwk. Mana ngga tega juga kalau harus bangunin twinnies yang lagi bobok nyenyak. Awal-awal juga belum nemu ritmenya jadi kadang kalau makan pun saya harus didulang. Rasanya nggak bisa ninggal bayi sama sekali. Kalau keluar rumah, rempong banget harus nyusuin twinnies. Makanya itu juga yang bikin saya jadi males keluar-keluar. Prinsip "ibu ikut tidur saat bayi tidur" juga nggak berlaku karena kadang jadwal tidur mereka sisipan. Kalau ada waktu kosong saya lebih memilih melakukan aktivitas lain seperti mandi, sholat, dan leptopan (saat itu masih sibuk ngerjain tesis dan ada kegiatan mentoring plus masih aktif di komunitas juga). 

Selain itu, mengasuh dua anak dengan umur yang sama di waktu yang bersama juga menjadi tantangan tersendiri. Sibling rivalry sudah ada sejak bayi wkwk makanya saya harus tegas. Mereka pun punya personality yang berbeda satu sama lain. Sebisa mungkin saya nggak membanding-bandingkan mereka dan terus menanamkan kasih sayang di antara mereka. Pertumbuhan dan perkembangannya pun pace nya juga berbeda. Waktu awal MPASI aman-aman aja, semuanya mereka makan dengan lahap. Tapi makin besar mereka makin punya preferensi makanan sendiri. Jadi dalam satu kali makan seenggaknya saya harus mikir menu cadangan alias nyiapin makanan lebih dari satu haha (cuma bisa ketawa). 

Tips

Mengasuh dan merawat anak kembar memang nggak mudah. Satu anak aja rempong ya apalagi lebih dari satu di saat yang sama wkwk. Makanya yang penting gimana saya bisa menjaga diri tetep "waras", nggak terlalu stres sampek bikin BB turun drastis atau sering nangis, dan sebisa mungkin enjoy the moment karena bagaimanapun momen kayak gini nggak akan terulang lagi. Balik lagi, semua tergantung perspektif  dan bagaimana kita merespon, jadi coba liat sisi positif dari tiap kesulitan yang kita hadapi. Berikut beberapa tips dari saya untuk mengurangi stres selama mengasuh twinnies, and they worked for me

  • Yang pertama dan paling utama adalah berdoa. Saya yakin banget saya dikasih bayi kembar itu berarti Allah tau saya mampu mengasuh dan mendidik mereka. Jadi saya kembalikan lagi semuanya ke Allah dan minta ke Allah untuk diberi kemudahan dan kesabaran.
  • Membangun support system. Support system disini siapapun yang dapat membantu saya dalam mengasuh twinnies seperti menggendong dan menjaga mereka ketika saya away maupun memenuhi kebutuhan dasar saya seperti memasak dan mencuci baju.  Alhamdulillah saya sangat terbantu dengan adanya support system yang mendukung, mulai dari suami, ortu, mertua, adek,  dan ART. 
  • Melakukan afirmasi positif di depan cermin. Mengasuh twinnies sangat melelahkan dan bisa jadi sangat membosankan karena melakukan suatu rutinitas yang gitu-gitu aja. Karena itu afirmasi positif penting agar saya terus bersemangat (setidaknya nggak merasa exhausted) dalam menjalani hari.  
  • Karena menyusui jadi aktivitas terlama dan dilakukan setiap hari, setidaknya saya harus merasa enjoy saat melakukan hal tersebut. Salah satu caranya adalah mencoba menemukan kesenangan kecil saat menyusui misalkan bisa lihat senyum dan tingkah bayi yang masih lucu, bisa scrolling medsos, bisa nonton, bisa baca buku, dsb. 
  • Menerima keadaan yang serba terbatas, nggak berekspektasi terlalu tinggi baik ke diri sendiri maupun ke twinnies (misal terkait milestone), enjoy the moment, nggak overthinking, nggak terlalu dimasukkan hati/baper kalo ada hal-hal yang nggak sesuai.  Intinya stay chill apapun yang terjadi wkwk.
  • Sediakan ruang untuk aktualisasi diri. Meski tiap hari nggak pernah sepi karena twinnies, saya sangat merasa kesepian karena jarang ketemu orang lain. Kangen obrolan dengan orang dewasa yang bahasannya nggak terkait anak. Karena itu saya tetap cari kegiatan sampingan dikit-dikit kayak ambil kerja part time/freelance dan  berusaha tetep terhubung dengan teman atau komunitas lewat media daring. 
  • Jaga kesehatan karena sakit saat mengasuh anak itu rasanya nggak enak banget. Mau istirahat juga nggak bisa karena anak tetep nen, anak tetep begadang, anak tetep mintanya sama emaknya. Karena itu saya rajin minum multivitamin dan juga booster ASI. Alhamdulillah sejauh ini dengan ijin Allah saya jarang sakit meski jam tidur kurang. 
  • Mandi air hangat. Kayaknya nggak penting ya? wkwk tapi menurut saya ini bisa jadi salah satu cara mengurangi pegel. Apalagi mandi itu jadi satu-satunya waktu pribadi dimana saya nggak pegang anak.

Semoga sedikit cerita dan tips dari emak-emak amatir ini bermanfaat ya buat pembaca, terutama buat calon ibu bayi kembar yang butuh gambaran gimana realita mengasuh anak kembar itu ๐Ÿ˜


Melahirkan Twinnies


Preeklamsia

Masuk minggu ke-36, tiba-tiba tensi saya naik ke 140an. Suami mulai khawatir liat trend nya makin hari kok makin naik gini. Diputuskan hari Senin malam waktu itu saya cek lab urin. Waktu itu kondisi kaki udah bengkak banget ya, sakit rasanya mau ngapa-ngapain. Mindahin badan juga dengan susah payah. Hasilnya cepet keluar, waktu itu saya liat protein albumin skornya 2. Saya kirim hasil itu ke suami (kebetulan suami stay di apart karena ada tugas jaga) dan juga ke Dokter Ben. Karena chat saya nggak dibales dokter, yaudah saya tinggal tidur. Pagi shubuh saya cek belum ada balesan dari dokter. HP saya silent trus saya tidur lagi karena baru bisa bobok nyenyak biasanya tuh pagi. 

Jam 7 pagi saya kaget tiba-tiba dibangunkan oleh mbak di rumah katanya saya disuruh siap-siap ke rumah sakit. Saya kayak yang loading lama, ngapain yak tiba-tiba ke rumah sakit. Waktu saya liat hape ternyata sudah ada missed call berkali-kali dari Dokter Ben dan suami. Intinya saya harus dioperasi caesar hari itu jam 2 siang karena sudah masuk kategori preeklamsia. Saya iseng cek tensi ternyata udah nyampek 157! Serem banget ๐Ÿซ  

sumber: kumparanmom


Karena mikirnya masih ada 10 hari sebelum due date, saya belum packing hospital bag dan juga belum mindahin barang-barang bayi ke kamar yang akan saya tempati setelah lahiran. Karena itu pagi itu semua serba dadakan dan hectic wkwk. Untungnya semua barang keperluan udah ada tinggal masukin koper aja. Saya juga diminta untuk minum obat adalat, telpon orang tua ngabarin kalau mau lahiran siang itu (posisi ortu lagi sibuk nyiapin 7 harinya nenek saya yang meninggal seminggu lalu), dan tidak lupa makan minum karena saya harus puasa dari jam 8 pagi.  

Catatan Trisemester Ketiga


Keluhan yang Muncul

  • Gatel-gatel di daerah perut dan kaki. Gatel-gatel ini umum terjadi pada ibu hamil dan disebut PUPPP (pruritic urticarial papules and plaques of pregnancy) rash. Untungnya yang di perut nggak lama, waktu itu saya rajin kasi minyak zaitun. Yang parah di kaki sampek merah-merah dan lumayan mengganggu karena bikin susah tidur. Nyoba minum incidal atau loratadine nggak ngaruh. Agak mendingan dikasi ice gel sama bedak gatel trus rajin diolesin lotion. Tapi tetep ya nggak bisa ngilangin, hanya ngurangin efek nggak nyamannya aja. 
  • Tendangan dan gerakan bayi-bayi makin mantap dan tajem jadi kadang bikin kaget. Herannya tuh mereka mesti paling aktif pas malem jadi nggak bisa bobok huhu. 
  • GERD tidak hilang jadi ya masih suka glegekan, mual, tapi alhamdulillah yang penting nggak muntah aja. Obat masih lanjut terus. Sempet sekali mualnya parah jadi inget kayak waktu masuk RS dulu, takut banget ๐Ÿ˜ฉ Akhirnya sama suami diganti deh obatnya biar lebih nampol. 
  • Kaki sering kram dan bengkak parah dari betis sampek jari-jari, berasa kaki gajah beneran deh. Kaki saya kaku banget akibat ketarik dan penumpukan cairan di bagian bawah badan jadi dari jauh keliatan mengkilat gitu, dan ini bikin susah ngapa-ngapain plus agak sakit pas nekuk. Kaki bengkak bisa dijadikan pertanda bisa jadi tensi naik makanya waktu itu sama suami disuruh rajin nensi tiap hari. Awal-awal alhamdulillah tensi masih normal ya tapi pada akhirnya tensi saya naik juga (diceritain lebih detil di bawah dan di postingan selanjutnya yaa). 
  • Lebih sering laper #yaiyalahwkwk
  • Berat badan mencapai 75 kg (naik sekitar 25 kg) akibatnya baju dan underwear nggak cukup, bingung beli karena baru kali ini ukuran badan jumbo wkwk. Untungnya yang gede banget tuh di perutnya aja, kalau bagian badan lain terutama muka (lol) nggak membengkak banget. Ohiya karena perut yang gede ini jadi bikin saya susah beraktivitas, contohnya kayak gerakin badan nggak bebas dan bangun dari tidur sakit terutama bagian punggung ke bawah.
  • Karena susah gerak dan badan rasanya berat sekali, waktu jalan keluar seperti ke mall saya didoring pakai kursi roda huhu maluu ๐Ÿ˜ฉ

Apa itu Babymoon 

Boro-boro babymoon, mau jalan pagi aja nggak boleh sama Dokter Ben wkwkwk. Bisa dibilang selama hamil saya jadi kayak tahanan kota. Lebaran juga nggak kemana-mana karena disaranin bedrest (masih di trisemester pertama waktu itu). Butek banget rasanya pingin liat yang indah dan ijo-ijo. Mana Surabaya kan boring banget ya wkwk paling hiburannya makanan. 

Alhasil saya keluar kota kayaknya bisa dihitung jari, yaitu waktu pingin makan ayam goreng di Pandaan (LOL), ke Rustic Market di Trawas (sempet ke cabang yang di Surabaya juga), sama yang terakhir ke Batu. Nah yang ke Batu ini juga aslinya pelanggaran karena sudah masuk di awal trisemester ketiga yang mana saya dilarang kemana-mana sama dokter. Awalnya saya pingin ke Batu waktu trisemester kedua tapi karena suami sibuk akhirnya keundur-undur terus deh. Waktu dilarang itu sedih banget rasanya karena sudah terlanjur booking hotel dan udah kepingin banget pergi jalan kemana gitu. Untungnya suami ngijinin gapapa tetep pergi (kalau ada apa-apa tanggung jawabnya dia wkwkwk). Sayangnya hotel tempat saya nginep ternyata agak kurang sesuai dengan ekspektasi saya dan pas itu suami agak gak enak badan karena kecapekan. 



Pilihan Rumah Sakit 

Memasuki trisemester ketiga hal yang harus kami putuskan adalah rumah sakit tempat bersalin. Ada 3 pilihan tempat dokter Ben praktek yaitu di National Hospital, RS Mitra Keluarga Kenjeran, dan Mayapada Hospital. Yang menjadi pertimbangan adanya ruang NICU, fasilitas kamar, dan tentunya harga. Kalau di National Hospital jujur biayanya fantastis bagi kami sehingga langsung kami coret wkwk. Dokter Ben sendiri merekomendasikan di RS Mitra Keluarga Kenjeran karena fasilitas NICU nya bagus. Tapi kami akhirnya memilih di Mayapada Hospital karena harganya yang paling terjangkau (meskipun teteup mahal yak hiks), fasilitas NICU ada, dan relatif dekat dari tempat tinggal. Sebenarnya saya pribadi ingin melahirkan di RSIA karena pasti kebutuhan bayi dan ibu lebih diperhatikan, seperti Inisiasi Menyusu Dini, dan biayanya juga lebih affordable. Tapi karena Dokter Ben nggak praktek di RSIA yasudah gimana lagi hehe. Sebenernya waktu program bayi tabung selesai, kita boleh-boleh aja ganti dokter kandungan ya. Tapi rasanya lebih mantap kalau sama Dokter Ben karena beliau yang menangani proses kehamilan ini dari awal sehingga kalau ada apa-apa harapannya lebih paham harus ambil tindakan apa. Melahirkan kembar/gemeli termasuk melahirkan dengan resiko jadi biasanya rumah sakit tidak memberikan opsi paket/diskon seperti persalinan pada umumnya. 

Menuju Kelahiran Twinnies

Dokter Ben menginfokan kalau idealnya saya dioperasi caesar di minggu ke 37, yaitu sekitar tanggal 15-22 November 2023. Saya dan suami disuruh milih tanggal berapanya dan kami memutuskan untuk memilih tanggal 17 November karena itu di hari Jumat. Dulu waktu pengumuman hamil itu juga di hari Jumat. Harapannya nyari berkahnya hari Jumat gitu ๐Ÿ˜Š Dokter Ben cek jadwal dan beliau juga oke di tanggal itu, suami pun siap-siap atur cuti. 

Di week 32, saya disuntik pematang paru sebanyak 2x tujuannya kalau tiba-tiba harus lahiran prematur, paru-paru bayi sudah lebih siap sehingga chance buat para bayi lahir dengan selamat dan sehat juga harapannya lebih besar. Kebanyakan kehamilan kembar biasanya lahiran lebih awal dari HPL alias prematur. Kalau HPL saya sebenernya di awal Desember. Seneng banget nih suami saya karena ultahnya bisa barengan sama ultahnya anak-anak. Tapi ya gimana nggak mungkin nunggu sampai HPL karena biasanya ibu dan para bayi udah sama-sama nggak kuat wkwk.

Menuju week 37 satu hal yang saya sadari adalah makin lama posisi perut makin ke bawah. Dulunya perut kayak neken ke atas, tapi ini keliatan banget si perut turun dan keliatan ada jarak antara dada dan perut. Mama dan beberapa emak-emak yang liat ini sempet pada bilang habis ini kayaknya lahiran deh itu, mungkin nggak nutut sampek tanggal 17 November. Tapi saya selalu bilang doain biar tanggal 17 aja wkwkk. 

Di week 34 tensi saya agak naik ke 120an. Suami nyuruh saya buat cek lab, screening buat memastikan ini masuk pre-eklampsia atau enggak. Hasilnya nilai protein 1 (ada kebocoran protein di urin) tapi masih kategori gapapa alhamdulillah.  Tapi saya disarankan buat memantau tensi tiap pagi tiap hari sebagai bentuk kehati-hatian. Eklampsia itu salah satu penyebab kematian tertinggi bagi hamil di Indonesia. Jadi harus waspada dan jangan disepelekan ya, terutama yang punya faktor resiko seperti kehamilan kembar. Terkait pre-eklampsia bisa dibaca disini yaa.

Catatan Trisemester Kedua



Keluhan yang Muncul 

Kalau ngomongin keluhan kayaknya nggak kelar-kelar ya selama kehamilan kembar kemarin wkwk. Tapi alhamdulillah disyukuri semuanya artinya bayinya sehat-sehat, cuma emaknya aja yang tepar ๐Ÿ˜‚

  • Week 13-16 belum membaik mual muntahnya 
  • Week 17 kayaknya mulai berkurang frekuensi muntah, sehari 1-2 kali aja 
  • Week 19 mulai sering ada tendangan, rasanya aneh kayak "nyut" gituu dan sering bikin kaget wkwk
  • Badan super kaku dan kerasa berat
  • Sering nyeri perut
  • Encok punggung parah
  • Susah bobok entah karena mual atau badan sakit
  • Mulai muncul kram 
  • Ndredeg nemen apalagi sebelum dan waktu muntah
  • Muncul jerawat punggung
  • Kaki kanan bengkak 
  • Gerakan janin makin mantap dan paling aktif pas malem mau bobok. Satu nendang kantung kemih satunya lagi nendang lambung ๐Ÿ˜‚ (perih atau kadang bikin perasaan kebelet pipis) 
  • Ambeien kambuh untungnya nggak berlangsung lama dan nggak parah-parah amat 
  • Suatu pagi di week 24 mendadak kayak mau pingsan. Dicek lab darah ternyata Hb turun bukannya naik. Dokter Ben nambahin dosis maltofernya jadi 3x1 dan urutan minum obat lambung sama suami juga diubah. Kayaknya sih  gara-gara kurang tidur jadi nggliyeng-nggliyeng gitu...

Opname di Rumah Sakit

Ini mungkin jadi highlight selama kehamilan kembar. Memasuki week 21 saya harus diopname 5 hari di rumah sakit gara-gara muntah darah ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ 

Satu malem saya kayak biasanya kebangun gara-gara refluks trus muntah. Biasanya habis muntah enakan tapi ini anehnya sampek shubuh saya gelisah terus gak jelas gitu nggak bisa bobok, sampek pingin mbangunin suami karena bingung..lah kok akhirnya pas muntah lagi yang keluar cairan hitam gitu. Saya kaget terus manggil-manggil suami. Pas suami ngeliat wah fix ini ini darah di lambung huhu. Tapi habisnya muntah darah itu jadinya enakan dan saya bisa tidur. Waktu bangun, suami mutusin saya harus ke rumah sakit karena bahaya ya kalau dibiarin, harus dicek-cek nih. Saya ke IGD RS Premier ditemenin adik karena suami harus ngurus ijin dulu di rumah sakitnya, ntar dia nyusul (aslinya dia ada shift jaga di hari itu). Milih rumah sakit itu karena dosennya suami praktek disitu dan rumah sakitnya nggak jauh dari apartemen kami. Alhamdulillahnya habis dikasi obat injeksi di rumah sakit saya nggak muntah-muntah lagi (sampai lahiran nanti). 

Waktu di rumah sakit ketauan juga Hb saya rendah alias anemia.  Anemia rentan terjadi pada ibu hamil, apalagi ibu hamil kembar. Idealnya ibu hamil minim Hb di angka 10, waktu itu saya di bawah 10. Adanya muntah darah jadi indikasi kemungkinan saya ada ongoing bleeding atau pendarahan di lambung. Kalau ada pendarahan otomatis bisa memperparah anemianya. Ada tidaknya pendarahan ini bisa dikonfirmasi dari sample BAB, misal dilihat warna BAB nya jika warnanya hitam bisa jadi indikasi ada pendarahan. Sebenernya tindakan paling gampang untuk menaikkan Hb itu dengan transfusi darah. Tapi karena saya hamil, transfusi tidak disarankan. Jadi saya hanya konsumsi zat besi tambahan. Tapi terapi ini lambat sekali, jadi saya selama 5 hari diopname Hb nya hanya naik nol koma kalau nggak salah huhu. Akhirnya diputuskan rawat jalan aja pokoknya udah nggak muntah, karena kalau nunggu Hb naik saya nggak bakal pulang. 

Waktu diobservasi di IGD

Alhamdulillah selama dirawat kondisi bayi-bayi saya sehat dan tetap aktif. Bidan secara berkala tiap hari selalu ngecek tensi saya dan denyut nadi janin. Ohiya saya juga baru pertama kali merasakan diinjeksi magnesium sulfat yang bikin sensasi panas waktu diinjeksi ke dalam darah. Aneh banget deh rasanya kayak ada panas menjalar dalalm tubuh gitu. Jujur bikin gak nyaman banget ya tapi untungnya sensasi itu nggak bertahan lama. Ternyata setelah saya baca-baca injeksi magnesium sulfat itu untuk mencegah kejang akibat eklamsia (komplikasi kehamilan yang berbahaya, ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kejang sebelum/selama/setelah persalinan). 

Cari udara seger karena butek banget di kamar

Sejak keluar rumah sakit alhamdulillah saya nggak pernah muntah lagi tapi memang diikuti dengan konsumsi obat lambung rutin (pantoprazole, ondansentron, dan inpepsa). Refluks masih sering kumat terutama malem makanya sering nggak bisa tidur. Karena refluks masih ada, sensasi pingin muntah tetep ada. Nah ini yang bikin aawal-awal setelah pulang dari rumah sakit itu saya seperti kena anxiety attack. Tandanya itu kalau udah pingin muntah tiba-tiba saya jadi kayak bingung, takut sampek nangis, nggak bisa mikir. Saya sadar ini nggak bisa dibiarin  makanya saya cari-cari info gimana ngatasinnya. Salah satunya dengan ditenangin orang terdekat dan latihan nafas. Alhamdulillah anxiety attack nya cuma terjadi 3 kali aja (seinget saya), intinya nggak berlarut-larut lah. Bener-bener adaaa aja selama kehamilan ini. ๐Ÿ˜ฅ 

USG 4D Fetomaternal

Dokter Ben merekomendasikan untuk melakukan USG 4D fetomaternal di RSIA Putri Arief Rahman Hakim waktu week 21. USG 4D feto ini tujuan utamanya bukan buat liat wajah bayi ya wkwk tapi memastikan bahwa janin sehat nggak ada kelainan apapun. Jadwal USG saya dicancel seminggu gara-gara saya opname habis muntah darah itu. 
Waktu dilakukan USG 4D fetomaternal ini bayi bayi saya gerak-gerak terus jadi agak susah ngeceknya hehe. Sempet terlihat juga mereka sedang tendang-tendangan๐Ÿ˜‚Alhamdulillah normal semua hasilnya dan dikonfirmasi kalau gender bayi dua-duanya perempuan. Kata dokternya sih sebenernya kalau USG 4D bisa keliatan muka baby nya lebih jelas tapi karena ini kehamilan kembar jadinya bayi-bayi kayak tumpuk-tumpukan gitu jadi fotonya kurang jelas. Waktu dilihat hasilnya keliatan yang satu hidungnya mancung yang satu pipinya mbleber wkwkwk. ๐Ÿ’–

Penjelasan USG 4D fetomaternal bisa dibaca disini yaa.

Ohiya kami juga sempat ditawari Dokter Ben buat melakukan NIPT test di week 10 untuk cek ada tidaknya kelainan janin secara genetika. Tapi kami putuskan nggak melakukan karena selain biayanya cukup mahal, kalau ketauan ada kelainan terus gimana...? Nggak mungkin digugurin juga kan...berdoa terus semoga semuanya sehat-sehat. Terkait prosedur tes-tes yang bisa dilakukan di Morula bisa dicek disini.

Side Stories

  • Week 15 menuju 16 ngadain pengajian 4 bulanan.
  • Nanya dokter apa boleh olahraga katanya jalan dan renang boleh tapi pelan-pelan aja, yoga nggak disaranin. Tapi ujung-ujungnya sama dokter Ben saya nggak boleh olahraga apapun bahkan untuk sekedar jalan .๐Ÿ˜…
  • Terkait hubungan suami istri bolehnya sampek week 28 aja (tapi kayaknya harus sangat hati-hati kalau kehamilan kembar, better konfirmasi lagi sama dokter kandungan masing-masing ya).
  • Waktu kontrol di week 25 diinfo idealnya saya lahiran caesar di week 37 (antara tgl 15-22 November). Tapi karena kembar ada kecenderungan prematur,  bisa jadi maju ke awal November. Trus buat jaga-jaga in case prematur, di week 32  bakal disuntik pematang paru (steroid). Terkait suntik ini kalau mau baca lebih lanjut bisa disini yaa.

 

Catatan Trisemester Pertama

Lanjutan dari cerita sebelumnya yaa...

Hasil Tes beta hCG 

Hari Jumat tanggal 31 Maret 2023 pagi saya datang ke Morula untuk  tes Beta-hCG. Waktu itu saya udah pasrah banget sih, kayak nothing to lose, udah siap denger hasil terburuk karena pendarahan beberapa hari sebelumnya itu. Nah kata susternya nanti yang ngasi tau hasilnya langsung dokter Benny, jadi saya disuruh nunggu aja mungkin siangan atau sorean. Saya inget waktu itu saya lagi tiduran di kamar apartemen ditemenin adek dan suami masih kerja di RS. Tiba-tiba ada nomor nggak dikenal telpon ke WA saya dan saya kaget pas liat profpict nya dokter Benny, rasanya ndredeg banget hehe. Alhamdulillah Allahuakbar saya dinyatakan hamil ! Waktu saya buka WA ternyata dokter Benny juga ngechat dan ngirim hasil tes b-hCG nya, angkanya waktu itu 1378. Rasanya kayak orang linglung, nangis aja enggak ๐Ÿ˜… Waktu suami pulang pun kita nggak ada yang nangis wkwk saking udah nyiapin mental kalau hasilnya negatif. Saya nangisnya waktu telponan sama mama dan ibu mertua karena beliau berdua yang nangis-nangis hehe. 

Besoknya jam 6 pagi saya ke Morula (Dokter Ben mau pergi jadi nyediain waktu pagi-pagi sekali buat ketemu pasien) buat dapet instruksi selanjutnya harus ngapain. Saya diberi vitamin dan obat-obatan penunjang untuk penguat rahim lalu disuruh tes lab. Vitamin dan obat yang saya gunakan antara lain:

  • Nutrimama untuk trisemester pertama 
  • Vitamin E (weeks keberapa gitu diberhentiin, sorry lupa pastinya) 
  • Vitamin D 
  • Oestrogel (obat oles) 
  • Utrogestan (obat dari bawah) 
  • Duphaston (obat oral) 

Item yang dicek di lab antara lain D Dimer, G6PD, ACA-IgG, ACA-IgM, dan TSH. Hasil labnya ternyata menunjukkan ACA IgM saya elevated (angkanya saat itu 9,5). Hasil ini menunjukkan saya ada indikasi ke arah autoimun, tapi belum bisa disebut autoimun juga karena angkanya masih di bawah 20. Dan memang angka ACA IgM saya cenderung naik dalam beberapa minggu awal (dicek berkala) karena tubuh menganggap kehadiran janin sebagai benda asing yang harus dilawan. Makanya Dokter Ben sempet komen jangan-jangan salah satu penyebab lain selain PCOS yang membuat saya susah hamil bisa jadi karena ini. Mungkin saya dulu pernah hamil tapi keguguran terus (who knows?) Akhirnya diputuskan saya harus suntik pengencer darah (Diviti) tiap hari! huhuhu๐Ÿ˜ญ Karena banyak obat yang harus saya konsumsi dalam satu hari, saya sampai nyetel alarm supaya nggak ada yang terlewat. 

Hamil Kembar

Saat kontrol pertama kali setelah pengumuman hamil, saya nggak di USG karena katanya masih belum kelihatan apa-apa. USG dilakukan 2 minggu setelah dinyatakan positif hamil. Saat dilakukan USG pertama kali, kagetlah kami karena di layar terlihat ada 2 kantong janin tapi hanya ada 1 yang ada detak jantungnya. Mungkinkah saya hamil kembar?? Kata dokter, yang satu bisa berkembang bisa juga tidak. Misal tidak berkembang maka biasanya akan hilang dengan sendirinya. Jujur perasaan saya nano nano... di satu sisi saya kasihan jika salah satunya "menghilang", sedangkan jika beneran ada 2 janin dalam rahim saya, saya juga nggak mbayangin gimana ngasuh 2 anak barengan wkwk. Saya hanya berdoa semoga Allah beri yang terbaik apapun itu. 2 minggu kemudian saya kontrol untuk di USG kembali. Saat itu saya kebetulan datang sendiri karena suami nggak bisa menemani. Allahuakbar ternyata saat dicek  ada detak jantung di kedua kantong janin, yang artinya saya mengandung bayi kembar!๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ญ Saya chat suami hasilnya dan respon suami adalah tertawa dan komen "kok bisa hamil kembar itu loh..." Padahal doa kami hanya minta diberi seorang anak, tapi malah langsung diberi dua masya Allah...sungguh Allah Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan yang paling tau apa yang terbaik buat hambanya. Jujur saya cukup "biasa" aja responnya waktu tahu hamil kembar. Kalau Allah memang menakdirkan saya punya anak kembar maka insya Allah saya akan dimampukan untuk merawat dan mendidik mereka. Aamiin Allahumma Aamiin...
FYI karena yang dimasukkan ke rahim saya 2 embrio dari 2 telur dan 2 sperma yang berbeda maka anak-anak  saya adalah kembar fraternal. Kembar fraternal bisa berjenis kelamin sama maupun berbeda. Jujur kalau boleh minta sih pinginnya langsung sepasang (laki-perempuan) gitu yaa hihi tapi apapun itu nanti yang penting bayi-bayinya sehat semuaa ๐Ÿ’—


Sumber: https://raisingchildren.net.au/pregnancy/health-wellbeing/twin-pregnancy/twins


Keluhan yang Muncul

Obat-obatan saya gunakan sampai di week 10, kecuali utrogestan lanjut sampai week 12 karena pertimbangan hamil kembar. Suntik Diviti berhenti setelah angka ACA-IgM saya turun, kira-kira setelah 2 bulan. 

Awal-awal kehamilan saya masih ngerasa fine-fine aja. Saya masih bisa puasa dan aktivitas biasa, nafsu makan pun normal. Masuk minggu kedua puasa Ramadhan saya mulai ngerasa mual (tapi nggak muntah), jd saya mutusin nggak puasa (akhirnya saya punya utang puasa 18 hari).  Mulai dari week 8 sampai seterusnya mual muntah saya memburuk. Sebenernya saya nggak rewel makan, makan apa aja mau dan nggak mual karena bau makanan jadi masih bisa masak di dapur. Cuma habisnya makan mesti dikeluarin alias dimuntahin huhu. Trus rasanya tiap hari itu kayak mabuk gitu loh, jadi susah mikir. 

Saya juga sempat mengalami pendarahan seminggu setelah FET. Kalau lihat timingnya sebenernya agak rancu karena pendarahan saat itu bisa berarti pendarahan karena ada implantasi janin di rahim atau memang tanda haid. Waktu itu sama dokter Ben saya langsung disuruh ke Morula untuk dapat suntik tambahan penguat rahim dan disuruh bedrest. Saya sudah nyiapin mental pesimis, kayaknya belum rejekinya hamil deh..eh tapi ternyata saya salah hehee. Selain ini saya sempet ngeflek 2x lagi (ngeflek aja nggak sampe yang berdarah gitu) di minggu-minggu awal kehamilan. Saya diminta untuk bedrest dan Dokter Ben menaikkan dosis utrogestan. Jujur untuk perkara bedrest ini saya nggak bener-bener bedrest ya, mungkin hanya nggak banyak-banyak keluar dari apartemen.