Cerita Menyusui dan Menyapih Twinnies

Cerita Menyusui

Salah satu hal yang bikin saya kepikiran pas hamil adalah gimana ya menyusuin si kembar nanti. Kalau saya baca buku pengasuhan anak kembar dan dari liat video/reels di medsos kebanyakan diminumin botol, entah itu ASIP atau sufor. Di pikiran saya nanti mungkin bisa menyusui langsung (direct breastfeeding atau disingkat DBF) bergantian aja, jadi satu disusuin langsung satunya pake botol, dan itu bergiliran biar kedapetan dua-duanya.

Daripada bingung sendiri, saya booking konsultasi dengan konselor laktasi di RSIA Kendangsari ditemani suami. Saya ditunjukkan beberapa posisi menyusui bayi kembar dan beberapa tips terkait menyusui. Lalu sekalian praktek menyusui menggunakan boneka hehe. 

Sumber: Good Doctor

Alhamdulillah twinnies lahir dengan BB yang normal (biasanya kalau kembar cenderung lahir dengan BBLR) yaitu sebesar 2,6 kg dan 2,5 kg. Sebenarnya mereka kuning tapi dokter tidak memasukkan ke inkubator karena belum parah-parah banget. Saya disarankan untuk menyusui mereka sering-sering aja karena kuningnya nanti akan hilang sendiri dengan asupan ASI yang cukup. Terus sama dokter juga diberi semacam obat puyer (kata suami itu enzim) untuk mengurangi kuningnya. Sebenernya kondisi kuning adek lebih parah dengan kadar gula di tubuhnya agak rendah. Tapi dokter nggak mau memasukkan adek ke inkubator karena nanti akan terpisah dengan kakak, beliau kayak nggak sreg gitu kalau twinnies dipisah hehe. Jadi setelah 3 hari, saya dan twinnies sudah boleh pulang dengan PR menghilangkan si kuning. 

Saya langsung mencoba menyusui beberapa jam setelah twinnies dilahirkan. Awalnya aneh gitu ya rasanya menyusui dan saya juga bingung tuh sebenernya ada ASI yang keluar nggak sih soalnya kok kayak nggak berasa wkwk. Tiap 2 jam newborn minta disusui, meski di kasus saya awal-awal kayaknya kakak yang lebih sering menyusui padahal adek lebih butuh. Buat saya yang ada dua bayi itu jadi kayak nggak ada jedanya karena selesai nyusuin satu, berlanjut nyusuin satunya. Kenapa nggak jadi pake botol? Karena kalau di-pumping tuh dapetnya dikit banget dan rasanya nggak ada waktu buat pumping, masih belum nemu ritmenya gitu. Kayaknya selama 2 minggu itu ASI yang keluar nggak banyak. Well, semua butuh proses ya nggak bisa instan karena pada akhirnya memang ASI saya deras alhamdulillah. Masalahnya, di awal-awal itu kita ngejar misi untuk menghilangkan kuning dan kadar gula adek yang rendah. Jadi suami memutuskan untuk ngasi sufor supaya bisa mengejar misi itu. Selain itu, saya bisa tidur bentar di pagi hari karena twinnies disusui lewat botol. Tapi pemberian sufor ini juga minim sekali, mungkin hanya sekitar 20% sufor dan sisanya tetep ASI. 

Saya lumayan concern dengan keadaan hasil pumpingan yang sedikit. Saya berusaha memperbanyak produksi dengan mencoba hal-hal berikut:

  • Rutin minum dan makan cemilan ASI booster, makan kacang-kacangan/ sayuran hijau, dan memperbanyak makan protein hewani (double prohe). 
  • Menyewa alat pumping beda merk yang dianggap lebih "canggih", tapi ternyata nggak ada bedanya.
  • Melakukan power pumping di waktu dini hari, yang ternyata keluarnya tetep dikit dan saya capek sehingga lebih milih buat tidur mumpung bisa. 

Saya juga konsul ke konselor laktasi terkait hal ini, katanya wajar nggak bisa pumping karena pasokannya sudah habis dengan DBF bayi kembar, jadi fokus DBF aja gapapa. Saya lihat memang twinnies nggak ada masalah dengan DBF dan kenyang. Akhirnya saya menyerah dengan per-pumping-an ini dan fokus DBF terus. Saya perhatikan juga si kakak lebih milih untuk menyusui di sisi sebelah kiri, sedangkan si adek bebas. Saya akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan PD kiri untuk kakak dan PD kanan untuk adek. Menurut saya dengan cara ini mereka lebih adil dapet ASInya, nggak ada yang dapet "sisa". Alhamdulillah selama 2 tahun mengasihi, ASI saya bisa mencukupi kebutuhan twinnies. Kuncinya kelola stres serta rutin minum ASI booster dan makan protein hewani yang banyak.  

Karena fokus DBF dan mereka pun menolak dot saat umur 3 bulan, jadinya perlu dipikirkan strategi menyusui yang lebih efektif. Awalnya twinnies lebih sering beda waktu minta susunya, jadi bisa bergiliran. Kadang kalau barengan rewelnya, salah satu diminta sabar "antri" dulu, diselimur ya istilahnya wkwk. Kayaknya pas minggu ke-3 twinnies mulai lebih sering minta barengan jadi mau nggak mau saya harus nyoba menyusui tandem. Posisi menyusui tandem yang disarankan untuk newborn adalah double football hold, karena posisi ini memungkinkan si ibu melihat posisi hidung dan mulut bayi bersamaan. Menyusui pas mereka kecil rasanya nggak tiap hari. Tapi makin gede mereka makin ngerti, terbit lah kecemburuan dengan saudara alias sibing rivalry. Tak terkecuali dalam hal menyusui ini. Kalau satunya lagi nyusu ya yang lain juga pingin. Sekitar umur 20 bulan ke atas, twinnies minta nyusu tandem dan berkali-kali dalam sehari. Sungguh sangat melelahkan dan berat πŸ˜”Pas mereka sudah gede gini posisi menyusui tandemnya berubah menjadi tangled position atau bahkan free style disertai dengan tangan mereka yang bertengkar wkwk.

Catatan:

  • Butuh support system untuk menyusui langsung, terutama saat saya menyusui harus ada yang pegang saudaranya. Terus pekerjaan tugas rumah tangga juga harus didelegasikan karena ya nggak ada waktu buat ngerjain itu. Kalau ada waktu luang, saya memilih mengerjakan tesis (saat twinnies lahir sampai sekitar umur 7 bulan) atau mengerjakan pekerjaan freelance saya. 
  • Bener-bener ngerasa exhausted dan kurang tidur. Karena itu harus kuat dengan rajin minum vitamin serta makan yang bergizi & minum air yang banyak karena pasti laper terus.  
  • Literally seharian kerjaannya kayak cuma nyusuin doang. Harus komit menyusui langsung dengan kondisi apapun, mau besoknya ada ujian, sambil zoom meeting kerja ya pernah, lagi sakit ya tetep nyusu, lagi perjalanan di mobil bahkan di pesawat pun saya pernah menyusui tandem. Sebuah kebanggaan tersendiri karena berasa punya skill baru πŸ˜ƒ 

Cerita Menyapih

Dengan segala kehebohan menyusui, saya jujur sangat kepikiran gimana proses menyapih dua anak sekaligus? Karena mereka individu yang beda, pasti reaksinya  nanti juga berbeda. Kalau misal yang satu sudah bisa disapih, yang satu belum bisa ya sama saja bohong karena pasti iri kalau lihat saudaranya menyusui. Intinya, keduanya harus bisa disapih di waktu yang sama. 

Niatnya ingin sekali bisa sukses weaning with love. Saya ikut beberapa kelas terkait itu dan baca-baca pengalaman para ibu terkait menyapih. Tapi ya belum nemu yang menyapih anak kembar ya wkwk. Sekitar 3 bulan sebelum umur 2 tahun,  saya beli buku yang bercerita tentang menyapih dan sudah sounding kalau umur 2 tahun nanti mereka sudah nggak minum ASI lagi. Waktu dibacain buku, kan ada pertanyaan tuh "Apakah kamu siap?" Mereka lucu banget dengan pedenya jawab "Siaappp" 😁Tapi kenyataannya, untuk mengurangi frekuensi menyusui di pagi hari saja saya kesusahan. Twinnies, terutama si adek, malah makin posesif & clingy dan makin sering frekuensi menyusunya 😩 Si kakak masih mending malem udah berkurang jauh frekuensinya, paling bangun sekali atau dua kali saja.  

Saat bulan November, twinnies sudah genap berusia 2 tahun. Sayangnya, mereka sakit flu agak lama di bulan itu, jadi saya tunda dulu proses sapihnya. Masuk bulan Desember, saya bertekad untuk menjalankan proses menyapih ini.  Lihat perkembangan menyapih pake metode weaning with love kok kayaknya nggak bakal kelar-kelar nih wkwk. Akhirnya saya putuskan pakai cara ortu jaman dulu yaitu dikasi warna atau rasa pahit di sekitar PD, huhu maafkan ya nakk. Surprisingly, hari pertama mereka langsung bisa nggak menyusui pas mau bobok, tapi ya disertai drama menangis yang lama. Kakak responnya lebih ke marah kenapa kok nggak dibolehin menyusui, trus dia "mentil" selimutnya sampai bisa tidur. Sedangkan adek merasa kasian dengan saya (karena saya bilang kalau PD saya sakit). Adek meluk saya dan dia bilang sendiri kalau mau tidur katanya pegang rambut saya saja. Beberapa hari setelahnya twinnies masih minta menyusui ke saya, tapi setelah saya jelaskan lagi kalau PD saya sakit dan mereka sudah besar, mereka sepertinya mulai bisa menerima. Lama-lama ya sudah nggak pernah minta dan berkurang juga drama sebelum tidur. Alhamdulillah Allah mudahkan proses menyapih ini meski tidak ideal seperti yang saya inginkan. Tapi yang penting tujuan mereka bisa disapih dalam waktu yang bersamaan bisa terwujud. 

Penutup

Gimana dengan saya? Perasaan nano-nano yaa, sedih iya plong iya senang iya karena jujur beberapa bulan terakhir menyusui rasanya sangat berat (literally berat karena mereka tambah berat dan mintanya barengan terus). Kalau ngomongin fisik, PD pastinya sakit karena kenceng banget dan sempet ngerasa nggak enak badan juga. Tapi alhamdulillah setelah kompres dingin rutin sakitnya makin berkurang dan nggak sampai bikin demam.

Semoga sharing saya sedikit mengenai menyusui bayi kembar ini bermanfaat ya buat para pembaca, terutama calon ibu kembar πŸ˜‡ 

Semangat buat semua ibu yang sedang mengASIhi πŸ’– 



No comments:

Post a Comment