Showing posts with label Life in Surabaya. Show all posts
Showing posts with label Life in Surabaya. Show all posts

Mengasuh Anak Kembar : Sebuah Refleksi



Jujur, bingung harus nulis mulai dari mana hehe. Nggak terasa twinnies udah 18 bulan dan saya baru ada waktu buat lanjut nulis lagi πŸ˜‚ Telat banget sii tapi gapapa ya buat catatan pribadi juga dan semoga curcol saya ini ada manfaatnya buat para pembaca.

Persiapan

Saat hamil saya berusaha cari informasi terkait pengasuhan bayi kembar dari beberapa sumber. Ternyata sumber dari dalam negeri itu nggak banyak. Saya dapet banyak info  dari sumber luar, mungkin karena angka kejadian bayi kembar tuh lebih banyak di luar ya. Saya iseng coba nyari data jumlah bayi kembar di Indonesia,  infonya memang minim sekali. Hanya nemu di webnya Hello Sehat yang menyatakan terdapat 14 kelahiran bayi kembar pada setiap 1.000 kelahiran di Indonesia. Sedangkan di Amerika Serikat kelahiran bayi kembar lebih banyak dua kali lipat, yaitu sebesar 31 pada setiap 1.000 kelahiran di tahun 2022 (sumber CDC). Mengutip dari berita CNN tahun 2021, kelahiran anak kembar tengah mengalami peningkatan tertinggi sepanjang masa yaitu  hampir satu dari 40 anak dilahirkan kembar. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Human Reproduction menemukan lebih dari 1,6 juta anak kembar dilahirkan setiap tahun dalam satu dekade ke belakang. Ada beberapa faktor yang membuat fenomena ini terjadi, salah satunya perkembangan teknologi seperti IVF (tunjuk diri sendiri wkwk). 

Poin penting yang saya tangkap dari beberapa sumber adalah penekanan pada pentingnya membuat jadwal si kembar itu sama. Tujuannya agar pengasuh nggak perlu melakukan melakukan sesuatu berulang kali. Jadi misal ngasih susu, yaudah dalam satu waktu itu kedua bayi disusui secara bersamaan entah itu tandem (jika direct breastfeeding/DBF), satu nyusu langsung satu pake botol, atau keduanya pake botol. Dengan jadwal yang sama, diharapkan  dapat memudahkan pengasuh dalam mengatur waktunya. Misal kalau si kembar bisa tidur dalam waktu bersamaan, pengasuh bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan aktivitas lain seperti makan/mandi/istirahat. Bayangkan kalau waktu tidurnya berbeda, satu bangun satu tidur gitu terus, maka pengasuh tidak punya waktu untuk melakukan hal lainnya.

Realita

Bisa dibilang 24 jam dalam sehari sebagian besar saya habiskan untuk menyusui. Dulu mikirnya satu bayi bisa disusui langsung (DBF) sedangkan satunya bisa pakai botol bergantian, jadi jadwal yang sama bisa diterapin. Realitanya, ASI saya kalau dipumping nggak bisa keluar banyak. Namun nggak ada masalah ketika DBF (bayinya kenyang-kenyang aja). Karena si adek keluar RS dengan status gula darah rendah, suami saya khawatir asupan ASI nya kurang karena itu di awal kami memutuskan buat ngasih sufor sebagai tambahan dan juga membantu agar saya bisa istirahat di pagi hari. Pemberian sufor ini juga terbatas kok, bisa dibilang awal-awal tuh 75% ASI 25% sufor. Tapi waktu masuk bulan ketiga atau keempat gitu mereka tiba-tiba nolak minum pake dot jadi hampir 100% DBF (sufor kalau mereka njerit barengan, itupun dikit banget sebagai pengalih sementara aja). Jujur berat sekali karena rasanya nggak berhenti, muter-muter terus nyusuin karena harus bergantian, kadang juga nyusuin tandem (new skill unlocked!). Hayati lelah 😣 

Penerapan jadwal yang sama akhirnya gagal total wkwk. Mana ngga tega juga kalau harus bangunin twinnies yang lagi bobok nyenyak. Awal-awal juga belum nemu ritmenya jadi kadang kalau makan pun saya harus didulang. Rasanya nggak bisa ninggal bayi sama sekali. Kalau keluar rumah, rempong banget harus nyusuin twinnies. Makanya itu juga yang bikin saya jadi males keluar-keluar. Prinsip "ibu ikut tidur saat bayi tidur" juga nggak berlaku karena kadang jadwal tidur mereka sisipan. Kalau ada waktu kosong saya lebih memilih melakukan aktivitas lain seperti mandi, sholat, dan leptopan (saat itu masih sibuk ngerjain tesis dan ada kegiatan mentoring plus masih aktif di komunitas juga). 

Selain itu, mengasuh dua anak dengan umur yang sama di waktu yang bersama juga menjadi tantangan tersendiri. Sibling rivalry sudah ada sejak bayi wkwk makanya saya harus tegas. Mereka pun punya personality yang berbeda satu sama lain. Sebisa mungkin saya nggak membanding-bandingkan mereka dan terus menanamkan kasih sayang di antara mereka. Pertumbuhan dan perkembangannya pun pace nya juga berbeda. Waktu awal MPASI aman-aman aja, semuanya mereka makan dengan lahap. Tapi makin besar mereka makin punya preferensi makanan sendiri. Jadi dalam satu kali makan seenggaknya saya harus mikir menu cadangan alias nyiapin makanan lebih dari satu haha (cuma bisa ketawa). 

Tips

Mengasuh dan merawat anak kembar memang nggak mudah. Satu anak aja rempong ya apalagi lebih dari satu di saat yang sama wkwk. Makanya yang penting gimana saya bisa menjaga diri tetep "waras", nggak terlalu stres sampek bikin BB turun drastis atau sering nangis, dan sebisa mungkin enjoy the moment karena bagaimanapun momen kayak gini nggak akan terulang lagi. Balik lagi, semua tergantung perspektif  dan bagaimana kita merespon, jadi coba liat sisi positif dari tiap kesulitan yang kita hadapi. Berikut beberapa tips dari saya untuk mengurangi stres selama mengasuh twinnies, and they worked for me

  • Yang pertama dan paling utama adalah berdoa. Saya yakin banget saya dikasih bayi kembar itu berarti Allah tau saya mampu mengasuh dan mendidik mereka. Jadi saya kembalikan lagi semuanya ke Allah dan minta ke Allah untuk diberi kemudahan dan kesabaran.
  • Membangun support system. Support system disini siapapun yang dapat membantu saya dalam mengasuh twinnies seperti menggendong dan menjaga mereka ketika saya away maupun memenuhi kebutuhan dasar saya seperti memasak dan mencuci baju.  Alhamdulillah saya sangat terbantu dengan adanya support system yang mendukung, mulai dari suami, ortu, mertua, adek,  dan ART. 
  • Melakukan afirmasi positif di depan cermin. Mengasuh twinnies sangat melelahkan dan bisa jadi sangat membosankan karena melakukan suatu rutinitas yang gitu-gitu aja. Karena itu afirmasi positif penting agar saya terus bersemangat (setidaknya nggak merasa exhausted) dalam menjalani hari.  
  • Karena menyusui jadi aktivitas terlama dan dilakukan setiap hari, setidaknya saya harus merasa enjoy saat melakukan hal tersebut. Salah satu caranya adalah mencoba menemukan kesenangan kecil saat menyusui misalkan bisa lihat senyum dan tingkah bayi yang masih lucu, bisa scrolling medsos, bisa nonton, bisa baca buku, dsb. 
  • Menerima keadaan yang serba terbatas, nggak berekspektasi terlalu tinggi baik ke diri sendiri maupun ke twinnies (misal terkait milestone), enjoy the moment, nggak overthinking, nggak terlalu dimasukkan hati/baper kalo ada hal-hal yang nggak sesuai.  Intinya stay chill apapun yang terjadi wkwk.
  • Sediakan ruang untuk aktualisasi diri. Meski tiap hari nggak pernah sepi karena twinnies, saya sangat merasa kesepian karena jarang ketemu orang lain. Kangen obrolan dengan orang dewasa yang bahasannya nggak terkait anak. Karena itu saya tetap cari kegiatan sampingan dikit-dikit kayak ambil kerja part time/freelance dan  berusaha tetep terhubung dengan teman atau komunitas lewat media daring. 
  • Jaga kesehatan karena sakit saat mengasuh anak itu rasanya nggak enak banget. Mau istirahat juga nggak bisa karena anak tetep nen, anak tetep begadang, anak tetep mintanya sama emaknya. Karena itu saya rajin minum multivitamin dan juga booster ASI. Alhamdulillah sejauh ini dengan ijin Allah saya jarang sakit meski jam tidur kurang. 
  • Mandi air hangat. Kayaknya nggak penting ya? wkwk tapi menurut saya ini bisa jadi salah satu cara mengurangi pegel. Apalagi mandi itu jadi satu-satunya waktu pribadi dimana saya nggak pegang anak.

Semoga sedikit cerita dan tips dari emak-emak amatir ini bermanfaat ya buat pembaca, terutama buat calon ibu bayi kembar yang butuh gambaran gimana realita mengasuh anak kembar itu 😁


Melahirkan Twinnies


Preeklamsia

Masuk minggu ke-36, tiba-tiba tensi saya naik ke 140an. Suami mulai khawatir liat trend nya makin hari kok makin naik gini. Diputuskan hari Senin malam waktu itu saya cek lab urin. Waktu itu kondisi kaki udah bengkak banget ya, sakit rasanya mau ngapa-ngapain. Mindahin badan juga dengan susah payah. Hasilnya cepet keluar, waktu itu saya liat protein albumin skornya 2. Saya kirim hasil itu ke suami (kebetulan suami stay di apart karena ada tugas jaga) dan juga ke Dokter Ben. Karena chat saya nggak dibales dokter, yaudah saya tinggal tidur. Pagi shubuh saya cek belum ada balesan dari dokter. HP saya silent trus saya tidur lagi karena baru bisa bobok nyenyak biasanya tuh pagi. 

Jam 7 pagi saya kaget tiba-tiba dibangunkan oleh mbak di rumah katanya saya disuruh siap-siap ke rumah sakit. Saya kayak yang loading lama, ngapain yak tiba-tiba ke rumah sakit. Waktu saya liat hape ternyata sudah ada missed call berkali-kali dari Dokter Ben dan suami. Intinya saya harus dioperasi caesar hari itu jam 2 siang karena sudah masuk kategori preeklamsia. Saya iseng cek tensi ternyata udah nyampek 157! Serem banget 🫠 

sumber: kumparanmom


Karena mikirnya masih ada 10 hari sebelum due date, saya belum packing hospital bag dan juga belum mindahin barang-barang bayi ke kamar yang akan saya tempati setelah lahiran. Karena itu pagi itu semua serba dadakan dan hectic wkwk. Untungnya semua barang keperluan udah ada tinggal masukin koper aja. Saya juga diminta untuk minum obat adalat, telpon orang tua ngabarin kalau mau lahiran siang itu (posisi ortu lagi sibuk nyiapin 7 harinya nenek saya yang meninggal seminggu lalu), dan tidak lupa makan minum karena saya harus puasa dari jam 8 pagi.  

Lika Liku Tesis Master

In Search of Thesis Topic

Salah satu perbedaan antara kuliah di Indonesia dengan waktu saya kuliah di Jepang dulu adalah penentuan topik penelitian skripsi/tesis. Kalau di Jepang, meski kita punya topik sendiri biasanya tetap disesuaikan dengan projek besar penelitian di labnya sensei. Sedangkan di Indo kita diberi kebebasan penuh mau neliti kayak apa dan kayak gimana (tapi urus semuanya sendiri wkwkwk). Ada plus minusnya lah ya semuanya. Jujur saya struggle nyari topik karena beneran belum ada ide mau dibawa kemana arah penelitiannya.

Saya nggak suka statistik dan saya sempet cari data masalah di klinik milik keluarga suami tapi datanya kurang bagus kalau mau dijadikan data masalah tesis. Suatu hari waktu matkul Metode Penelitian dosen saya kalau beliau bosen dengan tema tesis mahasiswa yang gitu-gitu aja. Beliau nanya apa nggak ada yang mau ngangkat tema global? Saya langsung tertarik dan bertanya jenis penelitiannya seperti apa kalau mau bahas kayak global health gitu. Beliau bilang kalau sejak pandemi ini (waktu itu tahun 2021) mahasiswa diijinkan penelitian tesis dengan metode systematic review (SR). Wah menarique sekali apalagi saya merasa kekuatan saya ada di membaca. Saya juga nggak suka ribet-ribet penelitian lapangan karena saya belum punya afiliasi institusi apalagi pas jaman COVID makin susah dapet ijinnya. Selain itu,  SR bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. 

Ide awal waktu itu adalah sistem kesehatan seperti apa yang mendukung life expectancy. Tapi setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing, sepertinya faktor yang lebih berpengaruh ke life expectancy itu adalah lifestyle bukan sistem kesehatan. Akhirnya setelah menggali sana sini saya menemukan data masalahnya di bertambahnya jumlah populasi Lansia Indonesia namun layanan kesehatan khususnya terkait long-term care masih sangat kurang. Singkatnya, judul tesis saya pada akhirnya adalah " Pengembangan Layanan Long-Term Care Terintegrasi bagi Lansia: Studi Systematic Review". 

Series of Exams

Di prodi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK), mahasiswa harus melewati 4 kali ujian untuk lulus. Nggak paham kenapa banyak banget yak huhu. Yang pertama adalah ujian pra proposal yang dilaksanakan pada 4 Desember 2021. Karena masih pandemi COVID, ujian dilakukan secara daring dan sistemnya semua dosen AKK yang bisa hadir akan memberi feedback. Jadi kayak dikeroyok gitu loh. Saya ditanyain apa sanggup melakukan penelitian kualitatif karena saya sendiri belum pernah ngelakuin dan di prodi AKK itu jarang yang ambil kualitatif.  Saya iyain aja asal nggak deket-deket sama statistik wkwk. Meski saya tau saya harus belajar sendiri gimana ngelakuin penelitian kualitatif karena sadly itu nggak diajarin di matkul Metode Penelitian maupun yang lainnya (#kesalahan1 ambil metode yang nggak umum dipakai di prodi).  Ujian kedua adalah ujian / seminar proposal yang dilakukan pada 1 April 2022 secara daring. Ujian inipun kesannya tiba-tiba karena saya disuruh maju tanpa feedback revisi dari dosbing heu. Penguji kali ini ada 5 orang,  yaitu 2 dari dosbing, 2 dosen internal AKK, dan 1 dosen penguji luar. Habis ujian proposal ini puyeng harus ngerevisi kayak gimana karena masukannya banyak banget wkwk. Kayaknya modelannya tuh waktu bimbingan komennya minimal tapi  waktu ujian maksimalπŸ˜‚

Banyak hal terjadi selama 2022. Meski ini terdengarnya cuma excuse tapi jujur masalah-masalah yang ada (utamanya masalah keluarga) affected me alot. I felt somehow demotivated but still I tried to do the research bit by bit. Ikutan webinar/workshop, belajar-belajar sendiri, mikir-mikir sendiri, sampek bingung-bingung sendiri wkwk makanya it took a lot of time. Mau gak mau saya harus mengajukan perpanjangan beasiswa dan alhamdulillahnya dapat durasi maksimal yaitu 6 bulan.

Target di tahun 2023 saya harus lulus eh qadarullah ternyata saya hamil.  Buyar deh semua rencana karena saya tepar dan mabok banget selama kehamilan. Rasanya otak tuh nggak bisa dipake maksimal wkwk. Apalagi saya nggak boleh stress jadi saya ngerjain penelitian “senyaman dan semampu” saya aja. Saya sempet konsul sekali di trisemester 3 karena ngerasa otaknya lebih fit. Saya berharap sebelum lahiran seenggaknya bisa seminar hasil but yeah it just did not work.

Fast forward akhirnya sampai juga di tahun 2024 LoL. Saya udah dapat SP dari kampus (seumur-umur perjalanan akademik baru kali ini πŸ₯²). Tapi ngerjain tesis sambil ngurus new born twinnies cukup challenging ya wkwk. Saya ngerjain dikit-dikit sambil curi-curi waktu, misal waktu mereka tidur atau pas menyusui disambi buka leptop. Alhamdulillah di tanggal 30 Januari 2024 seminar hasil bisa dilaksanakan. Untuk seminar hasil dan ujian tesis akhir nanti jumlah penguji dari eksternal bertambah 1 orang, sehingga total ada 6 penguji. Dan karena pandemi sudah berakhir, ujian dilakukan hybrid karena ada beberapa penguji yang bisanya datang online saja. Dramanya bayi-bayi njerit karena mereka nggak bisa tidur kalau nggak nen bundanya (masuk umur 3 bulan pada nggak mau minum susu dari botol). Anyway, ngerjain revisian selalu rasanya kayak ngerjain semuanya dari awal. Ini sih yang bikin antara satu ujian ke ujian lalu jedanya agak lama. Finally saya bisa ujian akhir tesis di tanggal 20 Mei 2024. Alhamdulillah kali ini bayi-bayi udah lebih gede jadi lebih sabar nungguin bundanya :)

Reflection on Master's Degree Journey

Apa saya menyesal mengambil S2 di Indonesia? Menyesal banget sih enggak juga ya…waktu memutuskan untuk kuliah disini karena prioritas keluarga, saya sudah menurunkan ekspektasi. Tapi nggak nyangka aja molornya lamaa banget hahaha soalnya saya biasanya orang yang nggak suka menunda-nunda dan disiplin. Tapi seninya kuliah di Indonesia itu memang karena ada banyak faktor yang mempengaruhi, nggak hanya dari faktor internal seperti motivasi saja tapi menurut saya lebih banyak ke faktor eskternalnya mulai dari dosen, petugas admin, aturan kampus yang dinamis, dsb. Cuma rasanya kayak ironi gitu dimana pas di Jepang mahasiswa yang dikejar-kejar dosen, disini bener-bener nggak dipeduliin. I began to wonder why I paid for this..tough the answer is obvious: hanya untuk ijazah ☹️  

Apa tujuan S2 saya tercapai? Sejujurnya alasan terbesar saya mau lanjut S2 di Indonesia itu harapannya bisa membuka peluang di dunia akademisi atau setidaknya memperluas networking. Tapi ya kok apesnya pas S2 pandemi COVID melanda, interaksi dengan dosen maupun teman juga sangat terbatas. Yasudah buyarlah semua cita-cita wkwk.  Tentunya nggak semua buruk ya. Sisi positifnya saya belajar ilmu baru, trus kalau disini tuh dituntut bisa ngerjain semuanya sendiri jadi otomatis saya punya skill baru.  Kalau di Jepang kan kerjaan dibagi jadi saya ngerjain bagian saya aja dan gak perlu bisa ngerjain lainnya (makanya skill nya sangat spesifik). 

Anyway, semua sudah terlewati dan alhamdulillah sudah tuntas kewajiban studi saya. Semoga ilmunya bermanfaat dan membuka peluang-peluang yang baik di masa depan aamiinn πŸ€²πŸ»πŸ˜‡


Biaya Bayi Tabung di Morula IVF Surabaya


Saya membuat postingan ini karena merasa saat mencari info terkait bayi tabung, nggak banyak yang merinci biayanya apa saja dan berapa. Postingan ini bukan untuk menunjukkan saya punya uang atau gimana, tapi benar-benar murni untuk kepentingan informasi bagi siapapun yang membutuhkan. Jika saya bisa menyebutkan angka-angka di bawah ini, semua rezeki dari Allah dan tentunya support dari keluarga. Alhamdulillah saya dan suami punya "privilage" untuk memilih dalam menentukan jenis promil dan juga dimana mau melakukannya. Suami lebih sreg memilih Morula karena melihat teknologinya yang lebih canggih dan mereka sudah berpengalaman selama 10 tahun sehingga protokolnyapun lebih komprehensif. Jadi memang Morula kalau dilihat dari segi harga mungkin lebih mahal dibandingkan dengan klinik fertilitas yang lain yang ada di Surabaya (sepengetahuan saya ya). 

Waktu saya nanya ke bagian kasir di Morula berapa estimasi biaya IVF, mbaknya jawab total biasanya sekitar 130-150 juta. Ada beberapa faktor yang menyebabkan biaya IVF berbeda-beda tiap pasangan, contohnya sebagai berikut:

  1. Kondisi klinis tiap pasangan yang berpengaruh ke jenis obat dan jenis injeksi beserta dosisnya, mungkin juga perlu prosedur khusus misal MESA/PESA/TESA/TESE, dsb.
  2. Pemilihan sperma dan teknis fertilisasi apakah mau ICSI atau IMSI
  3. Pilihan mau pakai inkubator biasa atau inkubator VIP yang ada time lapse nya. Embrio yang disimpan dalam inkubator biasa dalam waktu tertentu akan dikeluarkan dari inkubator untuk dicek kondisinya. Sedangkan jika menggunkana inkubator VIP, embrio tidak perlu keluar masuk inkubator karena sudah dapat diamati melalui kamera. 
  4. Pilihan untuk melakukan tes genetik seperti PGT-A atau tidak.
  5. Jumlah oocyte yang berhasil diambil saat OPU. Jika lebih dari 19 oocyte (seperti kasus saya) maka tagihannya berbeda (ditagihan tertulis fase OPU menjadi 2x).
  6. Jumlah embrio yang dibekukan. Jika lebih lebih dari 9 embrio ada tambahan biaya karena harus menambah cassete.  

Dan di Morula itu banyak promo dengan durasi tertentu yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pasien juga. Waktu itu kami ikut promo yang deposit 46 juta nanti dapet layanan yang senilai 50 juta. Waktu FET juga sempet dapet diskon 2,5 juta. Jadi perlu disadari bahwa itungan akhir masing-masing pasien bisa sangat berbeda ya, termasuk yang saya tuliskan disini itu hanya pada kasus saya saja tapi mungkin bisa dijadikan referensi untuk biaya kasaran tiap tindakan. 

Screening Awal 

29 Oktober 2022
  • Administrasi Klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Folavit 1000 mg 97.702
  • Osteosan 1000 mg 147.452
  • Santa-E 250 mg 117.882
  • USG 166.500
  • Biaya pasien baru 27.750
  • Buku rekam medis 33.300
Total (PPN dibebaskan) 1.092.060

29 Oktober 2022
  • Anti HCV 853.590
  • Anti HIV 790.320
  • AMH 990.120
  • Anti Rubella 810.300
  • Anti Toxoplasma 607.170
  • Estradiol 942.390
  • Faal Hemostasis 1.067.820
  • FSH 747.030
  • Glukosa darah sewaktu 74.370 
  • HBSAg 335.220
  • LH 738.150 
  • Progesteron 964.590
Total (PPN dibebaskan) 8.037.000

31 Oktober 2022
  • Administrasi Klinik 60.000
  • Sperm Analysis 600.000
Total  (PPN dibebaskan) 660.000

Stimulasi Sel Telur 

1 November 2022
  • Tindakan suntik 222.000
  • Suntik pergoveris 9.972.240 
Total (PPN dibebaskan) 9.186.000

3 November 2022
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • USG 166.500
Total (PPN dibebaskan) 710.000

3 November 2022
Cek Estradiol 942.390
Total (PPN dibebaskan) 849.000

3 November 2022
  • Suntik cetrotide 3.163.500
  • Suntik pergoveris 9.972.240
Total (PPN dibebaskan) 11.836.000

7 November 2022
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • USG 166.500
  • Suntik cetrotide 2.109.000
  • Suntik pergoveris 4.986.120
Total (PPN dibebaskan) 7.103.000

7 November 2022
Konsultasi dokter anastesi 388.500
Total (PPN dibebaskan) 350.000

9 November 2022
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Suntik cetrotide 1.054.000
  • Suntik pergoveris 2.261.070
  • USG 166.500 
Total (PPN dibebaskan) 3.704.500

10 November 2022
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • USG 166.500
Total (PPN dibebaskan) 710.000

10 November 2022
  • Cek estradiol 942.390
  • Cek progesteron 964.590
Total (PPN dibebaskan) 1.718.000

Ovum Pick Up

12 November 2022
  • Suntik buselin 1.957.416 
  • Jasa suntik 111.000
  • IMSI treatment 9.990.000
  • IVF treatment  phase I 40.959.000
  • IVF treatment phase II 10.323.000
  • Tindakan claneksi 239.011
  • Tindakan kalnex 39.960
  • Suntik cetrotide 2.109.000
  • Tindakan terfacef inj 726.115
  • Tindakan tofedex 133.200
  • IVF joining fee 1.942.500
Total (PPN dibebaskan) 61.758.921 (tapi saat bayar sekitar 57juta karena dapat diskon)

Embryo Freezing

19 November 2022
Embryo cryopreserve 4.440.000
Total (PPN dibebaskan) 4.000.000

19 November 2022 (ada tambahan 3 embrio di D6)
  • Cassete 1.110.000
  • Embryo crypreserve 4.440.000
Total (PPN dibebaskan) 5.000.000

Stimulasi Penebalan Rahim

24 Desember 2022
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • USG 166.500
  • Tindakan oestrogel(2) 999.000
Total (PPN dibebaskan) 1.610.000

7 Januari 2023
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • USG 166.500
Total (PPN dibebaskan) 710.000

12 Januari 2023
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • USG 166.500
Total (PPN dibebaskan) 710.000

2 Februari 2023 (kontrol karena haid tidak kunjung datang)
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Tindakan norelut 70.900
Total (PPN dibebaskan) 631.160

15 Februari 2023 (kontrol karena haid tidak kunjung datang)
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Tindakan norelut 110.583
  • USG 166.500
Total (PPN dibebaskan) 809.624

27 Februari 2023
  • Administrasi klinik 66.660
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Tindakan oestrogel (1) 999.000
Total (PPN dibebaskan) 1.460.000

9 Maret 2023
  • Administrasi klinik 66.000
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Tindakan oestrogel (2) 499.500
Total (PPN dibebaskan) 1.010.000

13 Maret 2023
  • Administrasi klinik 66.600
  • Konsultasi dokter 555.000
  • Tindakan oestrogel (1) 499.500
  • Tindakan utrogestan (24) 879.000
  • USG 166.500
Total (PPN dibebaskan) 1.952.000

Frozen Embryo Transfer

20 Maret 2023
  • Embryo thawing treatment 2.220.000
  • Embryo transfer 13.875.000
  • Embryo storage fee (1 tahun) 4.000.000
  • Tindakan diviti (10) 4.867.350
  • Tindakan oestrogel (1) 499.500
  • Tindakan ovidrel inj 1.443.000
  • Tindakan utrogestan (57) 2.087.000
Total (PPN dibebaskan) 26.122.500 (tapi saat bayar sekitar 23 juta karena dapat diskon)

Pasca Transfer & Hasil

27 Maret 2023 (kontrol karena pendarahan)
Prolution depot inj 277.223
Tindakan duphaston (15) 526.556
Total (PPN dibebaskan) 731.625

31 Maret 2023
Beta HCG kuantitatif serum 1.176.000
Total (PPN dibebaskan) 1.060.000

Total biaya IVF 145.640.000 (kisaran dengan error input dan diskon-diskon yang diterima) 


Pengalaman Bayi Tabung di Morula IVF Surabaya (3)


Stimulus Penebalan Dinding Rahim (2)

Alhamdulillah akhirnya setelah ditunggu-tunggu (padahal biasanya nggak ditunggu πŸ˜‚) si haid datang juga. Tanggal 27 Februari kontrol ke klinik dan dicek ketebalan dindingnya 0.3 cm.  Karena siklus sebelumnya dinding rahim saya belum mencapai ketebalan yang diharapkan, maka kali ini dosis gel estrogennya dinaikkan jadi 4x2. 

Setelah 10 hari, tanggal 9 Maret kontrol lagi dan ketebalan menjadi 0.73 cm. Hmm padahal ini dosisnya udah double, tapi ternyata ketebalannya nggak meningkat signifikan...saya mulai khawatir πŸ˜–  Kata dokter ditambah 3 hari lagi, semoga saja nggak turun dan ada kenaikan lah di hari Senin. Karena misalkan ini turun lagi, otomatis FET dicancel dan saya diminta istirahat selama 1 bulan. Dan next program kalau mau stimulus lagi harus pake suntik bukan yang dioles huhu. 

13 Maret waktu dicek ternyata ketebalannya ya gitu-gitu aja, 0.75-0.81 cm. Alhamdulillah yg penting nggak menurun, tapi mepet banget si ya sama standarnya. Cuma dokter memutuskan buat lanjut aja ke FET, toh masih ada waktu seminggu untuk stimulus sampai hari FET. Triple line alhamdulillah aman. Saya dijadwal FET pada tanggal 20 Maret. Selama seminggu sebelum FET, stimulus estrogen tetap dilakukan, ditambah progesteron yang harus dimasukkan dari bawah sebanyak 2x2. Waktu stimulus ini muncul keluhan nyeri perut beberapa kali. Hari itu kami juga akhirnya memutuskan untuk memasukkan 2 embrio dari hari ke-5 pasca fertilisasi (D5 embryo) atas saran dari dokter dan pertimbangan pengalaman penebalan dinding rahim yang nggak mudah. Dulu mikirnya "gampang lah FET bisa dicoba berkali-kali" tapii ternyata kan tidak semudah itu πŸ˜• Apalagi biaya untuk 1x FET tidak murah, beserta effort yang dikeluarkan juga lumayan. Bismillah aja deh gimana nantinya. 

H-2 saya tes PCR dan H-1 saya tes kadar progesteron. Kalau hasil progesteronnya jelek (di bawah angka 6), dokter akan membatalkan FET besok. Alhamdulillah hasil saya bagus dan tidak memerlukan suntikan progesteron tambahan, jadi saya bisa FET on schedule di tanggal 20 Maret. 

Frozen Embryo Transfer (FET)

Saya datang di Morula jam 8 pagi kurang dan ada 5 pasangan yang juga lagi nunggu, kemungkinan mau FET semua. Suami pas itu berangkatnya nyusul karena masih harus ke RS. Jam 8 lebih saya dipanggil buat ngobrol sama embryologist-nya Morula,tapi saya bilang saya terakhir aja soalnya suami masih otw wkwk. Alhamdulillah pas suami dateng, pas giliran saya masuk. 

Embryologist menerangkan bahwa embrio yang sebelumnya di-freezing, sudah di-thawing lebih dahulu dan alhamdulillah keadaan kedua embrio tersebut 100% oke (saya lupa nggak nanya parameternya apa aja). Kadang ada embrio yang habisnya di-thawing menunjukkan morfologi seperti perubahan warna dsb. Tapi keadaan ini tidak menunjukkan keadaan genetik ya, karena yang bisa diamati hanya morfologinya saja. Kalau ingin tau kondisi genetik maka bisa melakukan prosedur PGTA.  Aturan di Morula, pemilihan embrio yang ditransfer lebih dahulu adalah embrio D5 yang merupakan expanded embryo (ukurannya lebih besar) yang grade-nya good. Kami ditunjukkan gambar embrio yang akan dimasukkan, bentuknya memang agak kisut dibanding sebelum di-freezing. Katanya ini sih normal karena nanti dia akan ngembang ke ukuran awal. Terus kami diberi tau bahwa embryologist sudah melakukan assisted hatching ke embrio kami. Tujuannya membantu si embrio agar lebih mudah nempel ke rahim dengan cara "merusak" sedikit bagian dari zona pleusida milik embrio.  Jika ingin mengetahui lebih lanjut terkait assisted hatching bisa dibaca disini
sumber: invitra.com

Setelah briefing dari embryologist, harusnya saya masuk ruang operasi tapi nggak jadi karena bed di ruang tunggunya masih penuh wkwk. Yaudah saya jadinya nunggu di luar sambil diminta banyak minum air. Kalau ngerasa sudah kebelet pipis, bisa bilang ke susternya. Jadi proses embryo transfer dilakukan dalam kondisi kebelet pipis (ditahan, nggak boleh dikeluarin dulu wkwk) dan tanpa bius. Katanya sih kondisi kayak gini membuat kantung kemih turun lalu kalau di USG perut, uterus atau rahim bisa terlihat lebih jelas di monitor. Sekitar jam 10 kurang saya sudah ganti baju operasi. Tapi pas dicek USG perut, katanya kantung kemihnya masih kurang dikit lagi turunnya jadi saya diminta minum lagi. Jam 10 dokter masuk terus prosesnya berlangsung begitu cepat, kayaknya tiba-tiba selesai gitu aja wkwk. Saya liat jam di hape dokter keluar ruang operasi jam 10.11, jadi sekitar 10-15 menit sudah selesai. Apa sakit? Sedikit sakit ya pas bagian bawah dibuka dan ditahan biar buka terus. Tapi mungkin lebih ke nggak nyaman (?) nggak tau lah pokoknya saya tegang banget kalau bagian bawah diapa-apain itu, sampai ditegur dokternya karena gerak-gerak terus haha. 

Perut di USG sehingga di layar tampak posisi rahim sehingga dokter dapat "ngepasin"
posisinya embrio bener-bener dimasuin tepat di rahim (sumber gambar: mitosis.gr)


Setelah itu saya harus berbaring di bed selama 2 jam, dengan kondisi belum boleh pipis langsung wkwk. Hadeeuu kebelet pol padahal...nunggu 30 menitan lebih baru boleh pipis tapi pake pispot. Ya Allah aneh banget rasanya, otaknya sampai harus nyuruh-nyuruh biar mau keluar (karena ngerasa bukan di toilet ya, jadi sempet mampet padahal jelas-jelas kebelet tadi). Saya sempet 2x pipis di pispot. Akhirnya jam 12an boleh bangun dan turun dari bed terus sama cus pipis di toilet alhamdulillah. Saya baru keluar ruang operasi jam setengah 2 siang. Selagi nunggu diperbolehkan pulang itu saya diberi makan siang dan diberi briefing terkait pantangan-pantangan dan obat-obatan yang harus digunakan pasca FET. Untuk pantangan, sama kayak ibu hamil sih kayak nggak boleh kafein + makanan mentah, nggak boleh aktivitas berat (nggak harus bed rest tapi nggak dibolehin juga jalan yang jauh gitu), jangan pakai skincare atau kosmetik yang tujuannya memutihkan atau anti-acne, yaa gitu-gitu sih. Kalau obatnya ada banyak banget gaes...vitamin E, vitamin D, asam folat, oestrogel (estrogen yang dioles), utrogestan (progesteron yang dimasuin dari bawah), suntuk diviti (pengencer darah, katanya untuk membantu implantasi), dan suntik ovidrel. 
 
sumber google images

Hasil

Embrio katanya menempel di hari ketiga sampai kelima setelah ditransfer ke dalam rahim. Pasca FET, yang saya rasain itu kadang-kadang pusing, badan menghangat, dan sempet mual. Kebetulan pas momennya lagi Ramadhan, saya niat puasa karena memang nggak dilarang. Alhamdulillah hingga hari ketiga aman semua. Nah tiba-tiba hari Minggu sore saya kaget banget pas pipis ngeliat ada flek. Waduh apakah ini haid atau darah yang keluar karena implantasi...? Bingung banget karena tanggalnya juga barengan dengan tanggal haid biasanya. Saya lapor suster trus katanya disuruh bedrest. Okedeh akhirnya diputusin nggak puasa dulu. Besok paginya waktu masuin obat dari bawah kaget, di tangan suami ada bercak darah hmmm. Padahal setelah flek kemarin sore itu nggak keluar apa-apa lagi. Jam 9 pagi pas saya mandi saya langsung lemes pas liat darah merah, bukan flek coklat lagi. Saya lapor suster dan katanya saya disuruh langsung ke Morula buat dapat suntikan hydroxyprogesteron (suntiknya di pantat) dan tambahan obat oral duphaston. Saat pulang dari Morula saya cek itu masih ada fleknya tapi alhamdulillahnya mulai sore sampai besokannya sudah nggak ngflek lagi. Pasrah aja deh sama hasilnya nanti gimana...
Untuk tau berhasil tidaknya proses bayi tabung ini simpel aja, dengan cara cek darah di lab untuk tau kadar hormon bHCG 10 hari pasca FET. Saya nggak berniat untuk ngasi tau hasilnya disini hehe mungkin nanti di postingan selanjutnya kalau memang ada cerita lanjutannya ya πŸ˜‡

Review Pelayanan 

Menurut saya, kelebihan Klinik Morula IVF adalah karena mereka memang fokusnya di assisted reproductive technology (ART), teknologi yang dimilki lebih canggih, step by step proses sangat detil, dan ditunjang dengan pengalaman mereka yang sudah beroperasi selama 10 tahun di Indonesia sehingga data-data yang dimiliki pun lebih banyak  (maksudnya data seperti "untuk proses X paling bagus harus seperti ini caranya"). Dari segi pelayanan, dokter dan susternya ramah-ramah semua serta informatif. Saat kita menjadi pasien disana, kita akan diberi info siapa suster penanggung jawab kita. Jadi kalau ada apa-apa kita konsulnya ke suster tersebut. Nah saya expect-nya si suster bakal monitor terus menerus dan detil gitu kan, tapi ternyata enggak hehe. Saya memaklumi sih karena pasiennya Morula banyak, jadi mungkin harusnya jumlah suster ditambah ya jadi bisa bener-bener fokus. Kalau saya chat suster PJ, seringnya slow response meski memang pasti dijawab. Intinya jangan expect suster bakal rajin ngecekin atau ngingetin kita, tapi kitanya yang harus proaktif nanya (kalau memang butuh nanya ya). Kalau dr.Benny sendiri, saya pernah konsul by DM instagram (karena dokternya aktif disitu wkwk) dan lumayan fast response. Tapi overall dari segi harga dan pelayanan, saya bisa bilang kalau disini okee 😁


Pengalaman Bayi Tabung di Morula IVF Surabaya (2)

Part 1

Fertilisasi dan Embryo Freezing 


H+1 OPU (D1) saya ditelpon pihak embryologist Morula kalau mereka mau update perkembangan telur dan sperma yang sudah dibuahi. Dari 22 oocyte yang berhasil "dipanen" saat OPU, 1 nggak bisa mature dan 1 abnormal sehingga ada total 20 oocyte yang lanjut ke tahap pembuahan dengan sperma. Alhamdulillah keduapuluh oocyte tersebut berhasil dibuahi 😭 dan akan ditunggu perkembangannya hingga H+3. Biasanya di D3 bisa didapat 50% zigot yang bagus dari D1. dari Sejauh ini hasilnya sudah melebihi eskpektasi kami. Data dari Morula sendiri biasanya yang berhasil dibuahi itu 70% dari oocyte yang ada, sedangkan di kami bisa 100%. Jadi kami cukup optimis hasil ke depannya juga bagus, bismillah....πŸ™

H+3 OPU (D3) saya diinfo hasil hari ini dari 20 zigot ada 8 good, 8 moderate, dan 4 poor embrio. Alhamdulillahh lumayan banget bisa dapet yang good lebih dari 5 😌 jujur lega poool rasanya karena artinya cadangan saya cukup untuk dilakukan beberapa kali embryo transfer nantinya. Yang bikin stres itu kan kalau hasilnya ternyata yang bagus cuma 1....kalau kondisi kayak gitu chance buat ngulang proses bayi tabung dari awal juga besar. Kata embryologist nya, perkembangan embrio  tadi akan ditunggu sampai hari ke 5 karena survival rate kalau di D3 sebesar 70% sedangkan di D5 bisa mencapai 90%-100% . Biasanya dari data Morula sendiri yang berhasil sampai ke hari kelima sekitar  30% jadi targetnya akan ada 2-3 embrio yang grade-nya good. 
Oh iya ada parameter tertentu dalam grading embrio (excellent-good-moderate-poor), tapi yang excellent ini jarang banget sih katanya. Parameternya adalah sbb:
1. 8 sel di hari ke 3
2. Fragmentasi kurang dr 10% 
3. Ukuran sama

H+5 OPU (D5) Embryologist menginfokan bahwa hari ini komposisi embrio kami menjadi  9 good, 4 moderate, dan 7 poor. Alhamdulillaah! Kesembilang embrio dengan grade good langsung dibekukan sedangkan yang poor tidak diteruskan. Karena masih ada yang 4 yang moderate, embryologist mengatakan bahwa keempat embrio ini akan ditunggu sampai D6, siapa tau ada yang berubah menjadi good (SOP nya sebenernya cukup sampai D5 aja, jadi ini di beberapa case aja kalau memang terlihat ada yang potensial). Parameter untum embrio good di D5 adalah adanya bakal janin dan bakal plasenta. Waktu itu kami diinfo kalau nantinya ada penurunan kualitas embrio sebesar 5%-10% akibat adanya proses freezing. Lalu, biasanya survival rate embrio saat ditransfer ke rahim itu sebesar 90% pada embrio D5. Oh iya saat embryo transfer nanti si embrio yang masih beku akan di-thawing dulu lalu akan dilakukan pengecekan seperti warna dsb untuk memastikan bahwa embrionya tidak ada perubahan.

H+6 OPU (D6)  Allahuakbar dikabari hari ini ada tambahan 3 embrio yang good jadi total kami punya cadangan 12 good embryo 😭 bener-bener nggak nyangka sama hasilnya sampai tahap ini karena kami memulai semuanya dengan nggak terlalu optimis..semoga pertanda baik ke depannya aamiin. Ada tambahan embrio ini juga ada tambahan biaya ya artinya. Untuk detil biaya nanti akan saya buatkan rinciannya di postingan berbeda.

sumber: silver leaf fertility

FYI untuk freezing embrio ini ternyata bukan di "kulkas" ya, jadi nggak butuh listrik. Tekniknya menggunakan cryopreservation, yaitu penyimpanan struktur biologis yang rentan terhadap kerusakan dengan didinginkan di temperatur yang sangat rendah, contohnya dengan menggunakan cairan nitrogen (contohnya bisa dilihat di foto di atas ya, jadi si embrio dimasuin ke dalam wadah yang nantinya "dicemplungin" di dalam cairan nitrogen). Ya ampun itu gentong nitrogennya mirip banget sama yang aku pake sehari-hari dulu di lab buat ngebekuin organ tikus...nggak nyangka saya bakal ngelakuin yang sama dengan embrio sendiri 😡 Di Morula sendiri penyimpanan embrio bisa dilakukan sampai dengan 7 tahun (padahal saya berharap bisa lebih lama dari itu hehe).  

Stimulus Penebalan Rahim 

Beberapa hari setelah OPU, saya haid lagi. Awalnya kaget tapi katanya normal karena saat proses OPU itu ovulasinya kan dibuat jadi haidnya pasti maju dibanding tanggal biasanya. Saya disuruh kontrol jika haid siklus kedua setelah OPU keluar. Tanggal 23 Desember haid siklus kedua datang jadi saya langsung booking buat konsul di hari Sabtu nya untuk mulai persiapan Frozen Embryo Transfer (FET).

Saat di USG ketebalan dinding rahim saya 3,9 mm. Syarat FET adalah dinding rahim harus ada triple line (biasanya terlihat di USG) dan ketebalan minim 8 mm. Untuk menebalkan dinding rahim agar sesuai target saya harus distimulus hormon estrogen. Kali ini bentuk stimulusnya dalam bentuk salep (alhamdulillah!) yang harus saya oles sehari 4x di jam 7 pagi, jam 12 siang, jam 5 sore, dan jam 10 malam selama 2 minggu. Jika di hari ke 21 haid ketebalan yang diharapkan belum memenuhi maka FET akan dicancel dan proses stimulasi diulang di bulan depannya dengan dosis yang berbeda. Jika 2 minggu setelah stimulasi ketebalan yang diharapkan terpenuhi, maka selanjutnya selama 5 hari akan diberi hormon progesteron yang harus dimasuin dari bawah (miss V) lalu H-1 FET akan dicek kadar progesteronnya. Jika kadarnya tidak memenuhi standar maka FET juga bisa dicancel. Ribet yha emang hehe. Biasanya hasil FET bisa diketahui H+11 setelah FET dengan tes beta HCG.

sumber: wellchem.com


Tanggal 7 Januari 2023 kontrol dan pas dicek ketebalannya 7mm jadi stimulusnya diperpanjang selama 5 hari. Tanggal 12 Januari disuruh kontrol lagi dan saat dicek ketebalannya turun menjadi 6.6 mm 😭😭😭Jujur saat tau itu agak shock..baru tau ternyata ketebalan dinding rahim bisa turun meski stimulus ditambah huhu. Karena hasilnya begini dengan berat hati FET nya harus dicancel dan akan dicoba kembali di siklus haid berikutnya. Waktu saya tanya-tanya ke perawat ternyata kasus kayak gini itu banyak, jadi nggak perlu khawatir. Ada yang dapet triple line nya susah, ada yang udah setahun tebelnya rahim nggak bisa mencapai 8 mm, dsb. Jadi memang nggak semudah itu dan harus sabaaaarrr.

Trus gaes saya 2 bulan ini belum haid sama sekali meski udah 2x dipancing pakai norelut dengan dosis yang berbeda 😩 Heran banget nggak pernah nggak haid sebelumnya. Pas dicek USG ke dokter ya gak ada apa-apa juga sih, jadi ya memang mungkin regulasi hormonnya aja yang belum pas. Kalau saya baca-baca, oestrogel (salep hormon estrogen yang saya pakai) punya efek samping mengacaukan siklus haid. Jadi curiganya kemungkinan besar gara-gara ini sih. Doakan ya semoga bisa segera FET 😒

Pengalaman Bayi Tabung di Morula IVF Surabaya (1)

Lanjutan dari cerita sebelumnya  ya gaes...

Konsul dengan Dokter di Morula IVF Surabaya

Jumat 29 Oktober 2022 saya booking buat konsul dengan dr. Benediktus Arifin (dr. Benny) di Morula IVF Surabaya dan dapet jadwal di hari Sabtu jam 14.20. Morula IVF Surabaya letaknya di lantai 5 National Hospital di daerah Surabaya Barat. Sebenernya agak jauh ya dari domisili kita tapi karena udah niat yaudah gimana lagi dijabanin meski nanti tau harus bolak balik kesanaπŸ˜…Oh iya di Morula sendiri dokternya ada beberapa yang bisa dipilih, tapi kenapa kami milih dr. Benny? Nggak ada alasan khusus sebenernya. Cuma ada temen deket yang sebelumnya pernah program bayi tabung (next saya nyebutnya IVF aja yah biar lebih singkat wkwk) sama beliau, meski hasilnya masih belum berhasil, dan dokternya sangat informatif (bisa kepoin instagramnya). 

Saat konsul saya dan suami ngobrol dengan dr. Benny baiknya gimana. Setelah mencoba ini itu apa memang perlu kami menjalani prosedur In Vitro Fertilization aka IVF?  Jawaban dr. Benny "ya terserah sebenernya, tidak ada yang namanya harus ini atau harus itu, termasuk IVF juga tidak harus." Apa sebaiknya kami menunggu sampai gejala-gejala syndromnya berkurang atau lebih normal? "Sekarang apa yang disebut normal itu? Mau sampai kapan ditunggunya?" Tapi pastinya untuk promil memang lebih awal lebih baik karena umur sangat berpengaruh. Dengan usiaku sekarang dan kasus PCOS kalau mau inseminasi buatan itu chance nya di bawah 15%, sedangkan kalau IVF chance nya bisa sampai 60%. Jadi bismillah kami putuskan untuk menjalani prosedur IVF. Saat itu saya di USG TransV dan terlihat  ada 25 telur kecil. Selanjutnya, sore itu juga saya dan suami tes darah mencakup hormon lengkap sama tes HIV dkk. Malem hasilnya keluar dan alhamdulillah hasilnya normal. Hasil lab ini nantinya akan menentukan kadar hormon yang akan disuntikkan untuk stimulasi sel telur. Apa ada kemungkinan hasil tes darahnya nggak bagus jadi nggak lolos screening buat IVF? Ada, tapi biasanya di kasus-kasus khusus saja atau di pasangan yang usianya sudah lebih berumur (seperti di atas 40 tahun).  

Saya sempat bertanya kepada dr. Benny terkait hasil hormon saya. Disitu terlihat bahwa selain hormon AMH saya yang memang angkanya di atas normal, hormon-hormon "perempuan" saya yang lainnya normal-normal saja. Saya jadi bingung, karena yang saya pahami katanya PCOS itu karena kekurangan hormon "perempuan". Lalu sebenarnya PCOS itu nggak normal dimananya? Ternyata saya yang salah memahami. Kata dr. Benny, pada wanita dengan PCOS yang terjadi adalah hiperandrogenisme yaitu tingginya hormon androgen (testosteron, hormon "laki"). Penyebabnya bisa karena ada gangguan pada ovarium/kelenjar adrenal/kelenjar pituitari, atau efek samping obat-obatan tertentu, atau adanya resistensi insulin (sumber).  Bisa disebut PCOS kalau memenuhi 2 dari 3 ciri ini yaitu:

  • Kadar AMH yang tidak normal (cenderung tinggi)
  • Adanya ciri hiperandrogenisme (tumbuh rambut di beberapa bagian tubuh seperti tangan/kaki/kumis, suara lebih berat, haid tidak teratur, dll) 
  • Hasil USG transV terlihat adanya polycystics (kista kecil-kecil)  

Protokol IVF

Stimulasi Sel Telur & Analisis Sperma

Hari Minggu tanggal 31 Oktober 2022 malem kami dateng ke Morula lagi untuk suntik Pergoveris karena suntikan pertama harus di Morula. Pergoveris sendiri mengandung hormon FSH dan LH untuk menstimulasi perkembangan folikel. Kalau belum pernah suntik sebelumnya, di sesi suntik perdana ini bakal diajarin sama susternya buat suntik mandiri. Kalau mau suntik di Morula terus juga bisa tapi pastinya ada biaya tambahan (sekitar 200ribu) dan harus mau bolak balik dari rumah ke Morula. Suntiknya juga harus di jam yang sama, antara jam 18.00-21.00, saya pilih jam 19.30.  Saat itu saya juga sekalian ambil suntikan untuk  3 hari berikutnya karena mau suntik mandiri  di rumah. Alhamdulillah dari Morula dapet suntikan yang jenisnya pen, kayak suntik insulin gitu, jadi jarumnya tipis hehe. Oh iya nyuntiknya di bagian perut yaa.

Suntik Pergoveris

Senin pagi tanggal 1 November kami balik ke Morula lagi untuk sperm analysis. Sorenya hasil sudah keluar dan kami shock berat karena hasilnya diluar ekspektasi. Suami sebelumnya sudah 3x cek dan hasilnya selalu normal. Tapi kali ini hasilnya yang normal hanya 1% normal sedangkan 99% yang lain defect di morfologi, pergerakan lambat, serta katanya ada kayak penggumpalan gitu. Kasus ini disebut teratozoospermia. Kata dokter sih idealnya laki itu dicek tiap 3 bulan karena perubahannya cukup dinamis. Terakhir kali kami cek memang sudah lama sekali di tahun 2021 ketika kami inseminasi yang kedua. Namun nggak perlu terlalu khawatir karena lebih dinamis, "menyembuhkannya" juga relatif lebih mudah dibanding masalah infertilitas pada perempuan. Suami saya cum disuruh makan sehat, tidur dan olahraga teratur,minum vitamin, dan jangan pakai celana yang ketat. Meski hasil di suami nggak bagus, hal ini nggak terlalu berpengaruh ke programnya karena ini IVF dimana nanti spermanya pun dipilihin. Ngaruhnya ke pilihan kami untuk teknik pemilihan sperma yang akan dipakai untuk pembuahan, apakah mau pakai metode ICSI atau IMSI.  Metode ICSI hanya menggunakan perbesaran 400 kali jadi morfologi dari sperma nggak seberapa kelihatan. Sedangkan metode IMSI mampu melakukan perbesaran sampai 6000 kali jadi morfologi sperma satu per satu dapat diamati sehingga nantinya akan dipilih sperma yang paling bagus. Karena hasil suami kayak gini, kami putuskan untuk pakai metode IMSI agar peluang keberhasilannya semakin naik.

Kamis 4 November ada jadwal kontrol dengan dr. Benny untuk melihat perkembangan folikelnya. Syarat untuk OPU adalah minimal ada 3 folikel yang ukurannya 18 mm. Saat itu, terlihat kalau jumlah folikel yang perkembangannya on the track baru ada 3 buah. Awalnya mau dinaikkan dosis suntikannya tapi ternyata hasil lab estradiol saya bagus, jadi dosisnya tetep dan dilanjutkan selama 4 hari plus. Mulai hai Jumat ada tambahan injeksi cetrotide selama 3 hari jadi sehari saya ada 2 jenis suntikan. Cetrotide ini fungsinya untuk mencegah ovulasi dan memberi waktu pada telur untuk dapat tumbuh lebih baik. Ukuran jarum suntik kali ini lebih besar jadi mayan sakit hehe bahkan sampai keluar darah kadang-kadang. 

Suntik Cetrotide

Senin 8 November kami kontrol lagi dan ternyata hasilnya belum maksimal. Baru ada 3 folikel yang angkanya mepet-mepet 18 mm. Alhasil stimulasi ditambah lagi menjadi 2 hari suntik.  Hari Rabunya kami kontrol dan lagi-lagi hasilnya belum sesuai harapan (tinggal dikiit lagi). Jadi sama dr. Benny diputuskan nambah 1 hari suntik jadi total stimulasinya 11 hari. Karena jumlah suntik pergoverisnya nggak genap, yang terakhir saya nggak dapet suntuk jenis pen, tapi suntik biasa yang jarumnya gede. Baru kali ini saya sampai nangis habis disuntik...πŸ˜‚

Kamis 11 November merupakan kontrol terakhir saya sebelum OPU karena hari itu sudah ada 3 folikel yang ukurannya melewati 18 mm.  Seingat saya saat itu terlihat ada 19 folikel tapi yang memenuhi standar ya cuma 3 tadi, ada beberapa yang mepet 18mm sedangkan sisanya di bawah 18 mm jauh. Sejujurnya saya agak sedih sih ternyata meski udah stimulasi 11 hari yang standar cuma ada 3πŸ˜”tapi yasudah gimana lagi kan...OPU dijawalin di hari Sabtu 13 November sehingga di hari Kamis itu saya harus disuntik pemecah sel telur, namanya ovidrel/superefact, yang berisi hormon HCG (dalam 36 jam harus diambil sel telurnya). Dosis suntikannya ditentuin dari hasil lab hari itu, jadi pas itu kami nunggu sampai jam 9 malam di pakuwon mall karena jam setengah 10 malam tet harus suntik di Morula dan nggak boleh telat. Pas lihat hasil tes hormon estradiolnya alhamdulillah bagus (angkanya tinggi sekitar 5000 yang menunjukkan kemungkinan besar di dalam folikel ada oocyte, kalau hasil estradiol ini nggak ada peningkatan biasanya tanda kalau nggak ada oocyte yang berkembang jadi di hari ke 4 biasanya sudah distop alias nggak dilanjutin stimulasi sel telurnya). Rencana pas OPU nanti semua folikel yang ada akan diambil (baik yang ukuran 18 mm ke atas atau kurang) karena bisa saja ada oocyte di dalam folikel yang lain dan oocyte yang immature pun bisa jadi mature setelah 1 hari dipanen. 

Trus suami diapain? Karena suami nggak sampai harus operasi jadi ya suami nggak diapa-apain wkwk. Tugasnya adalah mengeluarkan sperma sesuai jadwal yang sudah ditentukan hehe. Jadi sperma dikeluarkan beberapa sebelum hari OPU dan saat hari OPU untuk menjamin bahwa sperma yang dipakai untuk membuahi sel telur nantinya memang "fresh" (saya agak lupa kapan pasti tanggal pastinya karena waktunya agak bergesar dari jadwal akibat jumlah hari stimulasi telur saya yang nambah).

Side effect waktu proses stimulasi sel telur ini lumayan kerasa ya. Perut saya lebam karena dicubles berkali-kali. Trus keluhan lainnya badan encok kayak sedang haid dan terkadang perut sakit juga. Nah terkait nyeri perut ini karena disebabkan sel telur yang membesar dan masalahnya nggak cuma 1 sel telur saja yang besar seperti pada wanita umumnya, melainkan bisa belasan sampai dua puluhan. Saya sempat sekali terbangun di tengah malam karena merasa nyeri. Makanya untuk mengurangi rasa nggak nyaman selama proses ini saya dianjurkan makan banyak protein, seperti makan putih telur 3-6 biji sehari. Kalau eneg, bisa dikombinasi dengan susu atau ikan. Oh iya ada pantangan lain juga seperti nggak boleh minum teh/kopi karena ada kandungan kefeinnya.

Ovum Pick Up (OPU)

Saya mendapat jadwal OPU jam setengah 9 pagi. Jam setengah 8 saya sudah sampai di Morula dan ternyata prosesnya gercep banget. Saya langsung disuruh masuk ruang tunggu operasi, ganti baju, pasang infus, lalu tinggal nunggu giliran masuk. Agak kaget ruangan operasinya ternyata lumayan gede soalnya dari luar kliniknya tuh keliatan kecil. Saya nunggu sekitar 1 jam karena jadwalnya mundur jadi jam 9. Selama nunggu itu saya cuma bisa tiduran sambil hapean trus saya bolak balik ke kamar mandi wkwk padahal udah puasa 8 jam. Jam 9 kurang akhirnya saya masuk ke ruang operasi dan langsung dibius total. Karena udah pernah 2x bius total, saya nggak tegang operasinya tapi lebih takut kondisi sel telurnya gimana trus bisa dapet berapa huhu. 


Saya bangun kira-kira jam setengah 11an trus dibolehin untuk makan minum (disediakan oleh Morula). Alhamdulillah kali ini nggak ada side effect dari biusnya karena saya nggak muntah dan nggak menggigil. Saat saya makan, seorang suster mengahmpiri saya dan menjelaskan hasil operasi tadi. Katanya dari tindakan OPU tadi berhasil diambil sebanyak 22 folikel dan semuanya berisi oocyte. Jadi saya punya 22 oocyte! Masya Allah😭Nggak nyangka bisa dapet sebanyak itu karena sudah agak pesimis pas kemarin dikasi tau yang memenuhi standar cuma ada 3 folikel aja... Tapi jumlah 22 ini agak "over" maka saya disuruh suntik cetrotide 2 hari untuk mencegah terjadinya Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS)  serta disarankan untuk tetap konsumsi putih telur. Jam setengah 12 setelah saya sudah nggak merasa pusing dan sadar sepenuhnya saya diperbolehkan pulang.  Selain ada tambahan suntikan tadi, saya juga dikasi beberapa obat seperti anti nyeri dan antibiotik. 

Besokannya dan sehari setelahnya perut saya nggak enak banget, kembung mual parah. Padahal habisnya OPU yang dulu nggak ada keluhan sama sekali. Bagian bawah sebenernya juga aman nggak sakit kok, nggak tau kenapa perutnya malah yang bermasalah. Suami akhirnya notice salah satu obat-obatan dari dokternya mengandung dexketoprofen. Kayaknya saya "keracunan" alias nggak kuat lambungnya karena terlalu strong. Akhirnya nggak diminum obatnya dan memang alhamdulillah langsung berhenti mualnya. 

Mungkin ada yang bingung ya katanya ada 3 folikel yang memenuhi standar tapi kok bisa jadi ada 22 oocyte?  Jadi folikel itu cangkang telur dan oocyte itu isinya. Dalam 1 folikel, kadang ada isinya 1 oocyte kadang nggak ada isinya atau bisa juga isinya 2 (tapi ini artinya cacat karena pembelahan nggak sempurna). Folikel yang ukurannya di bawah 18 mm belum tentu nggak ada oocyte nya, dan berlaku sebaliknya. Jadi nggak ada yang tau jumlah oocyte nya sampai folikel-folikel itu dipanen. Sedangkan sebutan ovum atau telur merujuk pada oocyte yang sudah mature dan keluar dari folikel. Ovum yang berhasil dibuahi sperma disebut zigot dan nantinya setelah melalui beberapa tahap pembelahan namanya berubah menjadi embrio

Bisa baca lebih detil disini




Pake Behel (Lagi)


Saya lumayan khatam juga tentang perawatan gigi. Waktu saya SD, susunan gigi saya tuh berantakan banget. Gigi atas maju (hampir tongos) sedangkan gigi bawah tumpuk-tumpuk, ada yang dempet ada yang miring gitu, intinya kacau wkwk. Kenapa kok bisa gini? Karena rahang saya kecil kayak mama, tapi giginya gede-gede kayak ayah. Dan adik-adik saya juga sama kayak saya, gigi mereka nggak rapi. Cuma dari kami bertiga kayaknya saya yang paling parah. Mama sendiri sejak jaman mudanya punya banyak masalah sama gigi. Pernah dioperasi gusi sampai dipasang behel juga meski nggak sampai kelar perawatannya.

Karena pengalaman mama saya sendiri, beliau aware banget dengan kondisi gigi saya sejak saya menampakkan tanda-tanda gigi berantakan. Waktu saya kelas 4 atau 5 SD gitu, sekitar tahun 2003, saya sudah dibawa ke orthodonthist di Surabaya. Tahun segitu masih belum banyak dokter gigi ortho yang ada. Salah satu yang paling terkenal waktu itu adalah drg. Jusuf Sjamsudin, Sp. Ort yang prakteknya ada di Jl. Cempaka. Saya masih inget banget kalo kontrol itu nunggunya harus berjam-jam karena antriannya selalu puanjang. Antri 2-3 jam tapi pas masuk cm 10 menit wkwk. Waktu itu gigi saya harus dicabut 4 biji, 2 gigi susu dan 2 gigi permanen. Seinget saya sakit sih waktu pake behel itu, tapi saya cuma nangis sekali aja pas puasaan karena nggak bisa makan. Sisanya, ya masih bisa ditahan lah sakitnya. Saya pakai behel ini kira-kira 2,5 tahun sampai kelas 1 SMP. 2 tahun pakai yang permanen, setengah tahun yang pake behel lepasan. Jujur enakan yang permanen loh karena saya nggak perlu ribet pasang copot kawatnya. Untuk di dokter Jusuf waktu total paketannya 10 juta itu all in untuk perawatan behel yang biasa (bukan yang jenis clear/transparan yang lebih mahal), jadi tiap kontrol nggak perlu bayar lagi selama 2  tahun itu. Oh iya efek dari pemakaian behel yang lama adalah saya nggak bisa gigit makanan. Apapun saya potek dulu jadi kecil biar bisa langsung makan dan kebiasaan ini kebawa sampai saya udah copot behel.

Sebenernya apa sih  behel itu? Diambil dari web HelloSehat, behel adalah alat berbasis kawat yang digunakan oleh ortodontis untuk memperbaiki gigi atau rahang yang tidak rata dan gigi yang bertumpuk. Tujuannya untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan seperti gigi tidak rata, plak, gigi tidak beraturan, pola gigitan yang tidak benar, bakteri, penyakit gusi , dan lain-lain. Nggak enaknya pakai behel adalah yang pertama pasti sakit, bikin sering kegigit karena perubahan bentuk mulut, sering kebentur antara behel dengan bibir atau bagian dalam pipi atau lidah yang akhirnya bikin luka atau berdarah dan berujung pada sariawan.

Sumber : FDC Dental Clinic



Sumber: toothsignature.com


Setelah perawatan behel selesai pas jaman SMP itu saya selama setengah sampai satu tahun masih pake behel yang non permanen. Fungsinya cuma menjaga aja biar giginya tuh nggak berubah-ubah lagi. Sama dokter Jusuf disuruh pakai behelnya pas tidur aja dan selama nggak ada keluhan, nggak usah kontrol lagi. Jadi bertahun-tahun setelah itu saya nggak pernah kontrol dan behel non permanen pun saya nggak pakai (males lah ya! wkwkw). Nah, beberapa tahun belakangan ini emang keliatan banget kalo gigi saya yang bawah ada yang miring lagi dan gigi atas mulai maju ke depan. Tapi nggak kepikiran buat pasang behel lagi, kayak buat apa gitu udah males haha. Lagian keluar duitnya juga nggak dikit dan perubahan yang ada nggak ganggu-ganggu banget kok. Trus apa yang bikin saya dibehel lagi?

Ceritanya gara-gara pas saya kena GERD di akhir tahun 2018. Saya kan dibawa suami ke dokter spesialis penyakit dalam konsulen gastro. Waktu cek-cek tubuh saya, dokternya ngomentarin susunan gigi saya yang berantakan. Terus kata beliau, produksi asam lambung saya yang mungkin terlalu banyak bisa karena berbagai faktor, salah satunya bisa karena faktor anatomi pencernaan. Contohnya, struktur mulut dan gigi itu ngaruh juga karena masih termasuk dalam sistem pencernaan. Dari situ, suami bilang ke saya kalau dia punya duit ntar dia pingin pake behel lagi (suami dulu pernah pake pas sebelum nikah tapi habis itu berhenti tengah jalan) dan saya juga ikut pake aja sekalian. Akhirnya, niatan itu terealisasi di tahun 2020 sekitar bulan Oktober. 

Kali ini, saya dan suami perawatan gigi di Orthodontist.id by drg. Dhani Agustina Sp.Ort. di Jl. Klampis Harapan. Kenapa kesini? Awalnya cuma riset by google aja mana dokter ortho yang dekat dengan tempat tinggal kami. Setelah itu saya chat beberapa klinik tersebut untuk nanya harganya dan pilihan jatuh ke dokter Dhani ini. Ternyata sekarang sudah ada teknologi baru yang namanya Behel Damon. Katanya sih lebih cepet perawatannya, lebih nggak sakit, dan nggak perlu kontrol sering-sering ke dokter. Tapi ya harganya lumayan juga hehee sekitar 20 juta, kalau yang clear/transparan maka lebih mahal lagi. Untuk perawatan behel konvensional di dokter Dhani kena 7,5 juta plus tiap kontrol bayar 175 ribu. Tentunya kami pilih yang konvensional aja wkwk. Apa bedanya behel konvensional dengan behel damon, bisa baca artikel ini ya. 

Udah setahun lebih saya pake behel lagi dan alhamdulillah gigi udah balik rata kayak dulu. Saya pinginnya sih segera dicopot ya tapi kata dokternya gigi atas saya masih belum mundur bener. Maunya dokter sih saya disuruh operasi gigi belakang saya biar hasilnya lebih maksimal gitu. Tapi jujur saya udah males operasi segala macem, apalagi biaya kalau operasi satu gigi itu 2,5 juta. No thank you wkwk. Saya rasa udah cukup lah kayak gini, semoga aja bisa segera dilepas aamiin!


Sumber: globalestetik.com


Drama Gelombang Kedua COVID-19 2021


Ini cerita yang sangat-sangat terlambat sih. Cuma baru ada mood buat nulis tentang ini sekarang hehe. Dulu nggak kepikiran buat dijadiin tulisan, tapi setelah dipikir-pikir kejadian gelombang kedua COVID-19 di tahun 2021 kemarin itu cukup membuat heboh dan ketakutan dimana-mana, termasuk keluarga saya. Makanya kayaknya sayang yah kalau nggak diabadikan dalam tulisan 😊

Ceritanya akhir Juni 2021 (agak lupa tanggalnya)  saya nginep semalem di rumah mertua karena sorenya mau vaksin dosis kedua di Klinik Nurani, klinik punyanya mertua di daerah Sukodono. Waktu itu saya nggak enak badan karena KIPI meski nggak separah waktu habis vaksin dosis pertama. Jadi saya lebih banyak tiduran di kamar, nggak interaksi sama anggota keluarga lain. Besokannya saya dan suami udah balik ke apartemen lagi dan saat itu semua baik-baik aja kondisinya. Hari Seninnya, saya mencuri dengar suami lagi telponan sama budhenya, yang memang dari dulu sudah lama tinggal bareng sama mertua. Katanya sejak hari Jumat lalu (waktu kami posisi di rumah mertua itu) beliau sebenarnya sudah nggak enak badan, keluhannya mual muntah-muntah. Sama suami disarankan untuk PCR langsung karena curiga tanda-tanda COVID-19. Waktu gelombang varian Delta itu kan memang virusnya nyerang lambung juga, jadi banyak pasien yang gejala awalnya itu masalah di perut. Mungkin agak beda sama gelombang varian Omicron yang terjadi sekarang, dimana gejalanya mirip banget sama flu biasa. Besoknya hari Selasa di grup WA keluarga suami, saya kaget lihat ibuk mertua ngeshare kalau hasil PCR nya positif. Suami baru cerita kalau ibuk hari Senin itu badan nggak enak kayak nggreges gitu, meski waktu swab itu badan udah enakan katanya. Terus budhe ternyata pas hari Jumat malam itu dengan posisi nggak enak badan pergi ke Kendal Ngawi, rumah neneknya suami, karena ada tamu penting jadi mau nggak mau harus pulang. Dan ternyata nya lagi neneknya suami posisi juga sakit sekarang. Ya Allah...udah bisa dipastikan lah kalau ini COVID-19 klaster keluarga... 😰

Di hari Rabu, saya dan suami nengok ke rumah mertua buat nyiapin semua obat dan peralatan perang plus briefing orang rumah protokol isoman kayak gimana, antara lain:

  • Kamar pasien positif dibedakan dengan yang sehat, kalau bisa baik kamar tidur dan kamar mandi sendiri-sendiri. Kalau nggak bisa, untuk pemakaian kamar mandi misalnya sebaiknya diberi jeda.
  • Semua orang di rumah wajib pakai masker double.
  • Peralatan makan kalau bisa yang sekali pakai saja untuk pasien positif, jadi nggak perlu nyuci.
  • Baju didisinfektan terlebih dahulu sebelum dimasuin keranjang baju kotor, nyucinya juga dipisah dengan yang sehat.
  • Dalam sehari lapor ke suami 3x terkait saturasi, nadi, dan suhu tubuh. 
  • Mbak rewang dijadikan suster dadakan dengan dibekali APD (baju kayak hazmatnya beli di marketplace, tapi rada tipis. Kalau yang kayak hazmat beneran entah harganya berapa..)
  • Makan minum air yang banyak, perbanyak buah sayur. Tapi secara umum bebas makan apa aja yang penting harus makan. Minum obat dan vitamin sesuai arahan dokter.
  • Berjemur tiap hari.
  • Sedia tabung oksigen buat jaga-jaga.

Suami juga langsung nyuruh bapak mertua, adik ipar, dan rewang di rumah untuk di swab semua. Yang dikhawatirkan banget itu bapak, karena beliau punya komorbid jantung dan diabetes. Apalagi pas kami dateng itu, bapak udah ada batuknya meski dikit. Alhamdulillah waktu di akhir Juni itu kasus COVID-19 nya belum serame pas di bulan Juli (meski konsisten naik terus ya), jadi hasil swab pun masih bisa diterima relatif lebih cepat. Suami juga masih sempat beli avigan untungnya karena setelah itu antivirus bener-bener susah didapet ,kalaupun ada harganya udah mehol bangeeeett. Meski menurut saya waktu beli avigan 1 boks itu aja harus ngeluarin uang 3 juta hiksss tapi gimana lagi demi kesehatan keluarga. Besoknya keluarlah hasil swabnya dan ternyata bapak positif, sedangkan adik ipar serta rewang negatif semua. Alhasil, adik ipar diungsikan dulu ke apartemen studionya karena rumah depan dan rumah belakang (kebetulan rumah mertua itu dua rumah dijebol jadi satu) sudah "terkontaminasi", sedangkan mbak rewang punya kamar sendiri di lantai atas jadi masih relatif aman.

Saya dan suami sempat nengokin adik ipar ke apartemennya di hari Kamis kalau nggak salah. Malem Kamis itu, suami mulai batuk-batuk. Jujur saya mulai curiga dan merasa nggak aman wkwk. Pas suami batuk, saya tutupin diri saya pake selimut πŸ˜‚ Sebenernya suami sering batuk, utamanya kalau malam kan dingin, dia punya alergi gitu. Tapi ya gimana kondisi suami kan juga resiko tinggi karena tiap hari nangani pasien COVID-19, jadi saya curiganya ke arah situ. Pas Hari Jumat, adik ipar mulai ngeluh badan nggak enak dan batuk, suami pun batuknya juga lebih sering. Waduhh...adik ipar akhirnya berangkat swab sendiri, saya dan suami juga pergi swab di Hari Sabtu. Jeng jeng jeng..hasilnya adalah mereka berdua positif tapi saya negatif! Alhamdulillah sih iya yaa..tapi saya waktu itu kepikiran banget karena semuanya positif. Suami akhirnya ngungsi sekalian ke rumah mertua karena kebetulan ada 1 kamar kosong di rumah belakang dan biar dia bisa ngawasin orang rumah sekalian, sedangkan adik ipar tetep di apartemen. Saya sendiri tetep stay isoman di apartemen selama kurang lebih seminggu untuk memastikan saya bener-bener nggak ada gejala. Baru setelah itu sama suami diijinin tinggal di rumah nenek (tempat keluarga saya tinggal juga) selama seminggu sambil nunggu suami dan keluarga sembuh total. 

Suami awalnya pede dia bakal pulang cepet karena nganggep gejalanya bakal ringan kayak pas dia positif tahun 2020 lalu. Ternyata oh ternyata dia tepar banget, gejala covidnya keluar semua mulai dari demam tinggi sampai anosmia. Bersyukurnya dia nggak harus berjuang di RS ya waktu itu, karena di RS pun serem banget...orang meninggal udah kayak pindang dijejer-jejer 😭 Buat yang tinggal di Indonesia waktu itu pasti tau lah ya gimana chaosnya keadaan. Hampir tiap hari ada berita duka di grup-grup WA dari orang terdekat kita, orang-orang kebingungan cari tabung oksigen, nelpon ke RS udah penuh dimana-mana nggak ada yang bisa nerima...It was a real nightmare! Saya yang nggak sakit aja pas itu ngerasa anxiety parah, lumayan stres karena kepikiran semua orang positif. Tiap hari saya kepikiran apa saya juga bawa virus ya,jadi takut kalau mau ke rumah nenek. Waktu saya ngukur nadi angkanya aja tinggi banget wkwk, bahkan saya aja bisa ndenger detak jantung ini degupnya kenceng sekali yaa. Ketakutan saya toh juga nggak terbukti karena selama saya di rumah nenek alhamdulillah saya dan semuanya sehat-sehat aja. Tapi saya emang selalu pake masker pas di rumah, bahkan waktu tidur pun saya pake daripada kenapa-napa. 

Di tengah-tengah periode keluarga isoman itu juga ada hari-hari yang bikin hati mencelos. Nenek suami akhirnya meninggal dunia karena saturasinya terus menurun. 😭 Padahal selama ini beliau termasuk sehat, nggak ada sakit yang gimana gitu palingan cuma stroke ringan. Tapi gimana lagi beliau juga sudah tua dan varian Delta ini kan memang ganas ya... Setelah kabar duka itu besokannya atau luasanya atau beberapa hari setelahnya (saya lupa) suami tiba-tiba ngechat saya dengan emoji nangis-nangis, katanya saturasi bapak tiba-tiba turun. Menurut pengalamannya dia selama ini ngerawat pasien COVID-19 dengan komorbid, kemungkinan bisa balik normal itu kecil. Dia ngerasa kayak hopeless gitu...πŸ˜– Waktu itu diputuskan bapak langsung dibawa ke RSUD Soetomo sebelum keadaan makin memburuk. Sebenernya secara klinis kondisi bapak waktu itu kayak nggak ada apa-apa karena kesadaran juga masih penuh. Tapi ya sebelum itu menjadi lebih buruk, suami pingin mantau lebih ketat dengan fasilitas yang ada di RS plus bisa mantau pemberian oksigen juga. Padahal, kondisi suami waktu itu juga belum sembuh bener, tapi dia maksain buat ngerawat bapak sendiri di IGD RS. Qadarullah, perkembangan bapak di RS selama setengah hari hasilnya positif. Saturasinya membaik dan nggak ada keluhan lain sehingga suami mutusin buat pulang aja karena percuma di RS nggak ada kamar. Yang penting situasinya sudah aman terkendali. Alhamdulillah setelah itu bapak nggak ada keluhan lagi dan semuanya sehat seperti sedia kala...πŸ™

Begitulah cerita sedikit tentang drama per-covid-an yang qadarullah sampai sekarang pun belum selesai ya..sekarang Indonesia lagi masuk gelombang ketiga dengan varian Omicron. Orang-orang terdekat saya sudah mulai banyak yang positif lagi. Tapi alhamdulillah kali ini katanya mortalitasnya lebih rendah daripada varian Delta. Meski begitu, kita nggak boleh lengah karena info dari suami RS Soetomo pun sekarang sudah penuh. Tetep COVID-19 ini fatal buat lansia dan yang berkomorbid, meski sudah 2x divaksin. Pantes aja ya waktu om saya kena covid di bulan Maret 2021 itu sampek gagal napas (another drama), karena waktu itu belum ada vaksin buat masyarakat umum. Nggak ada habisnya lah kalau ngomongin covid hehe...Hanya bisa berdoa dan bersabar semoga wabah ini diangkat oleh Allah dan kita semua diberi kesehatan serta umur panjang yang berkah aamiin ya Allah ya Mujiib πŸ™